Jam dinding di kelas menunjukkan pukul 09.25. Ini menandakan istirahat pertama masih tersisa 5 menit. Meski demikian, tampak anak-anak mulai mempersiapkan diri untuk berwudu.

“Siap-siap wudu, ya, Bu? ” tanya Salma.

 “Iya,” jawab Bu Amik.

Beberapa detik kemudian, Salma  membuka kancing lengan bajunya. Namun, sudah dicoba tampaknya belum berhasil. Ia mendekati Bu Amik.

 “Bu Amik, minta tolong, bukain ini!” pinta Salma sambil menyodorkan tangannya yang belum terbuka kancing lengan bajunya.

Tiba-tiba, Nafiza mendekat.

“Sini, tak bukain,” kata Nafiza.

Bu Amik tidak jadi membantu membukakan kancing lengan baju Salma. Bu Amik lebih menyerahkan kepada Nafiza untuk membantu Salma.

Dengan bersungguh-sungguh, Nafiza berusaha membuka kancing lengan baju Salma. Salma pun dengan tenang menanti Nafiza membantunya. Sepertinya agak sulit, terbukti Nafiza butuh waktu lebih dari satu menit. Kendati demikian, ia tidak putus asa. Ia tetap berusaha membantu membukanya. Dan akhirnya berhasil. Tanpa ekspresi, Nafiza mengisyaratkan kepada Salma.

 “Dah,” kata Nafiza.

Salma lalu menyodorkan lengan yang satunya lagi. Lengan yang belum terbuka lengan bajunya. Walau tanpa berkata-kata, Nafiza pun paham kalau Salma minta bantuan lagi. Salma ingin lengan bajunya dibukakan. Nafiza melakukannya lagi, membuka kancing lengan baju Salma.

Tidak beda dengan yang pertama, lengan baju yang satu ini pun agak sulit dibuka. Meski demikian, Nafiza tetap brusaha. Dan akhirnya berhasil. Kembali Nafiza berkata, “Sudah.”

Salma tersenyum, dengan senyum khasnya.

Makasih, ya, Naf,” kata Salma.

“Ya,” jawab Nafiza pendek.

Beberapa detik kemudian, Nafiza dan Salma berjalan bersama menuju karpet untuk bersama-sama berdoa. Mereka hendak melafazkan niat wudu. Peringatan Bu Eva pun sudah terdengar.

“Anak-anak, yang sudah siap, segera ke karpet. Kita akan membaca niat wudu,” kata Bu Eva.

Setelah semua anak rapi, mulailah mereka melafazkan niat wudu. Tak terkecuali Nafiza dan Salma. Nafiza dan Salma duduk bersebelahan. Terdengar kapten memberikan aba-aba.

“Sikap berdoa! Tangan diangkat! Kepala menunduk! Berdoa mulai!”

“Niat wudu!”

Bismillāhirrahmānirrahīm.

Nawaitulwuḍū‘a li raf‘il-ḥadaṡil-aṣgari farḍal-lillāhi-ta’ālā.”

Mereka melafazkan niat wudu hingga selesai. Dilanjutkan berwudu untuk melaksanakan salat Duha di kelas.

Bagikan:

By Suparmi

3 thoughts on “Membuka Lengan Baju”
  1. Tidak diminta, tapi paham situasi. Tak berhenti di “paham”, tapi juga peduli dan mengambil sikap.

    Terima kasih, Bu Amik, memberi kesempatan kepada murid-muridnya agar makin subur sikap pedulinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *