Senin (10/08/2026), bakda asar, saya mengirim sebuah foto. Disertai takarir yang cukup panjang. Isinya tentang imbauan kepada wali kelas untuk memberikan penguatan kepada murid-murid tentang adab saat di ruang kreatif.

Sejak awal tahun ajaran ini, salah satu ruang kelas di lantai 1 difungsikan sebagai ruang kreatif. Di dalamnya terdapat berbagai jenis mainan. Murid-murid dapat memanfaatkan fasilitas di ruang kreatif tersebut ketika jam istirahat atau selepas jam sekolah sembari menunggu dijemput.

Saya mengirimkan pesan tersebut ke grup Sekolah. Ketika mengirim foto dan takarir tersebut, ada perasaan kecewa, marah, sekaligus penyesalan dalam diri saya. Tak hanya itu, berbagai prasangka juga merasuki pikiran.

Perasaan-perasaan negatif itu membuat saya tak ingin berdamai. Saya buka IPad. Saya ketuk ikon CCTV. Layar saya gulirkan hingga telunjuk saya berhenti pada bilah yang bertuliskan LT.1.R.KREASI.

Saya geser bilah penunjuk waktu. Saya posisikan pada jam kepulangan anak-anak. Saya amati dengan saksama. Tampak sebagian anak dari kelas 5, 4, dan 2 sedang bermain. Ada yang bermain kuda-kudaan, puzzle, ular tangga, congklak, dan susun balok. Saya percepat tempo videonya.

Beberapa saat kemudian, saya temukan yang saya cari. Cemara dan Itaf tampak sedang memainkan permainan ular tangga. Namun, usai bermain, hanya Cemara yang membereskan mainan tersebut. Di meja lain, tampak Fillio sedang bermain susun balok. Ia lantas meninggalkan meja itu tanpa membereskan mainannya terlebih dahulu. Di sudut lain, terlihat beberapa murid kelas 4 yang bermain kuda-kudaan. Tak lama kemudian, mereka meninggalkan mainan itu tergeletak begitu saja.

Saya rekam video itu. Juga saya buat beberapa tangkapan layar. IPad saya kemas. Saya pun pulang. Di perjalanan, beberapa opsi tindak lanjut bergelayut di pikiran saya. Akhirnya, saya putuskan sebuah tindak lanjut.

“Bu Oni, besok jam pertama, saya minta izin (masuk) ke kelas, njih, Bu.”

Saat mengirimkan pesan tersebut, pikiran dan hati saya sudah dalam kondisi netral.

Pesan itu terkirim pukul 17.57. Satu menit kemudian, Bu Oni membalas pesan saya, “Njih, Bu Wiwik.”

***

Pukul 07.05 saya keluar dari ruangan saya. Menuju lantai 3. Di selasar lantai 3, saya jumpai tiga anak yang datang terlambat. Saya ajak ketiganya berdoa bersama.

“Besok pagi, diusahakan datang lebih awal, ya, Nak.”

Ketiga anak itu mengangguk lalu salim dan masuk ke kelas masing-masing.

Sayup-sayup, saya mendengar lantunan ayat Al-Qur’an dari dalam kelas. Anak-anak masih tahfiz pagi. Lima menit berselang, saya masuk ke kelas 4. Anak-anak membentuk tiga ḥalaqah. Bu Artika, Bu Oni, dan Ustaz Aruf memimpin tiap-tiap ḥalaqah. Para guru mengecek satu per satu hafalan anak-anak.

Bel berbunyi. Ustaz Aruf menyudahi tahfiz pagi dengan salam. Beliau lantas pamit meninggalkan ruang kelas 4. Saya meminta izin kepada Bu Oni dan Bu Artika untuk berdiskusi sebentar dengan anak-anak. Saya pun memberi isyarat kepada Bu Oni untuk menghidupkan proyektor dan menurunkan layarnya.

“Teman-Teman, Bu Wiwik hendak memperlihatkan sesuatu.”

Anak-anak tampak penasaran. Sebuah tangkapan layar tertayang.

 

“Ada yang hendak disampaikan tentang foto tersebut?” tanya saya.

Gibran mengangkat tangannya, “Ruang kreatif berantakan, Bu!” serunya.

“Ada lagi?” tanya saya. Pandangan saya menyapu semua anak yang tengah duduk di karpet.

Hening sejenak.

Shello mengangkat tangannya. Hati saya berdesir. Terselip rasa syukur.

Saya persilakan Shello berbicara.

“Kemarin siang, saya, Alisha, Aya, dan Shafira bermain kuda-kudaan, Bu. Lalu ada panggilan dari Pak Har. Saya dan teman-teman sudah dijemput. Tetapi belum mengembalikan mainannya,” jelas Shello.

Saya tersenyum.

“Alhamdulillah. Terima kasih, Mbak Shello sudah bersedia jujur. Apakah ceritanya seperti yang Mbak Shello sampaikan? Atau ada yang hendak direvisi?” tanya saya sembari mencari ketiga anak yang disebutkan Shello.

Ketiganya tidak menyangkal.

“Baik. Bu Wiwik yakin, Anak-Anak sudah tahu sebaiknya bagaimana. Tidak perlu Bu Wiwik jelaskan lagi, ya?”

“Kemarin adik kelas juga ada yang bermain dan mainannya tidak dibereskan, Bu,” jelas Elora.

“Iya, Mbak. Insyaallah, nanti Bu Wiwik juga akan ke kelas 2. Sekaligus, Bapak/Ibu Guru titip pesan kepada anak-anak semua. Kalau ada adik kelas yang belum merapikan mainan, tolong diingatkan dan dibantu, ya. Sekarang ini, semua mainan Bu Wiwik pindahkan ke ruangan Bu Wiwik dulu. Mainan-mainan tersebut perlu disortir karena tercampur.”

Anak-anak menyepakatinya. Saya pun mengakhiri diskusi. Saya lantas menuju ke kelas 5.

“Anak-Anak, Bu Wiwik minta waktunya sebentar. Kemarin, sepulang sekolah, apakah ada yang bermain di ruang kreatif.”

Ridho tanggap. “Kemarin Itaf dan Cemara main puzzle.”

“Iya, Bu. Tapi Cemara sudah membereskan mainannya lagi,” respons Itaf.

“Seharusnya?” pancing saya.

Itaf tersipu.

“Ada lagi?”

Senyap. Cukup lama.

“Sebenarnya ada satu hal lagi.”

Hening

“Oke. Kemarin, di atas meja lingkaran kuning, masih ada mainan yang belum dibereskan.”

“Oh, itu yang main Fillio,” jawab Itaf.

“Betul, Mas Fi?”

Fillio mengangguk.

“Baik. Bu Wiwik yakin Anak-Anak sudah paham mestinya bagaimana.”

Anak-anak tampak asyik dengan kegiatan mereka—mewarnai. Saya pamit kepada anak-anak dan Bu Ni’mah.

Saya turun lewat tangga utara. Menuju kelas 2 di lantai 2.

Saya mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Bu Yunita tampak sedang berdiskusi dengan anak-anak. Saya meminta izin untuk berbicara.

“Teman-Teman, kemarin sore, Bu Wiwik melihat ruang kreatif berantakan. Beberapa mainan juga tercampur. Ada pula sebagian yang tercecer dan hilang. Apakah ada yang tahu?”

“Iya, Bu. Bola bolingnya hilang,” tutur Hafidz.

“Saya pernah mengumpulkan biji congklak, Bu,” jelas Kama.

“Masyaallah. Terima kasih, Mas Kama. Iya, kemarin Bu Wiwik mencari biji congklak tidak ketemu.”

“Saya tahu, Bu. Ada di keranjang,” seru Hafidz.

“Seharusnya tidak di keranjang. Coba Anak-Anak lihat ini,” pandu saya sembari menayangkan foto ruang kreatif.

“Biji congklak seharusnya di rak ini,” jelas saya sembari menunjuk rak yang saya maksud.

“Itu CCTV!” seru salah seorang murid.

“Anak-Anak, coba lihat ini,” tunjuk saya. “Sebelumnya, di sini ada anak kelas 2 yang memainkan permainan ini.”

“Iya, Bu. Kemarin Abee main di situ. Sama Vino,” seru Fahmi.

“Tapi yang terakhir Abee. Aku ….”

“Kok, aku?” sela saya.

“Saya. Saya keluar ruangan tapi Abee masih main,” jelas Vino.

Saya melirik Abee. Ia tampak merasa bersalah. Saya mengonfirmasi kepada Abee. Ia pun mengiakan.

“Bu Wiwik juga melihat dari CCTV kalau Mas Abee juga duduk di atas meja.”

Abee tersipu.

“Jangan diulangi, ya, Mas Abee. Teman-Teman juga jangan meniru, ya.”

“Baik. Nanti, saat istirahat atau selepas jam sekolah, Bu Wiwik minta tolong dicarikan bola boling yang hilang, ya. Kemarin Bu Wiwik cari belum ketemu.”

Setelah memberikan penguatan, saya pamit.

***

Saya tenggelam dalam pekerjaan di depan laptop. Menjelang bel masuk istirahat pertama, tampak seorang guru dan beberapa murid di depan pintu ruangan saya.

“Asalamualaikum.”

Wa’alaikumus-salām.”

Bu Yunita masuk. Beberapa anak mengekor.

“Bu Wiwik, ini bola bolingnya ketemu,” ucap Vino mendekati meja saya seraya menyerahkan sebuah bola kecil berbahan stainless.

Bu Yunita membiarkan murid-muridnya yang berbicara. Kami saling beradu pandang.

“Alhamdulillah. Ketemu di mana, Mas Vino?”

“Di bawah rak, Bu.”

“Kalau ini di dalam boks, Bu. Tadi juga ada yang tercecer lalu kita kumpulin,” jelas Hafidz penuh semangat. Ia menunjukkan biji congklak yang sebelumnya sempat terbahas di kelas.

“Kita sudah merapikan ruang kreatif, Bu,” unjuk Sasya.

“Waaah, masyaallah. Bu Wiwik senaaang sekali. Terima kasih, ya, Teman-Teman.”

“Sama-sama, Bu,” jawab anak-anak sembari pamit.

Makasih, Bu Yunita.”

Sami-sami, Bu Wiwik.”

Saya sangat terkesan atas kesungguhan anak-anak dan Bu Yunita. Mereka sengaja menyisihkan sebagian waktu istirahat mereka untuk membereskan ruang kreatif.

Tak hanya Bu Yunita dan para murid kelas 2. Beberapa murid dari kelas 4 juga menunjukkan kepedulian tingkat tinggi. Fathir, Shello, Icha, Keenan, Shafira, dan Kinan mendatangi saya ketika istirahat kedua. Mereka menawarkan diri untuk menyortir mainan yang tercampur. Tentu saja, dengan senang hati saya mempersilakan.

Benar-benar melampaui ekspektasi!

Ruang kreatif yang sempat berantakan itu menjelma menjadi laboratorium karakter bagi anak-anak. Kembali, saya belajar dari para guru kecil saya.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code