“Masyaallah. Alhamdulillah hari ini Teman-Teman sudah siap untuk wudu semua, ya. Sultan juga, hebat, lo! Sudah melipat lengan bajunya! Sudah baris sesuai kelompoknya! Itu menandakan Sultan anak kelas dua! Terima kasih, Sultan! Semoga istikamah, ya!”

Seketika teman-teman langsung menoleh ke arah Sultan.

“Wah, Sultan hebat! Besok terusin lagi, ya, Sul!” celetuk salah satu teman.

“Teman-Teman, Bu Shoffa izin berbicara, ya. Jadi, kemarin pas mengantre wudu, ada salah satu di antara kalian yang mengingatkan temannya untuk geser tempat duduk. Tapi, karena teman yang diingatkan tidak fokus, jadi jatuh, deh. Kalian tahu enggak, siapa mereka?”

Anak-anak pun saling pandang. Mereka tidak sadar ada kejadian seperti itu. Namun, di antara mereka, ada dua siswa yang menyeringai hingga tampak giginya. Ya, Qaleed dan Sultan. Merekalah yang jadi fokus pembicaraan.

***

“Bu Shoffa, sakiiit!” keluh Sultan sembari memegang kaki kirinya.

“Sultan kenapa?”

“Didorong Qaleed, Bu.”

Sesaat Bu Shoffa mencerna kalimat Sultan.

Emang tadi Sultan lagi apa?”

“Aku kan lagi gulung baju. Terus tiba-tiba Qaleed dorong aku,” ungkap Sultan memelas.

“Wah, ini saat tepat untuk memberi penguatan tentang kesiapan wudu kepada Sultan, nih,” batin Bu Shoffa.

“Sultaaan, ini waktunya apa?”

“Wudu!”

“Nah, coba Sultan lihat teman-temannya. Adakah yang masih melipat lengan bajunya di tempat wudu?”

“Enggak ada!”

“Nah, itu Sultan tahu! Jadi, melipat lengan bajunya di mana?”

“Di kelas!”

“Terus, ini tadi, Sultan melipat lengan bajunya di mana?”

“Di tempat wudu!”

“Berarti Sultan sudah siap untuk wudu, belum?”

“Belum! Tapi kakiku sakit, Bu ….”

Bu Shoffa memanggil Qaleed untuk mengklarifikasi kejadian itu.

“Sultan, Qaleed, tidak ada yang benar, tidak ada yang salah. Semuanya sama. Jadi, tadi Mas Qaleed kan ngingetin Sultan untuk geser, toh? Sultan tuh sudah dipanggil berkali-kali. Tapi Sultan tidak mendengar, karena Sultan fokus melipat lengan baju. Akhirnya, Mas Qaleed pegang bahunya Sultan dengan sedikit mendorong. Terus Sultan jatuh, deh.”

“Jadi, mulai besok dan seterusnya, kalau melipat lengan baju itu di kelas, ya. Kan kalau di tempat wudu semuanya sudah siap! Terus kalau ngingetin temannya cukup dipanggil. Kalau dipanggil belum ada respons, dipegang atau ditepuk saja, ya.”

Sultan dan Qaleed mengangguk bersama. Mereka pun saling meminta maaf.

Keesokan harinya, saat persiapan wudu. Sultan membuktikan ke guru-gurunya bahwa ia sudah siap untuk wudu. Sultan sudah melipat lengan baju dan celana. Ia juga berbaris sesuai kelompoknya. Terima kasih, Sultan!

Bagikan:
6 thoughts on “Bukti”
  1. Masyaallah, semoga Sultan selalu istikamah dan memberi contoh baik untuk lingkungan sekitarnya.

  2. Semangat berproses Sultan! Semoga istiqomah yah. Tunjukkan bahwa kamu anak yg cerdas. Walau mungkin terlambat tapi kamu sudah menyadarinya dan mau memperbaikinya.

  3. MasyaAllah, anak anak mulai terbiasa melakukan kegiatan persipan wudu dan solat. Untuk Mas Sultan dan anak anak lainnya bisa lebih baik lagi

  4. semua kegiatan akan membutuhkan pembiasaan, seperti melipat lengan baju di kelas jadi jika sudah sampai tempat wudu anak harus sudah siap untuk wudu. dengan begitu anak akan mengerti bagaimana seharusnya bersikap. semoga ini bisa jadi pembelajaran bukan hanya untuk sultan namun semua siswa siswi SD Islam Hidayatullah 02

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *