Olahraga telah usai. Anak-anak segera berhamburan menuju kelas. Tidak lupa mereka membawa botol minumnya kembali ke dalam kelas. Kegiatan olahraga hari ini hanya lempar tangkap bola. Meski demikian, sebagian besar anak-anak terlihat berkeringat cukup banyak.

Pergantian pelajaran sebenarnya pukul 08.15. Namun, karena perlu istirahat pascaolahraga, pelajaran olahraga dicukupkan sampai pukul 08.00.

“Bu, boleh minum?” tanya anak-anak.

“Boleh,” jawab Bu Amik

“Makan bekalnya, boleh?” tanya Kennard.

“Silakan,” jawab Bu Amik.

Waktu istirahat, yang hanya sesaat itu, dimanfaatkan anak-anak dengan beragam kegiatan. Ada yang makan, ada yang sekadar minum. Ada pula yang membaca buku, atau sekadar cerita di tempat duduk bersama teman sebelahnya.

Terlihat Kennard sedang makan bekalnya: nasi dan ayam. Di sebelah Kennard, berdiri Hafidz dengan sedikit bersandar ke tembok. Tempat duduk Kennard memang di belakang, dekat tembok. Di depan mereka, di dekat lepak makan Kennard, terbuka sebuah buku jilid. Kedua anak ini memperhatikan buku jilid yang ada di depannya.

Sebaris demi sebaris mereka membaca tulisan-tulisan beraksara hijaiah itu. Mereka tidak bersama-sama membaca kalimat-kalimat berbahasa Arab itu, tetapi bergantian. Baris pertama Kennard yang membaca. Hafidz mendapat giliran  membaca baris kedua, begitu seterusnya.

Meski Hafidz dengan posisi membungkuk dan Kennard dengan posisi duduk sambil makan, mereka tetap menikmati untuk belajar ngaji bersama.

“Ken, yang dibaca ini jilid berapa?” tanya Bu Amik.

“Jilid 5, Bu,” jawab Kennard.

“Ken jilid 5?”

“Iya, Bu,”

“Kalau Hafidz, jilid berapa?”

“Jilid 6, Bu,” jawab Hafidz.

“Oh, jadi ceritanya Hafidz ngajari Kennard?” tanya Bu Amik meyakinkan diri.

“Iya, Bu, biar cepet naik jilid 6,” jawab Hafidz.

“Masyaallah. Hebat, ya, Hafidz mau ngajari Ken. Ken juga hebat mau belajar dengan Hafidz. Ayo, Ken, semangat, biar naik jilid 6,” tambah Bu Amik.

Bagaimana tidak menyenangkan, makan ditemani buku jilid dan teman yang siap ngajari ngaji. Teman yang peduli dan bersedia membantu agar cepat naik jilid.

Ternyata di antara mereka saling support. Tak kenal waktu istirahat atau saat jam pelajaran, di mana ada kesempatan untuk berbagi kebaikan, mereka akan lakukan. Semoga kebersamaan kalian dalam kebaikan tidak hanya sampai di sini saja, tetapi sampai tua kelak.

Bagikan:

By Suparmi

One thought on “Teman Makan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *