Akhir pekan. Padat kegiatan. Sabtu pagi, kembali saya pastikan. Rapor cetak kelas 1—4 sudah siap. Selain rapor cetak, saya juga perlu pastikan ulang rapor online. Di aplikasi Sekolahku. Ya, selain diberikan cetaknya, orang tua juga dapat mengakses secara online. Pembagian rapor cetak dimulai pukul 08.00. Sementara akses rapor di Sekolahku mulai dibuka pukul 10.00.
Alhamdulillah, semua sudah siap. Saya lantas menuju musala B. Pukul 08.30 akan diadakan pertemuan antara wali murid kelas 1 dan 4 dengan psikolog Lembaga, Bu Ririn. Acaranya dikemas dalam Parenting Hasil Psikodiagnostik. Sekitar tiga bulan lalu, anak-anak kelas 1 dan 4 mengikuti psikodiagnostik. Sebenarnya, hasi tes sudah diterima Sekolah jauh sebelum ini. Namun, pihak psikolog mensyaratkan adanya parenting dahulu sebelum hasilnya dibagikan ke orang tua. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi miskonsepsi.
Di musala B, Ustaz Adhit dan Ustaz Aruf telah bersiap. Bu Aza dan beberapa teman guru menyiapkan meja presensi dan snack di depan pintu. Saya kembali turun ke lantai 1. Tampak Bu Robi menyambut beberapa orang tua yang telah hadir. Bu Robi berjaga di pintu lobi. Rapor kelas 2 dan 3 diambil di kelas masing-masing. Saya pun menyiapkan diri.
Pukul sepuluh, pengambilan rapor dan parenting selesai dilaksanakan. Saatnya bersiap ke agenda berikutnya: anjangsana. Anjangsana perdana kali ini dilaksanakan di kediaman Bu Nana. Di Ungaran. Karena akses rapor online baru dibuka, saya berjaga-jaga dengan membawa IPad. Rasanya dejavu. Saya pernah berada di kondisi yang sama beberapa bulan lalu. Saat itu kami sedang dalam perjalanan menuju rumah salah seorang guru yang menikah. Di saat yang sama, akses rapor juga tengah dibuka.
Bu Nana memberikan tumpangan kepada saya, Bu Naim, Bu Shoffa, Bu Mila, Bu Eva, dan Bu Puput. Bu Nana sendiri yang menyetir. Saya dipersilakan duduk di samping beliau.
“Bu Wiwik, mohon maaf, ini orang tua Rama dan Icha ada kendala akses rapor,” lapor Bu Shoffa.
“Njih, Bu. Sebentar saya cek.”
Saya log in ke aplikasi Sekolahku menggunakan browser. Saya lantas mengetikkan username dan password. Saya masuk ke menu administrator-monitoring pengguna-wali murid. Saya lantas log in ke akun orang tua rama menggunakan ponsel melalui aplikasi. Berhasil.
“Bu Shoffa, ini saya bisa akses rapor Rama. Mungkin alamat email yang dimasukkan salah, Bu.”
Saya lantas kembali ke IPad. Mengopi alamat email orang tua Rama yang didaftarkan di Sekolahku. Saya lantas menempelkannya ke pesan WhatsApp untuk Bu Shoffa. Bu Shoffa mengonfirmasikannya ke orang tua Rama. Tak berselang lama, Bu Shoffa mengabarkan jika ada satu karakter yang salah ketik pada alamat email orang tua Rama. Saya pun mengubahnya di menu administrator. Done!
“Kalau Icha lupa alamat email-nya, Bu,” terang Bu Shoffa.
“Oke, Bu. Saya kirimkan alamatnya, ya.”
Kendala akses rapor Rama dan Icha terselesaikan. Perjalanan ke rumah Bu Nana masih cukup jauh. Di dalam mobil, kami bersenda gurau. Sembari menyetir, Bu Nana juga turut mengimbangi candaan kami. Suasana cair dan ceria begitu terasa. Hingga tibalah kami di kediaman Bu Nana.
Kegiatan diawali dengan khataman. Ustaz Kholis yang memimpin. Doa khataman dipandu oleh Ustazah Dian.
“Bapak/Ibu, saya usul bagaimana jika kita sisakan beberapa halaman jatah bacaan kita untuk dibaca saat khataman. Agar suasana baca Al-Qur’an-nya terasa,” usul Bu Naim.
Baca juga: Tiap Hari
Saran Bu Naim diterima. Kami bersepakat mengalokasikan waktu 10 menit untuk membaca bersama jatah bacaan yang sengaja disisakan.
Usai khataman dan diskusi, kami melaksanakan salat Zuhur berjemaah. Ustaz Adhit menjadi imamnya. Bu Nana mempersilakan kami mengambil makan siang yang telah disiapkan di meja makan. Prasmanan.
“Silakan, bapak-bapak dulu,” sila saya.
Ustaz Adhit, Ustaz Aruf, Ustaz Kholis, dan Pak Kukuh beranjak. Keempatnya berbaris dalam antrean. Setelah selesai, giliran ibu-ibu yang mengantre. Kami lantas kembali duduk di karpet. Menikmati menu yang disajikan. Setelah dirasa cukup, Bu Nana membagikan thinwall yang berisi makanan ringan. Satu orang satu thinwall.
“Bapak/Ibu, silakan makanan yang masih ada dimasukkan ke thinwall masing-masing. Harus habis, lo, ya,” pinta Bu Nana.
Kami menikmati suasana dengan obroan ringan diselingi senda gurau.
“Bu, sudah, yuk,” bisik Bu Eva.
Saya, Bu Eva, dan Bu Yunita merapikan piring kami. Kami lantas beranjak menuju tempat cuci piring. Bu Yunita membawa tumpukan piring berisi tiga piring dan tiga sendok.
“Bu Yunita yang menyabuni, saya yang membilas,” pinta saya.
Awalnya Bu Yunita menolak. Namun, beliau saya paksa. Hingga akhirnya kami bersepakat. Baru mendapat satu piring, Bu Eva menyusul.
“Bu Wiwik, jangan. Saya saja yang mencuci,” rengek Bu Eva.
Saya mengalah. Bu Yunita dan Bu Eva-lah yang menyelesaikan membersihkan piring dan sendok yang kami pakai.
Baca juga: Penyemangat
Rupanya, tak hanya kami bertiga. Antrean kembali mengular di area dapur. Semua yang hadir, membawa piring dan sendok masing-masing. Mengantre untuk membersihkan peralatan makan yang dibawa. Yang sudah selesai mencuci piring pun tak lupa untuk merapikan ruangan. Semua peranti saji dikembalikan ke tempat semula. Ruangan kembali bersih dan rapi. Datang rapi, pulang pun rapi.
“Terima kasih, Bapak/Ibu semua. Tamunya sangat pengertian. Rumah saya kembali bersih dan rapi,” puji Bu Nana.
Menyaksikan ini, saya teringat pada anak-anak. Saat makan siang, ini pula yang mereka lakukan. Mulai dari menyiapkan hingga mengemas, anak-anak melakukannya sendiri. Swalayan.
