“Teman-Teman, makannya sampai jarum panjang di angka delapan, ya!” pesan Bu Shoffa usai kapten memimpin doa sebelum makan.

Spontan para murid menoleh ke belakang. Mereka melihat jarum jam yang beringsut perlahan meninggalkan angka 4 menuju angka 5.

Oke, Bu,” jawab beberapa murid.

Para murid mulai melahap makanannya. Namun, pandangan Bu Guru berhenti di salah satu murid. Ia tertunduk di atas meja.

“Ridho, enggak makan?”

“Kata Mama aku pesen, Bu. Tapi tadi tak cek enggak ada namaku,” jelas Ridho.

Bu Shoffa segera mengecek lepak yang masih tersisa satu. Tertulis nama Adit. Ya, kala itu Adit izin untuk pulang terlebih dahulu. Bu Shoffa pun menelepon Ibu Dian (Ibunda Fillio), selaku penyedia katering. Namun, belum ada jawaban.

“Ridho, Bu Shoffa udah nelfon mamanya Fillio, tapi belum diangkat. Ridho makan punyanya Adit, ya. Hari ini Adit kan pulang gasik. Nanti Bu Shoffa bilang sama mamanya Fillio,” saran Bu Shoffa.

Enggak mau. Bu Shoffa tanya dulu sama mamanya Fillio. Aku takut mamaku enggak pesen, Bu,” jelas Ridho.

Deg. Bu Shoffa dibuat kaget oleh jawaban muridnya. Memang, jika terjadi seperti ini, biasanya anak-anak tidak mau makan yang di lepaknya tertulis bukan namanya. Namun, setelah diberi penjelasan, biasanya mereka jadi mau. Berbeda dengan Ridho. Ia tetap kukuh ingin memastikan mamanya pesan katering atau tidak.

Bu Wiwik mengetahui apa yang sedang terjadi pada Ridho. Bu Wiwik pun menawarkan jatah makan siangnya untuk Ridho. Namun Ridho menolak.

Enggak pa-pa. Ini buat Ridho. Bu Wiwik udah makan di kelas 1 milik Akbar,” jelas Bu Wiwik.

Ridho terdiam sejenak. Lalu mengambil makanan dari Bu Wiwik.

“Terima kasih, Bu Wiwik,” ucap Ridho.

Masyaallah. Sedari dini, Ridho sudah memegang prinsip tidak mau mengambil yang bukan miliknya.

Bagikan:
One thought on “Memastikan”
  1. Masyaallah, Ridho sudah memiliki prinsip tidak mau mengambil yang bukan miliknya. Semoga selalu istikamah dalam kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *