Lengkap. Tak ada yang absen. Walaupun hari libur, teman-teman tetap berkenan masuk sekolah. Rupanya, hari libur bukanlah halangan bagi teman-teman untuk memenuhi permohonan saya.
Pukul 07.30 semua telah hadir. Kami berkumpul di ruang waka. Berdesak-desakan. Namun, masih cukup untuk ditempati seluruh pengabdi. Tentu dengan mengubah posisi meja kursi dari situasi normal. Pun kami duduk lesehan.
Kegiatan hari itu diawali dengan membaca Al-Qur’an. Dalam waktu sekitar 15 menit, kami membaca sebanyak 62 halaman. Sebanyak 62 halaman itu tidak dibaca oleh satu orang. Pak Aruf membaginya. Kepada seluruh pengabdi yang hadir dan tidak sedang uzur. Ada yang kebagian 4 halaman, ada pula yang lebih/kurang dari 4 halaman. Disesuaikan dengan kemampuannya.
Usai membaca Al-Qur’an, saya memberi tahu, teman-teman akan saya ajak untuk sowan Pak Haris (Direktur LPI Hidayatullah periode 2021—2023). Rumah beliau berjarak kira-kira 3 km dari SD 02.
Rabu (09/04/2025) itu kebetulan bersesuaian dengan 10 Syawal 1446 H. Jadi, masih suasana Lebaran. Kehadiran kami tentu akan berpeluang terbaca sebagai silaturahmi Lebaran. Dan itu tak masalah. Yang terpenting, tujuan tercapai.
Pukul 08.30 kami berangkat dari SD 02. Tiba di rumah Pak Haris, saya langsung kepikiran. Saya sudah cukup lama tidak bertemu dengan Pak Haris. Kalau tidak dibatasi, kemungkinan pembicaraan saya dengan beliau tak terkendali. Padahal masih ada agenda lanjutan. Untuk mengantisipasinya, saya memaksa diri: tidak boleh melebihi pukul 10.00. Apa pun alasannya. Tak terkecuali, jika sedang membahas topik yang asyik dan menyenangkan.
Sekitar pukul 09.30, alhamdulillah, saya masih ingat dengan batasan saya sendiri. Saya paksa: segera pamit. Sebelum pukul 10.00 kami sudah bisa meninggalkan rumah Pak Haris. Beralih ke tempat lain.
Namun, meski sudah meninggalkan rumah Pak Haris, nasihat beliau masih sangat terngiang di telinga saya.
Saya pikir-pikir, itu sangat pas dengan kondisi yang kami alami. Setidaknya diri saya pribadi.
“Sekarang ini teman-teman SD 02 perlu bersabar. Tidak hanya sabar yang level paling rendah, tetapi dengan meningkatkan level sabar,” pesan Pak Haris.
Apa yang dikehendaki beliau dengan peningkatan level sabar?
Beliau lalu menjelaskan. Sabar itu ada tiga tingkatan. Sabar saat menerima musibah/kesulitan, sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dalam menahan diri dari kemaksiatan.
Level paling rendah, sabar saat menerima musibah/kesulitan. Level tertinggi, sabar dalam menahan diri dari kemaksiatan.
Memang itu terasa menampar saya. Namun, sekaligus saya merasa mendapat arahan, apa yang semestinya dilakukan. Rabu itu saya merasa berhasil meraih tujuan: mengobati rindu berjumpa dengan Pak Haris. Bahkan, saya mendapat pesan yang sangat bermakna bagi saya. Semoga saya dan teman-teman SD 02 dimudahkan menjalankan pesan Pak Haris. (A1)
