“Teman-Teman, kemarin Sabtu, Bapak/Ibu Guru ke rumah teman kalian, lo. Nah, dia ini keren!” umpan Bu Shoffa sebelum memulai pelajaran.

Seketika anak-anak tertib.

Dari hari Senin sampai hari ini, dia menunjukkan kesungguhannya untuk berangkat pagi. Padahal biasanya dia tiba di Sekolah mepet bel atau malah sudah saatnya berbaris,” imbuh Bu Shoffa.

Anak-anak menyahut penasaran. Siapakah murid yang dimaksud gurunya?

“Aku tahu. Nadia, Bu,” jawab seorang murid.

“Naufal, Bu.”

“Belum tepat,” jawab Bu Shoffa sembari menggerakkan telunjuk kanannya.

“Iqbal!”

“Dia adalah …”

“Nayla,” sahut murid perempuan di belakang.

Yang disebut namanya pun tersenyum.

“Betul sekali, Teman-Teman. Jadi, kalian tahu, enggak? Kemarin Nayla tiba di Sekolah mepet itu gara-garanya Nayla maem sambil nonton TV. Kan kalau maem sambil nonton TV, jadi enggak fokus. Akhirnya berangkat sekolahnya telat, deh! Tapi sampai hari ini Nayla keren! Dia kalau makan enggak sambil nonton TV lagi! Semoga istikamah, ya, Nak! Dan teman-teman yang berangkatnya mepet bisa meniru kebiasaan baik Nayla.”

Sabtu (11/5/2024), Ustaz Aruf dan Bu Shoffa bersilaturahmi ke rumah ananda Nayla. Atau biasa disebut home visit. Biasanya mereka datang berempat: Bu Amik, Ustazah Layla, Ustaz Aruf, dan Bu Shoffa. Namun, Ustazah Layla dan Bu Amik sedang mendapatkan amanah lain, sehingga yang berkunjung hanya Ustaz Aruf dan Bu Shoffa.

Di sana, mereka disambut hangat oleh Papa, Mama, Kakak, dan Nayla. Sebelum sampai di rumah Nayla di Jl. Anthurium, Bu Shoffa bertanya kepada seorang warga. Namun, diarahkan ke Jl. Kintamani. Akhirnya, Bu Shoffa menelepon Ibu Elliya (mama Nayla). Kemudian dijemput kakak Nayla di perempatan gang.

Setiba di rumah Nayla, Ustaz Aruf dan Bu Shoffa berbincang seputar keseharian Nayla di rumah: bagaimana salatnya, mengajinya, dan lainnya. Papa dan mama Nayla juga bertanya mengenai kebiasaan putrinya di sekolah.

“Oh, njih, Bunda. Ngapunten, biasanya Mbak Nayla berangkat sekolah mepet itu karena apa, njih?” tanya Bu Guru di sela-sela pembicaraan.

“Nayla tahu jawabannya, Bu,” sahut Pak Khoirul Umam (papa Nayla).

“Karena apa, Nay?” tanya Bu Shoffa, yang kebetulan duduknya berdampingan dengan Nayla.

Nayla hanya tersenyum malu. Beberapa detik kemudian, ia baru merespons. “Makannya lama,” jawab Nayla.

”Kalau boleh tahu, Nayla makannya sambil apa, Nak?” tanya Bu Shoffa memastikan.

“He-he. Sambil nonton TV, Bu.”

“Ooo. Itu yang bikin lama, Nayla. Jadi, kalau Nayla makan sambil nonton TV, makannya enggak fokus. Kayak di Sekolah kan sama, Nak. Kalau makan enggak boleh sama ngobrol, kan?”

“Iya. Nanti makannya jadi lama,” sahut Nayla.

Masyaallah. Hari Senin (13/5/2024), Nayla menunjukkan kesungguhannya. Ia berangkat lebih awal dari biasanya. Tak hanya hari Senin, hari-hari berikutnya ia juga istikamah untuk berangkat lebih pagi. Terima kasih, Nayla! Semoga Allah mudahkan proses Nayla. Amin.

Bagikan:
4 thoughts on “Kesungguhan (2)”
  1. Masyallah, buat Mbak Nayla tetap semangat dan istiqamah serta jadi lebih baik lagi

  2. MasyaAllah, semangat nayla! Harus selalu istikamah ya biar tidak terlambat sekolah

  3. masyaallah nayla semoga selalu istiqomah ya, terus bertumbuh jadi lebih baik lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *