Azan subuh berkumandang. Saya dan teman-teman bergegas bersiap. Kami mengambil wudu secara bergantian. Di kamar mandi kamar kami. Saya, Bu Rias dan Ms. Iin baru saja berpindah ke kamar nomor 32. Sebelumnya, kami bertiga bermalam di kamar nomor 42. Kami merasa kurang nyaman di kamar tersebut. Selain karena letaknya di lantai 3, kamar mandinya juga berada di luar kamar. Hal tersebut cukup menyusahkan kami. Hampir seluruh aktivitas harian dilaksanakan di lantai 1. Bersyukur, pada malam ketiga, kami dapat beralih ke kamar di lantai 1. Bonusnya, kamar tersebut sangat dekat dengan Masjid Al Ijabah.

Kami menuju masjid. Sebagian jemaah sudah berkumpul. Selain 12 personel dari Hidayatullah, ada pula ratusan murid dari SMP Nasional KPS Balikpapan dan puluhan murid dari SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Murid-murid dari kedua sekolah tersebut juga tengah belajar bahasa Inggris. Sama seperti kami. Tak ketinggalan, puluhan tutor pendamping turut mengikuti kegiatan ibadah kala itu.

Anak-anak terlihat masih mengantuk. Sebagian dari mereka tertunduk tidur. Mereka sudah berada di masjid sejak pukul 03.15. Sebelum azan subuh, mereka telah melaksanakan salat Taubat, Tahajud, Hajat, dan Witir.

Setelah mengumandangkan azan, muazin menyampaikan imbauan.

“Please stand up and do qabliyah prayer.”

Murid-murid tampak lesu. Para tutor pendamping membangunkan anak-anak yang tertidur. Maski terlihat terpaksa, anak-anak tersebut tetap mengikuti arahan para tutor. Beberapa saat kemudian, muazin mengumandangkan ikamah. Imam salat memberi arahan kepada para jemaah.

“Please stand on the black line. Move closer and feet to feet.”

Ya, ubin masjid dibuat dengan penuh perhitungan. Terdapat dua warna ubin. Putih dan Hitam. Tiap-tiap ubin putih berukuran kurang lebih sebesar sajadah. Sangat pas untuk salat per orang. Tiap deret ubin putih dibatasi dengan ubin berwarna hitam (black line). Lebar ubin hitam tersebut kira-kira 10 cm. Di ubin hitam itulah para jemaah diminta berdiri.

Salat jemaah Subuh selesai dilaksanakan. Imam salat menjeda beberapa saat. Para tutor FEE Center segera beranjak. Mereka mengambil lembaran kertas berlaminasi. Mereka lantas membagikannya kepada para murid. Lembaran tersebut berisi bacaan zikir dan doa berhuruf Arab. Para tutor kemudian membagikan Al-Qur’an. Mereka memastikan semua anak telah menerima lembar zikir dan Mushaf.

Tugas para tutor belum selesai. Mereka kembali menyiapkan lembar zikir dan Al-Qur’an untuk para tamu dewasa. Selain rombongan dari Hidayatullah, ada pula guru pendamping dari SMP Nasional KPS dan SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Lembar zikir dan Al-Qur’an disajikan lengkap dengan damparnya. Yang lebih istimewa lagi, Mushaf yang disajikan sudah dibukakan pada halaman yang hendak dibaca. Tak lupa, para tutor—yang sebagian besar berusia 20 tahunan—itu salim kepada para tamu usai menyajikan dampar. Dan hal tersebut konsisten dilakukan usai salat lima waktu berjemaah.

Mushaf dan lembar zikir tersaji di atas dampar

Tiap bakda Subuh, surah Ar-Rahman dilantunkan setelah zikir. Satu hingga dua surah pada juz 30 dibaca usai Zuhur. Bakda Asar, terjadwal surah Al-Waqiah. Bakda Magrib, dibaca bersama surah Yasin. Dan bakda Isya saatnya surah Al-Mulk dilantunkan bersama. Pesantren vibes-nya sangat terasa.

Baca juga: Mentor

“I really enjoy being here. Besides learning English, we are doing worship, as well. May be, someday, I will come here again with my wife. The vibes are like in pesantren,” ungkap Pak Taufik saat diminta menyampaikan kesannya selama belajar di FEE Center.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code