“Bu, hari ini kita nemenin adik TK lagi, gak?” tanya Deva, sembari memegang benda-benda di atas meja saya.
Pagi itu, saya sedang mengamati murid-murid kelas 3 yang mulai berdatangan. Mereka menghampiri saya satu per satu. Kemudian mengajak salim. Lalu menata buku di laci masing-masing. Kebetulan, hari ini Deva dan Fillio tiba di kelas lebih awal. Saya pun malu. Karena kalah gasik.
“Hari ini kita istirahat dulu. Adik TK ditemani kelas 2,” jawab saya sembari tersenyum.
“Yah …,” seru Deva dan Fillio kompak. Seketika ekspresi mereka berubah—dari ceria menjadi kecewa.
“Lo? Kalian sedih?” tanya saya heran.
“Iya, Bu,” sahut Deva cepat. “Seru, lo, Bu, nemenin adik TK,” tambahnya penuh semangat.
Saya terdiam sejenak. Hah? Jangan-jangan dugaan saya selama ini keliru? Saya pikir mereka mulai jenuh. Atau bahkan merasa terbebani? Tapi dari raut wajah dan nada bicara mereka tampak antusiasme.
Pikiran saya mulai berputar. Mencoba mengingat kembali semua percakapan dan keluhan yang pernah muncul selama beberapa hari terakhir.
Sejak Rabu, 30 April 2025, SD Islam Hidayatullah 02 mengadakan kegiatan Fun Class untuk anak TK. Kegiatannya cukup menarik. Mulai dari penjemputan ke TK, penyambutan di SDIH 02, school tour, games, dan merangkai puzzle. Anak-anak kelas 3 diberi amanah baru: membersamai adik-adik TK merangkai puzzle.
Hari pertama berjalan tidak semulus yang dibayangkan. Melebihi dugaan awal. Kegiatan yang direncanakan berlangsung 30 menit justru molor hingga hampir satu jam. Kelompok putri tampak menikmati kegiatan itu. Sementara, kelompok putra tampak tegang. Pasalnya, beberapa potongan puzzle hilang. Lebih tepatnya, bercampur dengan kelompok lain. Karena duduknya yang bersebelahan. Ada juga beberapa kelompok yang tak kunjung selesai karena kebingungan.
Beberapa hari berlalu. Anak-anak mulai mengeluh. Katanya, mereka sudah mulai malas membersamai adik TK. Awalnya, saya kira mereka bosan. Tapi setelah digali lebih dalam, ternyata bukan itu penyebabnya.
“Puzzle-nya susah, Bu. Aku sampe bingung nyusunnya,” kata salah satu dari mereka.
“Ah, bosen, Bu,” jawab seorang anak lainnya.
“Males, Bu,” timpal seorang anak lagi.
Namun, di antara keluhan itu, ada juga yang menyampaikan, “Seneng, Bu. Soalnya gak adikku sendiri. Kalau adikku, nanti saya gak sabar. He-he,” ujarnya sembari terkekeh.
Kebetulan pada hari Rabu (7/5/2025), murid kelas 3 berkegiatan belajar di luar sekolah. Dan kegiatan Fun Class harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Maka adik-adik TK didampingi murid kelas 2. Begitu pula pada hari Kamis. Hal ini juga bermaksud memberi ruang kepada murid kelas 3.
Tetapi, ternyata …di luar perkiraan! Anak-anak justru menanyakannya.
Saya tersenyum mengingat momen itu. Mungkin, bukan malas yang mereka rasakan—tapi frustasi. Sebuah emosi yang belum mereka pahami dan belum bisa diungkapkan dengan tepat. Namun, di balik itu, ternyata ada semangat dan kepedulian yang perlahan tumbuh. Mungkin mereka belum bisa menyusun puzzle dengan baik. Namun, mereka sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih penting: kesabaran, tanggung jawab, dan hadir untuk adik-adiknya.
