Hari itu hari terakhir masuk sekolah sebelum bulan Ramadan tiba. Paginya ada kegiatan Tarhib Ramadan bareng dengan SD Islam Hidayatullah 01. Sayangnya saya tak ikut kegiatan tersebut—saya membimbing kegiatan lain, yaitu kunjungan instansi kelas 1 di PERPUSDA Jawa Tengah.
Pulang dari PERPUSDA, lanjut istirahat sebentar dan KBM BAQ. BAQ selesai, dilanjut salat Zuhur berjemaah dan makan siang. Masih ada satu pelajaran lagi yang harus saya tunaikan, yaitu Al-Qur’an Hadis. Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Saat bel pulang berbunyi saya sejenak bertahan di kelas 1. Bukan apa-apa, saya hanya ingin menikmati perpisahan dengan anak-anak sebelum libur awal Ramadan.
“Tok, tok, tok,” suara ketukan pada pintu kelas.
Bergegas saya buka pintu, dan ucapan salam dilantunkan.
“As-salāmu ‘alaikum,” ucap dua orang guru kompak, dengan kardus cukup besar dibawa salah seorang.
“Wa ‘alaikumus-salām,” jawab saya.
“Pak Adhit, bisa ketemu sebentar?” tanya salah seorang.
“Oh, njih, Bu, bagaimana?” jawab saya sekaligus tanya keperluannya.
“Di sana saja,” jawab Bu Fitri sambil menunjukkan jari ke arah ruang UKS.
Bu Fitri dan Bu Ismi—guru BAQ SD Islam Hidayatullah 01—hendak menemui saya. Saya diminta membagikan donat dari SD Islam Hidayatullah 01 ke seluruh pengabdi SD Islam Hidayatullah 02.
Saya pun membagikan donat itu. Saat saya membagikan donat di ruang kelas 2, dua anak menghampiri saya.
“Ustaz, kita saja yang bagiin,” pinta salah seorang dari keduanya.
“Loh, beneran, mau bantuin?” tanya saya.
“Iya, Ustaz,” tegas salah seorang.
“Masyaallah, … ya, sudah, terima kasih, ya,” jawab saya.
Mereka pun bergegas membagikan donat itu. Mereka adalah Alisha dan Kinan. Waktu sudah menunjukkan jam pulang. Tapi mereka belum dijemput. Mungkin mereka sedang menunggu jemputan dan melihat saya membagikan donat. Sehingga ada inisiatif untuk membantu saya. Saya pun merasa lega. Karena hari itu masih cukup banyak tugas yang harus saya selesaikan. Saya sangat terbantu oleh mereka.
Baca Juga: Ringan Tangan
Keduanya siswi kelas 2. Saya sangat mengenal mereka. Semester lalu, saat masih di gedung lama, mereka anggota kelompok BAQ yang saya ampu.
Inisiatifnya dalam membantu gurunya sangat luar biasa. Memang, waktu sudah menunjukkan jam pulang. Harusnya mereka sudah santai atau bermain. Seandainya sudah dijemput, mereka juga pasti sudah pulang. Kebosanannya menunggu sang penjemput mereka lampiaskan untuk membantu gurunya. Masyaallah, tangan-tangan mungil mereka sudah mereka manfaatkan untuk hal yang bermanfaat.
