“Loh, kok langsung bisa?” tanya saya dengan keheranan.
***
Selasa, (27/05/2025). Suasana padat mulai menyelimuti setiap sudut jalan yang saya lalui saat berangkat ke sekolah. Kendaraan beroda dua dan empat silih berganti menemani perjalanan saya. Tibalah saya di sekolah. Mesin perekam sidik jari menunjukkan pukul 06.42. Saya tempelkan jempol saya di mesin itu.
“Ok, sudah scan,” respons mesin perekam sidik jari.
Saya segera masuk ke dalam gedung sekolah. Sebelum masuk, saya disambut oleh Bapak/Ibu Guru dan murid yang bertugas piket penyambutan di depan lobi. Pemandangan anak-anak yang berangkat sekolah menambah semangat saya di hari itu.
Setelah tahfiz pagi, jadwal saya BAQ kelas 1 di ruang sebelah selatan ruang kelas 3. Tidak menunggu lama, saya segera menuju ke sana. Anak-anak kelompok saya pun mulai menyusul. Hingga akhirnya sudah full squad. Saya mulai pelajaran BAQ. Semua berjalan lancar hingga akhirnya sampai pada tahap evaluasi. Saya awali dengan mengevaluasi beberapa anak yang capaiannya homogen: jilid 6. Kemudian saya lanjutkan ke anak-anak yang capaiannya heterogen: jilid 5, 4, dan 3.
Sembari menunggu giliran dievaluasi, anak-anak yang capaiannya heterogen saya kasih tugas untuk mendaras halamannya masing-masing. Jika sudah, dilanjutkan menyimak bacaan anak yang sedang dievaluasi.
Anak-anak jilid 6 sudah dievaluasi. Saya lanjutkan ke anak yang jilid 5: Kaisar.
“Sekarang gilirannya Kaisar, silakan, Nak,” ujar saya.
Kaisar melantunkan taawuz dan basmalah. Sebelum membaca halamannya, saya berniat akan menjelaskan terlebih dahulu materi pada halaman tersebut. Tetapi Kaisar menyerobotnya dengan langsung membaca halaman itu.
“Duh, keduluan Kaisar,” batin saya.
“Loh, kok sudah bisa? Siapa yang mengajari cara membaca halaman itu?” batin saya.
Saya penasaran.
“Kaisar kok sudah bisa? Siapa yang mengajari?” tanya saya.
“Em, … dahulu, waktu Ustaz menerangkan teman-teman yang sekarang sudah jilid 6, saya mendengarkan dan memperhatikan materi itu, jadinya sekarang saya tahu cara membacanya,” jawab anak polos itu.
Tidak disangka-sangka. Ternyata Kaisar mengamati. Mendengarkan. Memperhatikan. Walaupun Kaisar belum mencapai materi itu, belum membutuhkan materi itu pada waktu itu, tetapi ia tetap memperhatikannya dengan saksama. Hasilnya: Kaisar mendapatkan bekal pemahaman. Sehingga, saat ini Kaisar mendapat kemudahan ketika menghadapi materi itu.
