“Bu, saya sudah baca. Bukunya tebel! Dapet daun berapa, Bu?” tanya Ridho.

Apresiasi guru kepada murid atas inisiatifnya membaca sendiri. Setiap satu buku, anak-anak mendapatkan satu daun. Kemudian ditempel di pohon. Sebutlah pohon ilmu. Pohon ilmu ini ditempel di sisi loker dan lemari kelas. Di setiap pohon tertera nomor absensi anak. Makin rajin membaca buku, maka makin lebat dan rindang pohonnya.

Baca juga: Sebelas Helai

“Coba Bu Shoffa lihat, tebalnya seberapa.”

Ridho bergegas mengambil buku yang dimaksud.

“Ini, Bu.”

“Wiiih, keren! Bener, nih? Baca sendiri?” tanya Bu Shoffa memastikan.

“Iya, Bu.”

“Ridho mau dapet berapa daun?”

“Terserah, Bu Shoffa,” jawab Ridho.

Sang guru terdiam sejenak. Berpikir berapa helai yang akan diberikan kepada muridnya. Akankah membuat makin semangat atau malah sebaliknya?

Kala itu, Ridho membaca buku komik yang halamannya berjumlah 210-an. Bu Shoffa juga mengecek setiap halamannya. Cukup panjang buat seusia mereka. Bu Shoffa pun memutuskan 20 halaman untuk sehelai daun. Namun, hal itu tidak tersampaikan ke anak-anak.

“1 …. 2 …. 3 …. 4 …. 5 …. 6 …. “ hitung Bu Shoffa sembari melihat mimik wajah muridnya. Ambil empat lagi, ya, Do!” perintah Bu Shoffa.

Beneran, Bu? Makasih, Bu Shoffa,” ungkap Ridho dengan wajah berbinar.

Saat akan menempel daun di sisi lemari. Ia melewati temannya yang masih asyik membaca buku di karpet. Ia pun memamerkan daunnya, “Aku dapet 10 daun, lo ….”

Teman-teman yang lagi asyik dengan buku bacaannya seketika langsung fokus ke Ridho.

Lain hari, Bu Shoffa mengonfirmasi kepada Bu Wiwik mengenai jumlah daun yang diberikan kepada muridnya. Apakah kebanyakan atau sudah sesuai. Alhamdulillah, jawaban Bu Wiwik melegakan.

Dan kesekian kalinya, saya belajar dari mereka. Terima kasih, Ridho!

Bagikan:
One thought on “Sepuluh Helai Daun”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *