Hari yang istimewa. Senin, 20 Mei 2024, murid-murid kelas 1 terjadwal berkunjung ke Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah (Perpusda). Dua mobil Lembaga telah standby di lapangan. Direncanakan, pukul 07.15 rombongan berangkat dari Sekolah. Setelah apel dan tahfiz pagi.

Bu Wiwik gusar. Ia belum menemukan—lebih tepatnya: menentukan—solusi terkait pelaksanaan salat Duha pagi itu. Salat Duha memang sunah. Namun, bagi murid-murid, salat Duha merupakan salah satu rutinitas harian mereka di Sekolah.  Mereka akan kecewa jika tidak disempatkan salat Duha di Sekolah. Seperti ada yang kurang.

Beberapa pekan lalu, misalnya. Ketika murid-murid mengikuti SMAHA Traditional Festival (STF), salat Duha terpaksa tidak dapat dilaksanakan sebab waktunya yang tidak memungkinkan.

“Bu, ini wudu apa?” tanya seorang anak.

“Wudu Zuhur,” jawab Bu Wiwik singkat.

Lo, enggak salat Duha, dong?”

Tampak kekecewaan tergambar di raut wajah murid-murid.

Tak ingin rasa kecewa itu terulang lagi, Bu Wiwik memikirkan cara agar salat Duha tetap terlaksana. Ada beberapa opsi yang sempat terpikir. Salat Duha dilaksanakan sebelum berangkat, sepulang dari kunjungan, atau di sela-sela kunjungan. Opsi pertama hampir mustahil dilakukan. Sangat tidak etis jika kita bertamu, sudah janjian, tetapi datang terlambat. Opsi kedua berisiko jika ternyata kepulangan tidak sesuai jadwal. Opsi ketiga juga berisiko terkait ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi kunjungan.

Tahfiz hampir usai. Bu Wiwik masih cenderung pada opsi kedua. Iseng, Bu Wiwik membuka grup  WhatsApp Sekolah. Rupanya, pukul 06.40, Ustaz Adhit meneruskan informasi dari pihak Perpusda bahwa pelaksanaan kegiatan diundur 30 menit dari jadwal semula. Bu Wiwik segera merespons di grup dan meminta persetujuan dari Pak Kambali supaya murid-murid salat Duha dulu. Pak Kambali mengizinkan.

“Ustaz, jika anak-anak salat Duha dulu, pripun?” tanya Bu Wiwik kepada Ustaz Adhit.

Ustaz Adhit menjadi penanggung jawab kegiatan kunjungan kali ini.

“Kata Bu Ambar, mobilnya hendak digunakan unit lain, Bu,” respons Ustaz Adhit.

Bu Wiwik sedikit kecewa. Namun, ia ingin memastikannya. Tanpa berpikir panjang, Bu Wiwik menemui Pak Yuhanda dan Pak Kukuh—sopir armada—apakah ada kegiatan mendesak lain.

“Ngapunten, Pak. Jika keberangkatannya diundur 30 menit apakah memungkinkan? Ternyata pihak Perpusda ada kegiatan. Mobilnya mau dipakai unit lain, enggak, Pak?” tanya Bu Wiwik.

“Saged, Bu. (Kami) belum ada tugas lain,” respons Pak Yuhanda.

“Alhamdulillah. Anak-anak biar salat Duha dulu, nggih, Pak.

“Nggih, Bu. Santai mawon.”

Baca juga: Mengkhawatirkan

Bu Wiwik teramat lega. Salat Duha dapat terlaksana di waktu yang tepat dan minim—bahkan, tanpa—risiko. Kunjungan ke Perpusda dapat terlaksana tanpa rasa was-was. (A2)

Bagikan:
One thought on “Tanpa Was-Was”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *