Duh, hanya tiga anak yang lulus! Adakah ini indikasi kegagalan? Atau seperti dulu: saya yang kurang sabar?
Apa pun itu, saya tetap merasa perlu mengajak diskusi dan membuka kesempatan bagi teman-teman untuk mengevaluasinya.
Kamis (24/04/2025) menjelang asar saya di ruang TU. Acara rutin. Membaca Al-Qur’an. Hanya sebentar, 10 hingga 15 menit. Pesertanya pun tidak semua pengabdi. Hanya yang memenuhi kriteria saja. Saat itu diikuti oleh lima pengabdi: saya, Bu Shoffa, Pak Adhit, Bu Wiwik, dan Pak Aruf.
Usai membaca Al-Qur’an, saya mengawali pembicaraan tentang cek salat murid kelas 1. Sembari menunggu asar tiba.
“Cek salatnya sudah selesai, Bu Wiwik?” tanya saya. Sebetulnya saya sudah tahu. Data tertulis sudah disampaikan kepada saya beberapa hari sebelumnya. Namun, pertanyaan itu tetap saya lontarkan. Untuk memulai diskusi.
“Sampun, Pak.”
“Ada yang lulus napa mboten, Bu?”
“Ada, Pak.”
“Berapa anak?”
“Tiga anak.”
“Tiga dari 32 anak, ya? Cuma sedikit, ya?”
Senyap. Teman-teman tak ada yang menjawab atau sekadar mengomentarinya. Saya memahaminya.
“Dengan hasil seperti ini, Teman-Teman tak perlu ragu jika hendak menggunakan cara lain atau kembali ke cara sebelumnya,” jelas saya.
“Kata Pak Aruf hasilnya lebih bagus, Pak Kambali,” timpal Pak Adhit.
“Dengan kelas 2 hampir sama jumlah anak yang lulus,” jawab saya.
“Tapi kalau kelas 1, kan, belum ada satu tahun, Pak Kambali. Sedangkah kelas 2 setelah satu tahun lebih,” terang Pak Aruf.
“Oh, iya, ya!” seru saya.
“Kesalahan anak yang saya uji dikarenakan lupa, Pak Kambali. Bukan karena terbalik-balik,” imbuh Bu Shoffa.
“Artinya, cara yang kita jalankan tahun ini tetap masih lebih baik dari sebelumnya?” tegas saya.
“Setidaknya anak-anak terbiasa mendengar bacaan yang benar. Bukan sekadar sesuai tangkapan pendengaran mereka, yang berisiko salah dengar lalu salah ucap,” ungkap Bu Wiwik.
“Bila demikian, cara ini tetap kita lanjutkan untuk murid-murid berikutnya. Dan dalam waktu dekat ini, kita perlu menindaklanjuti hasil pengecekan salat. Insyaallah akan kita bahas di kesempatan lain,” ucap saya, menyudahi pembicaraan itu. Segera jemaah Asar.
Plong rasanya. Evaluasi berjalan dengan melibatkan pihak-pihak terkait.
Demikianlah, berkali-kali saya merasakan kenyamanan ketika bermusyawarah. Makin menguatkan kebenaran Al-Qur’an, yang salah satunya memerintahkan bermusyawarah.
Rasanya, saya memang masih kurang sabar. Tergesa-gesa ingin melihat hasil. Padahal pendidikan itu proses. Butuh waktu yang tidak sebentar. Bahkan kewajiban belajar itu sepanjang hayat. Dari sejak buaian hingga liang lahad. (A1)
