“Teman-Teman, ini ruang perpustakaan. Kalian bisa membaca buku di sini. Anak-Anak boleh masuk ke perpustakaan jika ada petugasnya. Petugasnya adalah Bu Nika,” jelas saya di depan pintu perpustakaan.

Saya, Bu Eva, Pak Adhit, dan Pak Kukuh memandu anak-anak dalam school tour. Sejak 6 Januari 2025, kegiatan operasional Sekolah berpindah ke gedung baru. Kami mengenalkan tiap-tiap ruangan dari lantai 1 hingga 4. Kami mengajak anak-anak masuk ke ruang perpustakaan.

Anak-anak tampak antusias. Selain perabot dan buku-bukunya yang baru, desain interior perpustakaan terasa sangat nyaman dan ceria. Terdapat area baca dengan berbagai preferensi. Ada yang lesehan, duduk tanpa meja, dan area baca yang bersekat dengan meja dan kursi. Mebelair-nya juga ramah anak. Tak bersudut, melainkan berbentuk lengkung. Suasana ruangan kian ceria dengan adanya jajaran bunga matahari di beberapa sudut.

Sebelum memulai school tour, anak-anak telah bersepakat bahwa perpustakaan adalah tempat untuk membaca buku. Jadi, hanya berbicara seperlunya dan itu pun harus menggunakan level suara setengah.

Anak-anak menyerbu rak buku. Suasana masih terasa tenang. Mereka lantas mencari tempat duduk yang diinginkan. Anak-anak putri memilih duduk lesehan dan meletakkan buku yang dibaca di atas meja berbentuk segitiga. Sebagian besar murid-murid putra duduk di kursi panjang dan tersambung dengan rak. Ada pula anak-anak yang memilih duduk di kolong meja yang belum berkursi.

Beberapa anak tampak mengembalikan buku yang habis dibaca sekaligus mengambil buku kedua. Selama sekitar 15 menit di perpustakaan, anak-anak masih bisa bertahan dalam suasana tenang.

Baca juga: Tempat Favorit

“Mas Ano, di luar dulu, ya. Nanti kalau Ano sudah siap, boleh masuk lagi,” pinta saya sembari mendekati Ano.

Ano paham apa yang saya maksudkan. Ia mengembalikan buku yang hendak dibaca, lalu berjalan menuju pintu keluar. Ano duduk di kursi luar perpustakaan. Apa yang Ano alami menjadi pelajaran pula bagi teman-temannya. Dua menit berselang, Ano masuk ke dalam ruangan dan mendekati saya.

“Bu, saya sudah siap,” lapor Ano.

“Alhamdulillah. Oke. Mas Ano boleh melanjutkan membacanya.”

Saya patut berbangga. Selama 30 menit berada di perpustakaan, anak-anak dapat menahan diri mereka. Hanya dengan dijelaskan sekali, anak-anak telah dapat memahami dan melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Saya makin kagum dengan anak-anak manis ini ketika keesokan harinya Bu Shoffa menyampaikan informasi.

“Bu, kemarin Aqilaa, Salma, dan Reva ke perpustakaan. Mereka menanyakan keberadaan Bu Nika ke saya. Saya sampaikan kalau Bu Nika sedang ada pekerjaan di bawah (lantai 1) sehingga belum bisa berjaga di perpus. Eh, ketiga anak itu pamit turun lagi,” kenang Bu Shoffa. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code