“Asalamualaikum,” sapa seorang gadis kecil dari ambang pintu kelas.

“Waalaikumsalam,” respons Bu Wiwik.

Gadis itu meletakkan dua tasnya di depan pintu. Tas punggung dan tas jinjing. Dua-duanya berwarna ungu. Tas punggungnya berisi buku dan alat tulis. Sementara tas jinjingnya berisi bekal. Lehernya berkalung sebuah botol minum. Warnanya juga ungu. Gadis kecil itu lantas melepas sepatunya sambil duduk. Tak berselang lama, teman karibnya datang.

Kedua sahabat karib itu menuju kursinya. Mereka berdua merupakan anggota kelompok Es Krim. Selain keduanya, ada pula Daffa dan Rayya. Meja kelompok Es Krim tepat berada di depan meja Bu Wiwik.

“Aku capek, Bu…”, keluh Kalynn sambil meletakkan tas ungunya di atas kursi.

“Masih pagi, kok, sudah capek? Kalynn habis ngapain?” selidik Bu Wiwik.

“Iya, Bu. Soalnya hari ini Ibu berangkat setelah subuh, jadi aku harus bangun lebih pagi. Tadi Ibu berangkat jam 04.30,” jelas Kalynn sembari menghempaskan diri ke kursinya.

Baca juga: Menghitung Hari

“Begitu? Lalu yang ngantar (Kalynn) siapa?” tanya Bu Wiwik sambil melirik ke arah belakang kerudung gadis penyuka warna ungu itu.

“Tadi diantar Uti,” jawab Kalynn lugas.

“Yin (panggilan untuk Kalynn), ada laba-laba, tuh, di kerudungmu,” jelas Bu Wiwik.

Kalynn berjingkat dari kursinya. Laba-laba kecil yang dimaksud Bu Wiwik jatuh ke lantai. Naren, yang tengah memindahkan isi tasnya ke dalam laci, tersenyum melihat polah sahabatnya itu. Hampir saja Bu Wiwik hendak mengambil laba-laba itu. Namun, ia urungkan.

Dengan tenang, Naren mencoba mengambil laba-laba yang berlari kian kemari. Masih gagal. Si laba-laba mencari tempat berlindung. Sementara, Kalynn pergi menjauh dari meja kelompok Es Krim. Teman-teman mereka pun turut heboh. Namun, tidak demikian dengan Naren. Ia tetap mengamati ke mana perginya hewan berkaki delapan itu.

“Mbak Naren, bisa menggunakan tisu untuk mengambil laba-labanya,” saran Bu Wiwik.

Naren mengangguk lalu bergegas mengambil tisu. Tanpa rasa takut, Naren menjumput laba-laba kecil itu menggunakan tisu. Ia lantas membuangnya di tanaman depan kelas. Tak lupa, Naren memasukkan tisu bekas itu ke tempat sampah.

Bu Wiwik takjub dengan ketenangan Naren. Betapa tidak, saat kelas 1 dulu, Naren termasuk anak yang pemalu dan pendiam. Ia juga punya fobia terhadap jarum dan peniti. Kini, Naren berproses menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri. Bersyukur, Bu Wiwik dapat membersamai tumbuh kembang Naren dan menyaksikan sendiri bukti kedewasaanya. (A2)

Bagikan:
One thought on “Dewasa dan Mandiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *