Screenshot

Hari Jumat itu, panasnya matahari terasa menyengat di ujung kepala. Namun, hari ini istimewa. Home visit kali ini bukan di hari Sabtu seperti biasanya. Tapi di hari Jumat yang penuh berkah.

Setelah Zuhur, saya dan tim guru kelas 1 bersiap-siap. Karena tempat tujuan home visit cukup dekat dengan Sekolah, kami berangkat dengan mengendarai motor. Kali ini bukan ke rumah, melainkan ke restoran mama Faeyza.

Sesampainya di sana, tidak hanya aroma masakan yang menyambut kami, tapi juga senyum hangat dari mama Faeyza. Di ambang pintu, tampak Faeyza yang malu-malu.

Setelah kami dipersilakan duduk, obrolan pun dimulai—tentang sekolah, tentang keseharian Faeyza, tentang teman-temannya, tentang keluarga, dan tentang kebaikan kecil yang ternyata besar maknanya. Hingga akhirnya, ada satu kalimat dari sang bunda yang membuat saya  terkesan:

“Alhamdulillah, setelah masuk SD jadi suka membantu di rumah, Bu. Kadang nyapu, bantu-bantu di resto. Kadang kalau adiknya mainan dia mengingatkan adiknya buat beresin. Tapi kalau adiknya nggak mau, dia yang bantuin beresin mainan adiknya.”

Kami saling bertukar pandang. Dalam diam, ada rasa syukur dan haru. Kami cukup mengenal Faeyza yang pendiam ketika di sekolah. Ternyata di rumah pun sama. Namun, dari diamnya itu ternyata ia seorang pengamat ulung yang menjadikan Faeyza bisa belajar bertanggung jawab dan penuh kasih sayang.

Faeyza bukan hanya murid biasa di kelas. Ia adalah cerminan keberhasilan pendidikan dari rumah, dari cinta orang tua, dan dari contoh keseharian yang sederhana—tetapi membekas di hati. Karena pendidikan sejati tidak hanya terjadi di ruang kelas. Tapi juga di rumah, di dapur, di tawa sang adik yang mainannya berserakan, dan di mana saja.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code