“Emmer, pagi hari gabut katanya, dan pergi ke kantor guru BAQ. Ia meminta saya menyimak mengajinya (pada) jilid 3.”
Selasa pagi (03/03/2026), Bu Naim mengirim catatan tersebut di grup telegram Daily Activity Kelas 1. Pagi berikutnya, saat saya tiba di Sekoah, Emmer menyambut saya di pintu lobi.
“Assalamu’alaikum, Mbak Emmer. Masyaallah, datangnya pagi sekali. Kakak mana?”
Emmer menjawab salam saya sembari salim.
“Kakak di kelasnya.”
“Bu Wiwik, tadi malam saya belajar mengaji halaman 39. Ternyata susah, lo, Bu,” jelas Emmer.
Saya sengaja memperlambat langkah.
“O, ya? Habis ini, Emmer mau ngapain?” pancing saya.
“Saya gabut, Bu,” jawab Emmer.
“Gabut itu apa, Nak?”
“Gabut itu, ya, nggak ada kerjaan, Bu,” terang Emmer.
“Kalau gitu, sini, Emmer ngobrol sama Bu Wiwik,” ajak saya.
Saya arahkan Emmer untuk duduk di kursi hadap di depan meja saya. Saya mengeluarkan laptop, pengisi daya, dan mouse dari dalam tas. Emmer mengamati apa yang saya kerjakan.
“Emmer sudah mau tes, ya? Tinggal satu halaman lagi?”
“Enggak, Bu. Saya baru sampai halaman 26.”
“Kok, semalam belajarnya halaman 39?”
“He-he. Saya pengin aja, Bu.”
“Memangnya, halaman 39 sesusah apa, sih?”
“Saya ambilkan buku ngaji saya dulu, ya, Bu.”
“Oke!” jawab saya sembari tersenyum.
Senyum kemenangan. Saya berhasil menggiring Emmer untuk mengisi kegabutannya dengan kegiatan yang bermanfaat. Berbekal catatan dari Bu Naim di awal tulisan ini.
Emmer kembali ke ruangan saya. Ia lantas duduk di kursi yang sama yang tadi ia tinggalkan. Emmer lalu membuka buku ngajinya.
“Ini, lo, Bu. Susah, kan? Panjang-panjang lagi (kalimatnya).”
“Coba Emmer baca baris pertama,” pinta saya.
Emmer membaca dengan terbata. Namun cukup lancar.
“Masyaallah. Itu Mbak Emmer sudah bisa. Padahal aslinya, kan, masih halaman 26. Tapi sudah bisa membaca halaman 39. Itu keren, lo.”
Emmer tersipu.
Baca juga: Lulus Tes
“Sekarang coba dibaca halaman 26-nya.”
Emmer mendaras jilidnya sesuai halaman yang saya minta. Kali ini ia membacanya dengan sangat lancar.
Gadis kecil itu tersipu saat saya memuji kelancaran membacanya.
Setelah mengaji dengan Bu Naim, belakangan saya ketahui di Daily Activity kelas 1, Bu Yeni juga menuliskan bahwa Emmer mendaras jilidnya lagi di kelas. Saya sangat bersyukur. Emmer mengaji dengan bahagia. Atas kemauannya sendiri. Dan ia telah membuktikannya beberapa kali. Semoga slogan “mudah, menyenangkan, menyentuh hati” dari UMMI senantiasa terkawal dan mengakar.
