“Sultan cita-citanya pengin keliling dunia untuk menyebarkan agama Islam. Seperti Nabi Muhammad.”

Itulah sepenggal percakapan Bu Wiwik dan Sultan di selasar kelas, Jumat siang (14/06/2024). Bu Wiwik sengaja “menculik” Sultan dari dalam kelas. Kala itu, murid-murid kelas 1 dan 2 tengah melaksanakan gladi kotor untuk persiapan Ekshibisi Akhir Tahun. Sultan sudah tampak bosan, sehingga akan lebih bermanfaat jika ia diajak menyegarkan diri dulu di luar ruangan.

Bu Wiwik mengajak Sultan duduk di kursi tunggu di depan ruang TU. Bu Wiwik duduk menghadap Sultan. Lengan kanan Bu Wiwik bersandar pada kaca jendela ruang TU. Sementara, Sultan duduk menghadap halaman Sekolah. Bu Ambar—yang meja kerjanya berada di balik jendela—pun turut mendengarkan perbincangan seru itu.

“Caranya gimana?” pancing Bu Wiwik.

Kan Sultan jadi dokter-ustaz, nih, Bu. Nah, nanti Sultan ambil cuti, terus Sultan keliling dunia. Makanya, Sultan juga pengin belajar bahasa Inggris, biar bisa ngomong sama banyak orang di dunia,” terang Sultan dengan penuh sungguh.

Bu Wiwik terkesima mendengar jawaban muridnya itu. Memang, beberapa kali Sultan menyampaikan ingin menjadi dokter sekaligus ustaz. Itu tersampaikan sudah sejak lama. Rupanya, Sultan tetap konsisten dengan cita-citanya. Bahkan kini, ia mengelaborasinya sedemikian runtut.

Perbincangan berlangsung seru. Sembari mendengar celoteh Sultan, Bu Wiwik mengetik sebuah pesan di grup telegram: Daily Activity kelas 2. Begini isi chat-nya: “14 Juni 2024: Sultan bercita-cita keliling dunia untuk mendakwahkan Islam seperti Nabi Muhammad. Caranya dengan mendirikan masjid di setiap negara yang ia kunjungi. Masjid-masjid itu akan dinamai dengan nama Sultan.”

Sultan turut mengeja ketikan Bu Wiwik.

“Bu Wiwik, kirimin ini ke Mommy juga, dong!” bujuk Sultan.

“To…?” pancing Bu Wiwik.

“He-he. Bu Wiwik, tolong kirimin ini ke Mommy, ya,” rayu Sultan.

“Oke!”

Bu Wiwik menyalin pesan tersebut dan menempelkannya di kontak WhatsApp Bu Putri (ibunya Sultan). Sultan juga mengirimkan sebuah voice note yang menegaskan isi chat Bu Wiwik.

Tiga menit berselang, Bu Putri membalas pesan Bu Wiwik.

Aamiin ya Rabbal Alamiin. Mohon dikabulkan ya Allah. Seneng bangett baca dan mendengarnya. Matur nuwun sanget, nggih, Bu. Mohon maaf, saya belum bisa membalas dengan voice note juga (karena saat ini) sedang dines .

Bu Putri pun sedikit curhat bahwa saat itu beliau sedang lelah fisik dan mental karena beban kerja beliau. Pesan manis dari putranya sedikit mengurangi beban yang sedang beliau rasakan.

Bersyukur, Sultan senang karena ia merasa diperhatikan. Bu Putri juga tertular vibes positif dari sang putra.

“Eh, Sul. Itu, kayaknya Bu Wiwik perlu menambahi tanah di pot-pot itu, deh,” ucap Bu Wiwik harap-harap cemas.

Bu Wiwik punya misi khusus. Beberapa hari lalu, murid-murid kelas 1 repotting tanaman cabai oleh-oleh dari field trip.

Emangnya kenapa, Bu?”

“Alhamdulillah, Sultan mulai terpantik,” batin Bu Wiwik.

 “Iya, soalnya tanahnya sudah berkurang, jadi perlu dipenuhi potnya. Supaya cabainya tumbuh subur,” terang Bu Wiwik, yakin atas keberhasilan misinya.

“Sultan ikut bantuin, Bu!”

Aha! Berhasil!”

Guru dan murid itu akhirnya asyik berkutat dengan 20-an tanaman cabai, media tanam, dan cetok. Tak lupa, kegiatan itu diakhiri dengan menyirami tanaman cabai tersebut. Setelah membereskan peralatan dan bahan-bahannya, Bu Wiwik mengajak Sultan kembali ke kelas. Di kelas, Bu Wiwik menceritakan kebaikan Sultan yang telah merawat tanaman adik kelasnya.

Itulah Sultan. Dan begitulah anak-anak pada umumnya. Mereka senang didengar, diperhatikan, dan diapresiasi. Bu Wiwik sering memanfaatkan situasi nonformal semacam itu untuk membangun kedekatan (dengan) dan kepercayaan (dari) murid-muridnya. Saat jam istirahat, kepulangan murid, serta pada waktu-waktu di luar KBM.

Bu Wiwik meyakini, ketika murid-murid sudah memercayai gurunya, guru tersebut akan lebih mudah mengarahkan murid-muridnya. Oleh karenanya, Bu Wiwik sangat mendukung ketika Pak Kambali mengambil kebijakan: ruang guru untuk wali kelas adalah di dalam kelas. (A2)

Bagikan:
5 thoughts on “Membangun Kepercayaan Murid”
  1. Seorang guru harus bisa menjadi bahan inspirasi untuk tumbuh kembang siswanya. Semoga semua guru bisa menjadi inspirasi buat siswanya.

  2. Masyaallah, Sultan hebat. Semoga Allah Swt selalu mudahkan kita semua dalam proses tersebut.

  3. MasyaAllah, alangkah mulianya cita-cita Mas Sultan. Insyallah niat baik Mas Sultan akan di permudah oleh Allah Swt. Aammiin

  4. masyaallah sultan semoga tetap konsisten ya dengan cita-citanya dan semangat untuk terus berkembang lebih baik lagi

  5. MasyaAllah, sungguh mulia cita cita Sultan. Semoga istikamah mengejar cita citamu Sultan, Semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *