“English is not a final destination. It’s just the tool.”
Itulah sepenggal kalimat penutup yang diucapkan Mr. Abdul Malik—founder sekaligus pemilik FEE Center. Sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri.
Kamis, 15 Januari 2026, sekitar pukul 5 sore, kami tiba di FEE (Future English Education) Center. Dua belas personel ditugaskan untuk belajar bahasa Inggris. Selama dua pekan. Pak Adi, Bu Suci, dan Pak Tarto mewakili Lembaga. Bu Husnul, Bu Rizky, Bu Erna, Ms. Fifi, Ms. Iin, Bu Rias, Ms. Aghita, Pak Taufik, dan saya mewakili unit kami masing-masing.
Mobil HiAce, yang mengantar rombongan, memasuki area FEE Center. Belasan personel telah berjajar. Mereka menyambut kami! Saya sangat terkesan. Sempat penasaran, sejak kapan mereka berdiri di tempat tersebut. Belum sempat terjawab rasa penasaran itu, saya kembali dibuat bingung. Kami dilarang membawa serta barang-barang kami yang ada di dalam mobil. Saya keluar dari mobil hanya dengan menenteng tas bahu saya. Begitu pula teman-teman lainnya. Hanya membawa tas kecil masing-masing.
Kami berbaris dalam tiga lajur.
“Welcome to FEE Center,” sambut Mr. Hendri.
Mr. Hendri adalah pemimpin program untuk kegiatan kami. Selain beliau, ada pula Ms. Nur dan Ms. Vita yang menjadi pendamping kami. Selama kegiatan, beliau bertigalah yang akan membersamai dan melayani kami.
Usai penyambutan singkat, kami diarahkan menuju kamar masing-masing. Koper dan semua barang kami dibawakan oleh para petugas yang sebelumnya menyambut kami. Belakangan kami ketahui ternyata mereka juga merupakan murid-murid di FEE Center. Selain belajar, mereka mendapat tugas khusus untuk melayani para tamu.
Saya dan teman-teman bermaksud membantu membawakan barang-barang kami yang tidak sedikit itu. Namun, kami dilarang melakukannya. Semua barang dibawakan oleh ‘para petugas’ hingga depan pintu kamar.
Setiba di kamar, kami dipersilakan untuk beristirahat. Keesokan paginya, terjadwal kegiatan pembuka bersama Mr. Abdul Malik. Bertempat di Notredame—ruang belajar yang terletak di lantai 2. Di FEE Center, setiap ruangan, kecuali kamar, dinamai dengan nama universitas di dunia. Selain Notredame, ada pula Oxford, Harvard, Sydney, Cambridge, Columbia, Stanford, dan Wolongong.
Mr. Malik (sapaan akrab Mr. Abdul Malik) menyampaikan sambutan. Beliau menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke sebuah pondok pesantren di Thailand: Tarbiyah Islamiyah. Mr. Malik mengamati pembelajaran di sana. Saat itu, beliau bertemu dengan sepuluh orang murid Thailand yang ingin menghafal Al-Qur’an. Dengan target mutqin.
“Di mana kami bisa belajar?” tanya mereka kepada Mr. Malik.
Mendengar pertanyaan itu, Mr. Malik merasa tertantang. Beliau ingin menjawab: di Indonesia. Namun, beliau menjadi pesimistis. Mereka butuh guru tahsin yang mampu berbahasa Inggris. Sementara, di Indonesia belum ada pesantren yang mengajarkan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris. Pada akhirnya, kesepuluh murid tersebut memilih untuk belajar di Malaysia.
“Indonesian people are very creative. There are so many methods of tahsin from Indonesia. One of them is Qiraati. And the fact that Qiraati Method was taught by Malaysian teachers, it made me so disappointed,” terang Mr. Malik.
Itulah salah satu alasan Mr. Malik mendirikan FEE Center. Beliau ingin bahasa Inggris menjadi bahasa kedua di Indonesia. Beliau ingin sekolah-sekolah Islam dapat menyebarkan Islam lebih luas. Namun, beliau tetap mengingatkan kami sebagaimana kalimat pembuka tulisan ini: bahasa Inggris bukanlah tujuan akhir. Bahasa Inggris hanyalah sebagai alat.
“Dan ini merupakan tugas dari sekolah-sekolah Islam,” tutup Mr. Malik.
Baca juga: Etos Profetik
