“O, iya, Bu Eva, minta tolong nanti yang hari Senin ke Perpusda disampaikan ke anak-anak, nggih,” pinta Ustaz Adhit.

“Jadi tanggal 20, Ustaz?” tanya Bu Eva.

“Jadi, Bu,” jawab Ustaz Adhit sembari menganggukkan kepala.

“Oke, insyaallah, Ustaz.”

Bersyukur Ustaz Adhit mengingatkan. Karena sudah hari Jumat, hari terakhir anak-anak masuk di pekan berjalan.

Bu Eva berencana akan menyampaikan informasi itu pada jam pelajaran Matematika. Bu Wiwik juga berencana akan ke kelas 1 saat itu. Jadi, Bu Eva merasa lega karena akan ada yang melengkapi nantinya jika kurang informatif.

Kelompok BAQ Bu Eva selesai lebih awal daripada yang lain. Ya, karena hanya empat anak.

“Bu Eva pasti mau ke toilet,” seloroh Tristan.

Tristan sampai hafal kebiasaan gurunya itu.

“He-he, iya, Bu Eva ke belakang dulu, ya.”

“Iya, Bu,” respons Tristan sembari mengambil meja gurunya untuk dikembalikan.

“Terima kasih, Mas Tristan,” pungkas Bu Eva.

Tak berselang lama, Bintang mengembalikan peraga jilid 4.

Bel tanda selesai BAQ sudah berbunyi, Bu Eva bergegas menuju kelas. Rasanya tak nyaman jika berlama-lama meninggalkan anak-anak tanpa guru.

Satu per satu anak mulai memasuki kelas.

“Teman-Teman yang baru datang, bersegera lalu duduk di karpet,” pinta Bu Eva.

Bu Eva membuka dengan salam.

“Bu Eva mau cek kesiapan setiap kelompok dulu.”

Selintas anak-anak jadi lebih tertib. Karena mereka tahu akan dinilai.

“Alhamdulillah, Matahari sudah tertib,” ucap Bu Eva lalu menuliskan bintang untuk kelompok Matahari di papan tulis.

Kelompok Matahari: Aza, Tristan, dan Bintang.

Lima kelompok lainnya pun berhak mendapat bintang secara berurutan karena sudah tertib.

“Terima kasih, Teman-Teman.”

“Bu Eva punya pengumuman penting,” umpan Bu Eva.

Anak-anak menyahut penasaran.

“Insyaallah besok Senin, kita akan berkunjung ke suatu tempat yang isinya ada banyak buku. Ada yang tahu tempat apa?”

“Perpustakaan,” sahut beberapa anak.

“Betul sekali.”

“Perpustakaannya besar dan banyak sekali buku-bukunya. Nanti anak-anak bisa membaca buku apa saja di sana.”

“Waaah,” sahut anak-anak lagi.

“Tapi harus tenang, ya, Bu?” tanya Fathir.

“Iya, dong. Supaya yang lain nyaman.”

“Berangkatnya jam berapa, Bu?” selidik salah seorang anak.

Bu Eva melirik ke arah Bu Wiwik karena susunan acara belum Bu Eva terima. Bu Wiwik tampak membuka ponselnya lalu maju ke depan kelas membersamai Bu Eva. Alhamdulillah Bu Wiwik sudah punya informasi tambahan untuk disampaikan kepada anak-anak.

“Kemungkinan jam 11 kita sudah sampai di Sekolah,” ucap Bu Wiwik.

Bu Wiwik lantas menjelaskan jam keberangkatan dan apa saja yang perlu dibawa anak-anak. Tak lupa juga berpesan untuk selalu berperilaku sopan dan menjaga kebersihan.

“Yang dibawa ada buku ngaji, bekal, dan minum. Bekalnya tidak perlu berlebihan. Secukupnya saja.”

“Bu Wiwik belum tahu besok tetap ada mengaji atau tidak. Kalau ada informasi lebih lanjut nanti disampaikan di grup.”

“Kalau bekalnya menyisakan sampah, jika anak-anak tidak melihat tempat sampah di sekitar, maka sampahnya dimasukkan lepak dulu. Tidak boleh dibuang sembarangan.”

“Kemudian, mengembalikan bukunya juga harus sesuai. Jadi saat mengambil, anak-anak sambil mengingat mengambil bukunya di nomor berapa?” terang Bu Wiwik sambil memeragakan.

 “Salat Duhanya gimana, Bu?” tanya Aza.

“Insyaallah nanti salat Duhanya setelah sampai di Sekolah, Mbak Aza,” respons Bu Wiwik.

Bu Eva meyakini, Aza berkaca dari kegiatan-kegiatan sebelumnya yang dilaksanakan sampai siang hari. Dengan begitu, salat Duha memang jadi terlewat jika acara dimulai sejak pagi. Mungkin saja Aza mengkhawatirkan jika nantinya tidak sempat salat Duha. Meski ibadah sunah, jika rutin dilaksanakan memang seperti terasa ada yang kurang jika terlewatkan. Keren sekali jika seusia anak-anak sudah merasakan hal tersebut.

Bagikan:
One thought on “Mengkhawatirkan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *