Awal semester 2 dimulai. Sepekan pertama ini, terjadwal MPBS. Masa Penguatan Budaya Sekolah. Bu Eva telah menyusun rencana kegiatan untuk kelas 1 dan 2. Sementara kegiatan kelas 3 dan 4 direncanakan oleh Bu Shoffa. Penguatan budaya sekolah, itulah fokus utamanya.

Hari Senin, kegiatan dirancang untuk bersenang-senang. Anak-anak diajak senam bersama dan lomba persahabatan. Kelas 1 dan 2 bergabung. Gabungan tersebut lantas dibagi menjadi empat tim. Begitu pula kelas 3 dan 4.

Lomba persahabatan yang dimainkan adalah bola beracun. Selama kegiatan, anak-anak terlihat menikmati. Meski lantai lapangan basah karena sebelumnya gerimis, hal itu tak menyurutkan semangat anak-anak. Sekitar pukul 9, anak-anak kembali ke Sekolah untuk istirahat dan dilanjutkan salat Duha.

Pada hari ketiga, murid-murid kelas 2 melaksanakan simulasi bertamu. Selain penguatan kepada semua murid, Bu Puput—guru kelas 2—juga menjadwalkan remedial kepada murid-muridnya yang belum tuntas menerapkan SOP adab bertamu. Dari 31 murid kelas 2, terdapat 22 anak yang tuntas praktik adab bertamu.

Beberapa pekan sebelumnya, saya mengirim sebuah tulisan di website Sekolah. Berjudul “Adab Bertamu”. Tautan tulisan tersebut saya kirim di status WhatsApp. Ibunda Hana turut membaca tulisan tersebut melalui tautan yang saya pos.

“Wah, ngeri, nih. Ada 9 (anak) yang ndak lulus, dan Hana cerita, kemarin dia lupa gak ketuk pintu🤦🏻‍♀️. Apakah Hana termasuk yang ndak lulus 🤦🏻‍♀️?” balas bunda Hana pada status WhatsApp saya.

“He-he. Tidak mengapa, Bun. Anak-anak mungkin grogi. Yang penting saat di keseharian, anak-anak berproses untuk menerapkannya😇,” respons saya.

Dan benar saja. Hana dinyatakan lulus tes yang kedua. Setiap tahapan SOP Hana lakukan dengan sangat baik. Tak hanya Hana, Kaisar dan Gabi juga lulus. Masih tersisa enam anak yang belum sempat mengikuti remedial. Oleh sebab keterbatasan waktu. Semoga dapat tertindaklanjuti.

Baca juga: Adab Bertamu

Pada hari terakhir MPBS, giliran murid-murid kelas 4 yang terjadwal tes adab bertamu. Ini merupakan tes perdana bagi mereka. Satu demi satu anak-anak mempraktikkan prosedur bertamu. Mereka memasuki ruangan saya berdasarkan urutan nomor presensi. Saya mencatat hasilnya pada instrumen penilaian yang telah disiapkan.  Dari 28 murid kelas 4, terdapat dua murid yang tidak masuk. Total 22 anak yang dinyatakan lulus. Dengan persentase 84,6%. Sangat membanggakan!

Kebanggaan itu juga masih berbonus. Dari 22 anak yang lulus tes, 8 di antaranya menambah satu prosedur yang tidak diwajibkan. Sebelum pamit keluar ruangan, mereka menyempatkan untuk salim kepada saya.

Saya sangat bersyukur. Teman-teman guru konsisten menguatkan penerapan adab bertamu kepada anak-anak. Bahkan tak hanya guru. Para pegawai TUpun tak ingin ketinggalan. Mereka turut mengawal praktik baik ini. Salah satu kepedulian teman-teman TU terekam di sini: Refleksi.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code