Suasana Lebaran masih terasa. Tradisi bersalaman dan saling meminta maaf tidak lepas dari momen itu. Tepat di hari Kamis, 18 April 2024, Pak Kambali menyampaikan pesan perihal kegiatan di hari itu melalui grup WhatsApp Sekolah: tadarus mandiri pukul 07.30—08.30 di ruangan masing-masing, dan koordinasi pukul 08.30—selesai di ruang kelas 1. Yap, dugaan Bu Layla, koordinasi yang dimaksud setidaknya mencakup halalbihalal internal antarguru dan karyawan SDIH 02.

Sebelum kegiatan dimulai, Pak Kambali melakukan koordinasi kecil dengan Bu Wiwik dan Bu Ambar. Selesai acara itu, nyambung dengan koordinasi secara umum dengan semua Bapak/Ibu Guru SDIH 02. Pukul 08.00—08.19 Bu Layla sudah sampai di ruang kelas 1 karena sudah selesai kegiatan tadarus mandirinya.

Acara dibuka oleh Pak Kambali dengan refleksi kegiatan Ramadan, dilanjut persiapan KBM dan kegiatan siswa. Waktu menunjukkan pukul 08.50, Pak Kambali menyampaikan, bahwa beliau mengundang Pak Teguh untuk rawuh di ruang kelas 1. Wah, senang campur pekewuh rasanya Bu Layla mendengar berita dari Pak Kambali tentang ke-rawuh-an Pak Teguh.

Bagaimana tidak? Sang suhu yang seyogianya didatangi Bu Layla untuk ngangsu kawruh dan sungkem di hari raya Idulfitri ini. Lho, kok, malah beliau yang rawuh ke tempat kami. Di ruang kelas 1 SD Islam Hidayatullah 02. Eh, ternyata pemikiran Bu Layla diungkap pula oleh Pak Kambali ketika Pak Teguh rawuh. Bu Layla sedikit lega dengan pernyataan Pak Kambali. Artinya, ada kesepahaman antara keduanya. Namun, lagi-lagi Bu Layla masih ada kejanggalan dalam hatinya. Ada kekhawatiran atas kehadiran beliau karena hal ini kaitannya dengan tradisi saling memaafkan. Semoga Allah mengampuni kita semua. Amin.

Tiba saatnya Pak Teguh menyampaikan nasihat. Beliau tidak diberikan kisi-kisi dalam inti pembicaraannya itu. Sehingga beliau meyakini atas kebebasannya menyampaikan nasihat. Namun, intinya tidak jauh-jauh dari tema saling memaafkan.

“Bapak/Ibu, boleh saya ditunjukkan? Ayat di dalam Al-Qur’an perintah untuk meminta maaf?” tanya Pak Teguh.

Semuanya terdiam. Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Termasuk Pak Aruf yang ditanya pula oleh Pak Teguh. Namun, beliau tetap diam. Begitulah wujud ketawadukan Pak Aruf terhadap ilmu yang dimilikinya.

“Memaafkan manusia itu, ya, sudah tidak marah lagi. Kan ayatnya: wal-kāẓimīnal gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās,” urai Pak Teguh. Penggalan ayat dalam surah Ali Imrān sangat familier di telinga kita saat momen-momen halalbihalal pada bulan Syawal.

Pak Teguh flashback ke masa kecilnya di kampung halaman. Beliau mendeskripsikan tentang simbol-simbol yang ada di kampungnya. Termasuk penganalogian tentang “gapura” yang dimaknai “gafūra”. Sangat logis dengan penuh filosofi yang tersirat. Gapura, yakni suatu bangunan berupa pintu masuk suatu kawasan yang identik dengan pembatas pula. Sedangkan gafūra, dari bahasa Arab. Berasal dari kata Al-gafūr, isim mufrad  juga asmaulhusna yang memiliki arti Maha Pengampun. Siapa lagi kalau bukan Allah ‘Azza wa Jalla yang memiliki Żat itu? Namun, konteks ini sudah terbentuk oleh masyarakat di kampung Pak Teguh. Sejak kapan? Ya, tentunya tidak lepas dari pesan nenek moyangnya. Sebuah doktrin yang kuat. Siapa saja yang masuk ke wilayah gapura itu, maka sudah termaafkan segala kesalahannya. Dan, tentunya ketika keluar dari gapura, artinya semua kesalahan sudah dimaafkan pula.

 Setidaknya, masyarakat memiliki standar tinggi dalam memberikan pengampunan terhadap sesama. Standar Allah yang Maha Pengampun, yang memberikan ampunan untuk makhluk-Nya meski berkali-kali melakukan dosa. Wow, masyarakat setempat, kalau boleh penulis kategorikan, sebagai masyarakat madani. Meski tinggal di perkampungan dan tentunya masa itu semuanya masih terbatas. Namun, sudah terbentuk pemikiran sehingga menjadi ‘urf dalam masyarakat. Hal demikian tentunya sangat jarang, bahkan nihil di kota besar. Wallahu Alam.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *