Laptop saya matikan. Saya tutup, lalu saya masukkan ke tas. Berkas berserakan di atas meja, segera saya rapikan. Lampu ruangan saya matikan. Sembari membawa tas, saya keluar ruangan. Menuju ke rak sepatu di ujung selasar bagian selatan.

Sabtu (08/06/2024) siang itu suasana SDIH 02 sudah sepi.  Teman-teman guru dan pengabdi non-guru sudah pulang. Tinggal saya dan Pak Yuli—satpam. Pun saya juga sudah bersiap pulang. Pak Yuli masih bertugas satu jam lagi. Pergantian sif satpam terjadwal pukul 15.00.

Di tempat saya berdiri, saya memandangi lantai selasar. Dari ujung selatan hingga ujung utara. Alhamdulillah, kebersihan dan kesuciannya lebih terjaga.

Sekitar empat pekan sebelumnya, tepatnya, Rabu, 15 Mei 2024, musala pindah tempat. Ini sekaligus untuk persiapan ruang kelas 3. 

Perpindahan musala sekaligus membuat teman-teman guru berpikir, agar kesucian tetap terjaga. Memang syarat sah salat, salah satunya berkaitan dengan kesucian. Salah satu ide yang muncul, masuk selasar dalam kondisi suci. Jadi, harus mulai melepas alas kaki. 

Mungkinkah ide itu diimplementasikan?

Mengimplementasikannya, sama halnya dengan membuat perubahan. Melakukan perubahan pastilah banyak tantangannya. Itu terkadang menguras energi yang sangat banyak. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan perubahan itu gagal di tengah jalan. Bila demikian, betapa ruginya. Sudah habis energi, pun gagal di tengah jalan. Jika begitu, rasanya tak perlu melakukan perubahan. Berarti, ide tersebut tak perlu dilakukan.

Namun, jika tidak dilakukan, ini menyangkut masalah kesucian. Syarat sah salat. Apakah patut membiarkan hal semacam ini? Padahal sudah tahu. Pun ada ide yang dapat menjadi alternatif. Tinggal merealisasikan. Apa beratnya? Atau jangan-jangan saya yang malas melakukan ikhtiar perbaikan? Astagfirullah.

Jika sudah begitu, saya menjadi ragu. Dan kalau saya ragu, yang bisa saya lakukan, salah satunya, diskusi dan minta pendapat orang lain.

Bersama guru lainnya, saya mendiskusikan manfaat dan mudarat ide itu. Rabu (15/05/2024) siang saya menemui Bu Wiwik dan meminta pendapatnya. Bu Wiwik menyampaikan pendapatnya. Sesekali saya meminta penjelasan atas pemikirannya. Saya dan Bu Wiwik sepakat merealisasikan ide tersebut. Kami berkesimpulan: manfaatnya lebih banyak daripada mudaratnya.

Hari berikutnya, tak terduga dalam diri saya muncul keraguan kembali. Saya lalu berdiskusi dengan Pak Aruf dan Pak Adhit. Bergantian, Pak Aruf dan Pak Adhit menyampaikan pandangan-pandangannya. Kesimpulan pembicaraan dengan Pak Aruf dan Pak Adhit masih sama: manfaatnya lebih banyak daripada mudaratnya. Bahkan Pak Aruf dan Pak Adhit sekaligus mengusulkan langkah-langkah teknis pelaksanaannya.

Saya juga menghubungi Pak Aris, Kepala Divisi QLC Hidayatullah. Kebetulan QLC dan SDIH 02 menggunakan Gedung yang sama. Pembicaraan dengan Pak Aris makin menguatkan saya. Lepas alas kaki mulai dari selasar perlu segera direalisasikan. Beberapa masukan dari Pak Aris melengkapi proses implementasi ide tersebut. 

Langkah-langkah pelaksanaan mulai dijalankan. Sosialisasi ke ibu-ibu QLC, sosialisasi ke murid-murid SDIH 02, pemindahan/penataan rak sepatu, pembersihan/penyucian lantai selasar, dan pembuatan tulisan “batas suci” dilaksanakan dalam sepekan, 20—25 Mei 2024. Dan Senin, 27 Mei 2024, dimulailah implementasi lepas alas kaki dari selasar. 

Dua hari pertama pelaksanaan, sejumlah guru ditugaskan untuk memastikan murid-murid dapat beradaptasi dengan perubahan lokasi melepas alas kaki. Pak Yuli dan Pak Slamet mendapat tugas untuk membantu ibu-ibu QLC menjalankan perubahan tersebut.

Hari ketiga, perubahan itu sudah mulai terasa sebagai kebiasaan. Dan Sabtu (08/06/2024) genap dua pekan perubahan itu berlangsung. Rasanya betul-betul sudah menjadi kebiasaan. Alhamdulillah. Perubahan ini bukan hanya menjadikan kesucian yang lebih terjaga, melainkan kami juga mendapatkan keuntungan lainnya. Setidaknya ada dua keuntungan lainnya. Pertama, dengan rak sepatu dikeluarkan dari ruang kelas, kelas terasa lebih longgar. Kedua, saat wudu, tak perlu ada prosedur memakai sandal. Itu menjadikan proses wudu lebih simpel.

Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman semua. Dukungan mereka sangat berarti bagi penguatan keyakinan diri saya. Tadinya saya ragu. Setelah diskusi dengan teman-teman, keraguan itu sirna, berubah menjadi keyakinan. Meski sempat beberapa kali muncul keraguan, alhamdulillah, teman-teman terus memberi penguatan pada diri saya. (A1)

Baca juga: Posting

Bagikan:
5 thoughts on “Dukungan Teman-Teman”
  1. Alhamdulillah, semoga kebersihan selalu terjaga dan dapat menjaga kesucian untuk beribadah.

  2. alhamdulillah dengan ikhtiar menjaga kesucian juga dapat sekaligus menjaga kebersihan lingkungan sekolah

  3. MasyaAllah sekali atas peran Pak Kambali, para Guru dan Staf lainnya yang telah bekerja sama dan memberikan usulan serta pemikiran untuk menjaga kebersihan dan kesucian di setiap ruang sekolah.

  4. Alhamdulillah dengan ikhtiar semua guru dan karyawan anak-anak semakin berdisipilin dan dapat menjaga kebersihan, serta dapat menjaga kesucian untuk beribadah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *