“Bu, saya jajan 12 ribu, ya,” tawar Ridho.

Hari itu pertama kalinya kegiatan littlepreneur dilaksanakan kembali setelah libur panjang yang berlangsung lebih dari sebulan. Sekaligus persiapan penilaian akhir semester.

Masih seputar gedung baru dan serba baru.

H-1 sebelum pelaksanaan, saya mengamati kondisi kantin yang belum difungsikan sebagaimana mestinya. Kantin ini terletak tepat di depan kelas 3 dan ruang perpustakaan di lantai 2. Di dalamnya terdapat dua area dapur: bagian utara dan selatan. Keduanya memiliki desain berbentuk persegi dan cukup luas untuk menampung beberapa orang di dalamnya.

Tiap dapur dilengkapi dengan tiga meja yang kokoh. Dibuat dari struktur batu-bata. Memberikan kesan kuat dan tahan lama. Di dalamnya, terdapat beberapa laci yang bisa digunakan untuk menyimpan peralatan atau bahan makanan. Tak hanya itu, tiap dapur juga dilengkapi dengan pintu setinggi sekitar 70 cm untuk memudahkan akses keluar masuk.

Di area kantin, di depan tiap-tiap dapur, terdapat meja panjang yang diapit oleh dua bangku di sisi kiri dan kanan. Di sebelah kanan meja dapur, ada dua meja yang disusun berbanjar. Tiap-tiap meja diapit oleh dua bangku. Sementara itu, di sebelah kiri, terdapat meja panjang lainnya dengan satu bangku yang diletakkan di depannya. Semua perabotan ini, memberi kesan kantin siap digunakan, meskipun saat ini belum berfungsi sepenuhnya.

Sempat terpikir oleh saya. Kira-kira mau dibuat satu tempat penjualan atau dua, ya? Kalau satu tempat, penjualan bisa dilakukan di area dapur bagian utara: di meja dapur bagian depan dan sebelah kanan. Sehingga hanya butuh satu guru untuk pendampingan. Karena lebih mudah mengordinas. Satu lainnya untuk dokumentasi. Namun, jika dua tempat membutuhkan dua guru stand by. Karena lokasi dapur yang tidak berdekatan: bagian dapur utara dan selatan. Untuk dokumentasi, saya bisa meminta bantuan kepada Bapak/Ibu Guru lainnya. Namun, hal ini bersifat terus-menerus. Saya khawatir akan sering merepotkan.

Saya pun ragu. Akhirnya, saya bertanya kepada Bu Wiwik. Saya sampaikan semua opsi yang sudah saya pikirkan. Namun, Bu Wiwik menyerahkan keputusan tersebut kepada saya. Tak kehilangan akal. Aha, kenapa tidak saya tanyakan ke Bu Indah? Selama ini beliau yang saya mintai tolong untuk dokumentasi.

Bu Indah memilih membagi tempat penjualan menjadi dua tempat. Beliau juga menawarkan diri untuk mengambil dokumentasi. Kebetulan, tiap hari Rabu beliau agak senggang. Alhamdulillah, segalanya dimudahkan. Setiap kesulitan selalu diiringi dengan kemudahan. Itu janji Allah. Dan kali ini saya benar-benar merasakannya.

Hari H tiba. Anak-anak begitu girang. Telihat dari raut wajah mereka yang sangat antusias. Anak yang ditunjuk jadi penjual dipersilakan keluar kelas pukul 09.00. Mereka diberi kesempatan untuk memilih jajanan terlebih dahulu.

Anak putra di dapur selatan. Dan anak putri di dapur utara. Kebetulan, saya membersamai anak putra. Dan Bu Puput membersamai anak putri.

Tak lupa, saat pelaksanaan Bapak/Ibu Guru turut meramaikan dan megondisikan anak-anak. Maklum, ini kali perama di Gedung baru.

“Bu, saya jajan 12 ribu, ya,” tawar Ridho. Ia memegang selembar uang 20 ribu.

“Astagfirullah,” ucap saya sembari menggelengkan kepala.

Ridho terus-menerus merengek. Namun, akhirnya saya pasrahkan keputusan tersebut pada Ridho sendiri.

Hingga akhirnya bel masuk berbunyi. Anak-anak berhamburan ke kelas masing-masing. Saya melihat selembar uang 5 ribu dan tiga lembar 2 ribu tergeletak di atas meja dapur selatan.

“Nak, ini uangnya siapa?” tanya saya kepada penjual.

“Ridho, Bu,” jawab Ken.

“Alhamdulillah. Gak jadi jajan 12 ribu.”

Ridho tersenyum semringah.

“Ini, baru keren! Bu Guru tuh yakin kalau Ridho tuh bisa memilih mana!” puji saya.

Aksi Ridho ini pun saya pamerkan kepada teman-teman di kelas. Dan, ternyata ada beberapa anak yang membawa uang lebih dari yang ditentukan: 10 ribu. Dan, mereka bisa menahan diri untuk membli makanan tidak melebihi batas harga yang sudah ditentukan.

Ternyata Ridho mampu mengendalikan diri menghadapi godaan. Meskipun ia sempat menawar untuk menghabiskan uang lebih dari batasan yang dibolehkan. Keputusannya untuk tetap memilih sesuai batasan yang dibolehkan bukan hanya mencerminkan kedewasaan. Tetapi juga menunjukkan bahwa ia sudah mulai belajar untuk menghargai batasan. Yang jadi pertanyaan: sanggupkah saya meneladan Ridho, yang mampu menahan godaan?

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code