Hari keempat Idulfitri. Hari terakhir menikmati suasana perdesaan di Dusun Jatirejo, Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung. Kenikmatan itu kian terasa nikmat. Rupanya di sana sinyal internet di HP saya ngadat. Sehingga saya bisa menikmati suasana desa dengan lebih dekat. Meski ada beberapa agenda tersendat, bahkan mampat, tak mengapa. Yang penting saya sudah berniat.

Pukul delapan pagi, saya dan keluarga meninggalkan rumah tempat kami bermukim selama beberapa hari ini. Rumah masa kecil ibu mertua. Beratap joglo dengan empat tiang di bagian dalam. Entah sudah berapa puluh tahun rumah itu berdiri. Halamannya luas. Berpagar jajaran pohon randu yang diikat dengan belahan bambu.

Di perjalanan, ada notifikasi WhatsApp. Beberapa pesan masuk. Entah kapan pengirimnya mengirimkan pesan-pesan tersebut. Saya buka dari yang paling bawah.

“Sebetulnya khitab tulisan ini paling tepat adalah untuk saya. Tapi saya ingin bagikan ini untuk Bu Wiwik ….”

Seperti itu takarir yang disematkan oleh pengirim pesan mengiringi tautan sebuah tulisan. Saya tidak segera membalas pesan tersebut. Saya mengeklik tautan itu. Saya baca hingga selesai. Saya baca ulang. Saya cari bahasan pokok dari tulisan itu. Ketemu.

“… di saat sulit, sejumlah pilihan jalan keluar harus ditemukan. Tidak semua jalan keluar itu ditempuh. Dari banyak pilihan itu ditetapkanlah fokus.”

Sambil sesekali menikmati pemandangan dari jendela mobil, saya mengingat-ingat kembali banyak hal yang sudah terlalui di Sekolah. Sekolah baru, mbabat alas, kata orang-orang. Tidak mudah. Namun harus tetap dihadapi. Dalam kondisi yang tidak mudah itu, kita harus berpikir kreatif. Kreatif menemukan solusi yang paling efektif.

Angan saya jauh melayang. Bertahun-tahun silam, saat masih mengajar di SDIH, saya mendapati kondisi yang berbeda dari biasanya. Bisa dibilang sulit. Betapa tidak, kala itu belasan keran wudu tidak bisa digunakan. Lebih dari 700 murid wudu dalam waktu yang hampir bersamaan, tentu tidaklah mudah. Pak Masyhar (Guru SDIH) menyikapi hal itu dengan cerdas. Beliau meminta murid-muridnya wudu satu per satu menggunakan satu keran yang sama. Wudu terlaksana dan mendapat bonus: membimbing murid-murid secara individual. Solusi yang kreatif dan efektif!

Terbukti, ada hikmah dalam setiap masalah. Masalah menuntut kita berpikir kreatif. Masalah membuat kita belajar. Tak jarang, masalah juga menempa kita menjadi dewasa. Dan, masalah terdekat saya: menikmati macetnya tol Solo—Semarang. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *