“Mas Ano, besok tes ngaji, ya,” kata saya sambil tersenyum.
“Serius, Bu?” sahutnya dengan mata berbinar.
“Insyaallah, ya. Bu Eva sudah bilang sama Ustazah.”
“Ye!” wajahnya berseri-seri.
Tes mengaji memang selalu dinanti oleh anak-anak. Kenaikan jilid bukan hanya sekadar pencapaian, melainkan penambah semangat dalam belajar.
Namun, hasil tes pertama Ano menunjukkan bahwa ia perlu remedi.
Selang beberapa hari ia mencoba lagi. Namun, hasilnya masih sama. Beberapa halaman masih perlu diperbaiki.
Ano adalah anak yang penuh semangat saat mengaji. Suaranya lantang dan bacaannya lancar saat bersama saya. Mungkin saat tes, ia kurang fokus.
Setelah remedi kedua, Ano tampak berkecil hati. Saya mengajak teman-teman sekelompok untuk menyemangatinya. Alhamdulillah, semangatnya kembali.
Beberapa hari kemudian, saya mengajukan tes ulang untuk Ano.
Selesai tes, saya bacakan hasilnya.
“Mas Ano, ini masih ada beberapa catatan,” kata saya.
Wajahnya langsung berubah, tampak sedih.
“Remedi lagi, Bu?”
Saya tersenyum dan berujar, “Alhamdulillah, Mas Ano naik jilid 4.”
“Alhamdulillah. Akhirnya lulus. Saya nggak remedi lagi, Bu?”
Saya menggelengkan kepala.
Ano tampak sangat bersemangat. Mengajinya makin giat.
Ano mengajarkan kita bahwa kegigihan dan semangat pantang menyerah akan membuahkan hasil yang indah. Meskipun menghadapi rintangan dan kegagalan, dengan dukungan dari orang-orang di sekitarnya dan tekad yang kuat, Ano berhasil mencapai tujuannya. Semoga kita semua dapat meneladani semangat Ano dalam menghadapi tantangan kehidupan.
