Ini sangat menggembirakan. Semula saya justru terkejut. Sepengetahuan saya, acara ini tidak terjadwal. Sekitar 3 pekan sebelumnya, jadwal acara sudah diinformasikan. Saya termasuk yang mendapat informasi tersebut.

Rabu (20/11/2024) pagi, Pak Adi—Kepala Divisi Pengembangan Sumber Daya Insani merangkap Kepala Divisi Akademik LPI Hidayatullah—menghubungi saya.

“Asalamualaikum, Pak Kambali. Kalau hari ini kami agendakan untuk diskusi dengan Pak Aidil bisa jam berapa? Sehabis salat Zuhur, sekitar pukul 12.45, nggih, tempat di LPIH, nggih?”

“Insyaallah, Pak.”

Sebetulnya saya sudah punya acara. Kebetulan acara internal. Saya putuskan untuk menundanya. Saya prioritaskan memenuhi undangan Pak Adi.

Menjelang pukul 12.45 saya hendak berangkat. Ups, turun hujan. Tidak deras. Namun, berpeluang semakin deras. Mumpung belum telanjur, saya pilih memakai payung. Di ruang TU ada payung. Terpampang tulisan SD 02 di payung tersebut.

Tiba di Gedung LPI Hidayatulah, saya taruh payung di pojok depan pintu. Saya masuk dan bergegas menuju ruang meeting lantai 2.

Masih sepi. Ruangan juga gelap. Lampu belum dinyalakan. Pendingin ruangan juga belum dihidupkan. Saya cek chat Pak Adi. Tak ada petunjuk. Adakah tidak di sini tempatnya? Ataukah Pak Adi masih sibuk melayani pertemuan Pak Aidil—guru SMP Islam Al-Azhar Cairo, Palembang—dengan pimpinan SD 01 (SD Islam Hidayatullah)?

Muncul tuntutan dalam diri saya: segera telepon Pak Adi, pastikan di mana tempatnya. Namun, segera ada yang menyahut dalam batin saya, jangan begitu, hormati Pak Adi, bisa jadi beliau sedang sangat sibuk dengan tamu dari Palembang itu. Bukankah memuliakan tamu adalah sunah Rasulullah?

Saya pilih menunggu. Saya duduk di salah satu kursi. Sembari menunggu, saya harus tetap beraktivitas produktif. Namun, tak berselang lama, saya ditelepon Pak Adi. Ternyata bertempat di ruang Direktur lantai 1.

Saya menuju ke ruang Direktur. Di dalam sudah ada Pak Aidil, Pak Adi, Pak Eko, dan Pak Nasyriel. Saya bersalaman dengan empat orang tersebut. Saya lalu ikut menyimak pembicaraan yang ternyata sudah dimulai.

Topik diskusi siang itu sangat menarik: 5 pilar di Al-Azhar Cairo, Palembang. Saya sudah pernah membicarakan hal ini dengan Pak Aidil hampir setahun sebelumnya. Tepatnya, 18 Desember 2023.

Maka saya merasa sangat mudah untuk mengikutinya.

Masyaallah, masih begitu banyak fakta yang belum saya ketahui. Dan rasanya, kali ini fakta-fakta yang dipaparkan Pak Aidil adalah fakta kunci. Mestinya di bagian inilah yang sangat krusial dan layak untuk dipelajari dan diadopsi.

Sebelum penerapan 5 pilar—kurikulum keagamaan, fun learning, iPad/teknologi, pembiasaan baik, dan kearifan lokal pemersatu bangsa—ini, sejumlah tim dikirim ke ahlinya masing-masing.

Ada yang dikirim ke Mesir untuk fokus masalah keagamaan. Ada juga yang dikirim ke Finlandia untuk belajar fun learning. Untuk mempelajari pembiasaan baik, ada yang dikirim ke Jepang. Mereka belajar di tempat-tempat tersebut dalam waktu minimal 10 hari. Rata-rata sampai dengan 14 hari.

Pak Aidil termasuk yang dikirim ke Inggris untuk belajar teknologi. Ke Inggris, Pak Aidil ditemani salah satu pengurus Yayasan. Pengurus Yayasan tersebut juga sekaligus mengajak istrinya.

Sepulang belajar dari berbagai negara, sejumlah tim tersebut dipertemukan oleh Yayasan. Mereka menyampaikan hasil belajarnya, menelaah kelebihan dan kekurangan yang mereka dapatkan, lalu menyusun formulasi terbaik untuk diterapkan di Al-Azhar Cairo, Palembang. Antisipasi atas kekurangan yang telah teridentifikasi termasuk bagian penting dalam formulasi tersebut.

Di tahap implementasi, masing-masing tim cukup sering melakukan riset. Tim yang melakukan riset ini ada yang beranggotakan 3 orang, 2 orang, dan ada juga yang hanya 1 orang. Dalam proses riset ini, sering kali dilakukan “trial and error” hingga diperoleh formula yang paling tepat.

Pertemuan antartim cukup intens dilakukan. Untuk membicarakan temuan-temuan dan sekaligus menyerasikan dan mengharmonisasi implementasi antarpilar.

Berkali-kali saya hanya manggut-manggut. Saya membayangkan kerja keras dan kesungguhan orang-orang yang diceritakan oleh Pak Aidil. Menilik kesungguhan penyiapannya, sudah sepatutnya mereka memperoleh hasilnya.

Pukul 14.00 pembicaraan dicukupkan. Pak Aidil harus beralih ke acara lainnya. Saya ikut mengantar beliau hingga masuk mobil. Suasana sudah tidak lagi hujan. Saya pun kembali ke SD Islam Hidayatullah 02. Dan saya pun lupa: payung saya tertinggal di LPIH.

Saya merasa sangat beruntung. Saya berkesempatan bertemu lagi dengan Pak Aidil. Ini pertemuan kali kedua. Saya mendapat banyak ilmu dan pengalaman yang beliau bagikan. Tentu saya sangat bersyukur. Alhamdulillah. Dan semoga tidak hanya terhenti pada syukur bi al-lisān tetapi sekaligus bi al-arkān. (A1)

Baca juga: Ternyata …

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code