Pagi hari, waktu yang paling tepat untuk memulai hari dengan mengaji bersama. Dengan keheningan pagi, kita menemukan ketenangan dan kekuatan untuk menghadapi hari yang baru.
Itulah jadwal kegiatan Bapak/Ibu guru SD Islam Hidayatullah 02 setiap pagi. Ya, mengaji. Pak Kambali, selaku Kepala Sekolah, meminta Bapak/Ibu guru dan karyawan non-guru untuk bersama-sama membaca Al-Qur’an di setiap ruangan yang ada di SDIH 02. Mengaji biasanya dilaksanakan pada pukul 06.30 hingga selesai.
Sebelumnya, sudah selesai mengkhatamkan di ruang kelas 1, 2, dan 3. Dan sekarang, dilanjutkan di ruang Kepala Sekolah. Membaca Al-Qur’an di sekolah merupakan upaya untuk mengisi setiap ruangan dengan keberkahan dan kebaikan. Sehingga, membawa manfaat bagi semua warga sekolah.
Berbeda dengan sebelumnya, pagi ini, setelah mengaji dilanjutkan dengan membahas apa saja yang diperlukan untuk kegiatan pesantren Ramadan dan buka bersama. Karena kegiatan ini akan dilaksanakan keesokan harinya, pagi ini diupayakan untuk mematangkan semua persiapan dan memastikan kegiatan berjalan lancar.
Diskusi berlangsung dengan lancar dan produktif, sehingga waktu terasa berlalu begitu cepat. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 06.57. Pertanda bel masuk akan segera berbunyi.
“Mohon maaf, Pak Kambali, sudah pukul 06.57, sebentar lagi anak-anak masuk,” sela Bu Indah mengingatkan.
“Masyaallah, tak terasa, cepat sekali. Silakan, Ibu-Ibu bisa salah satu mendampingi anak berbaris dan berdoa. Yang lainnya, bisa melanjutkan di sini dulu,” utus Pak Kambali.
Saat itu, saya, Bu Eva, dan Bu Indah menuju kelas masing-masing untuk mendampingi anak-anak. Setelah saya sampai di lantai 2, di selasar sepi, tidak ada anak bermain maupun berbaris. Saya masuk kelas, sebagian mereka ada yang duduk di karpet, ada juga yang sedang beres-beres menaruh tasnya di loker.
“Ayo, Teman-Teman, baris dulu!” pinta saya.
“Sudah baris, Bu,” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, ayo kita berdoa.”
“Sudah berdoa juga, Bu,” sahut mereka serempak.
“Oh, ya? Siapa yang mengajak baris dan baca doa?” tanya saya.
“Kita semua lah, Bu. Kalau ada bel, ya, langsung saja baris dan berdoa,” sahut Qaleed.
“Wah, masyaallah, keren sekali, Teman-Teman,” puji saya. “Tadi saat baca doa tertib atau tidak?” tanya saya.
“Tertib, Bu.” jawab mereka.
“Alhamdulillah, terima kasih, Teman-Teman. Mohon maaf, Bu Puput terlambat, karena tadi rapat sebentar di ruang Pak Kambali.”
Siapa yang tidak takjub? Tidak ada yang meminta, mereka berbaris dan memulai doa atas inisiatif mereka sendiri. Ternyata, anak-anak sudah terbiasa dengan kebiasaan baik di sekolah. Sehingga, ada atau tidaknya Bapak/Ibu Guru, mereka akan tetap melaksanakan kegiatan sebagaimana biasanya.
Baca juga: https: Terkesima
