Masyaallah…. Saya sekarang di rumah juga sering di posisi Alzam begitu, Bu. Gak nyangka malah diingatkan sama anak sendiri. Alhamdulillah, ya, Allah.”

Ahad sore (02/03/2025), menjelang waktu berbuka puasa, bunda Kaisar mengirim chat di atas. Beliau mengomentari status WhatsApp saya. Status tersebut berupa tautan tulisan Pak Adhit yang telah diunggah di website Sekolah. Tulisan yang berjudul “Spontan dan Mahal” itu berkisah tentang kepedulian Kaisar kepada Alzam, temannya.

Sebagai guru Kaisar, saya merasa sangat bombong. Kebiasaan baik yang diajarkan di Sekolah terbawa hingga ke rumah. Semoga Kaisar tak hanya pandai mengingatkan, melainkan juga telah piawai meneladani terlebih dahulu.

Pengakuan bunda Kaisar juga menyiratkan kebesaran hati. Beliau tak segan berbagi pengalaman “ditampar” oleh putranya sendiri. Meski saya sangat bahagia, saya merespons pengakuan bunda Kaisar tersebut (hanya) dengan ungkapan diplomatis. Ah, buka puasa hari itu terasa makin nikmat.

Pengalaman itu saya ceritakan Sabtu (08/03/2025) siang usai mengaji di ruang Kepala Sekolah. Refleksi Pengabdi, tajuk kegiatannya. Setelah saya mengakhiri refleksi, Pak Kambali menawarkan kesempatan untuk menanggapi. Bu Layla mengambil kesempatan itu.

Bu Layla tidak menyanggah pernyataan saya. Beliau memberikan pandangan lain berdasarkan pengalaman yang beliau alami.

“Bapak/Ibu, saya pernah mendapati seorang anak yang mengingatkan ayahnya saat minum menggunakan tangan kiri. Bukannya senang, sang ayah malah memarahi anak tersebut.”

Bu Layla menggarisbawahi hadirnya hidayah Allah yang menyentuh hati bunda Kaisar. Ya, saya pun menyepakati dan meyakini hal tersebut. Saya jadi makin yakin bahwa setiap ikhtiar (lahiriah dan batiniah) harus selalu disandarkan pada niat yang lurus dan tawakal. Allah-lah Sang Maha Penentu. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code