Merupakan rangkaian kegiatan bulan Ramadan, adalah sedekah subuh. Tanggal 6 Februari, anak-anak mendapat sebuah celengan berbentuk tabung berbahan plastik.

“Mulai besok, Anak-Anak menabung untuk sedekah subuh. Uangnya dimasukkan ke dalam celengan yang sudah dibagikan,” kata Bu Shoffa.

“Bu, kalau Mama ikut masukin uang ke celengan, boleh?” tanya Valda.

“Boleh.”

Di bagian bawah celengan, ditulis nomor absen anak-anak sebagai identitasnya. Hal itu untuk menghindari kekeliruan atau kekacauan jika ada yang hilang atau tertukar. Kemudian celengan dibagikan kepada anak-anak.

Pada hari Rabu, 27 Maret 2024, tibalah saatnya membuka celengan. Anak-anak mulai mengumpulkan celengannya di atas meja guru. Setelah semuanya terkumpul, Bu Shoffa menyampaikan terima kasih kepada anak-anak karena sudah mengumpulkan celengan tepat waktu.

Kemudian Bu Shoffa bertanya, “Siapa yang hari ini belum membawa celengan?”

“Saya, Bu,” kata Sabrina sambil mengangkat tangan.

“Besok tolong dibawa, ya, Mbak Sabrina,” pinta Bu Shoffa.

“Iya, Bu. Tapi aku belum pernah ke panti.”

“Besok, Mbak Sabrina bisa ikut ke panti bersama adik kelas 1,” tambah Bu Amik.

Sabrina tersenyum lebar, menampakkan raut muka bahagia.

“Anak-Anak, nanti yang paling tertib diberi kesempatan dulu untuk membuka  celengannya. Kemudian uangnya dihitung. Boleh sama Bu Shoffa, boleh sama Bu Amik,” kata Bu Shoffa.

Anak-anak pun duduk dengan tertib. Mereka ingin mendapat kesempatan yang pertama untuk membuka celengannya. Satu per satu dipanggil Bu Shoffa untuk maju dan mengambil celengannya, kemudian membukanya.

Naren, dilanjutkan Cemara. Kemudian Valda, Lintang, dan teman-teman yang lain. Celengan tidak ada kunci dan gemboknya, betul-betul tertutup, maka membukanya dengan cara dipotong dengan cutter.

Bismillāhirrahmānirrahīm...,” ucap Bu Amik memulai memotong dengan cutter celengan. Yang pertama dibuka adalah celengan milik Naren. Saat Bu Amik membuka, Naren menyaksikan.

 ”Bu Amik menyembelih celengan,” kata Naren sambil tersenyum.

“Iya, ya, Naren. Kalau menyembelih kambing besok hari Raya Kurban, ya,” jawab Bu Amik.

Teman-teman yang ikut mengantre pun tertawa.

Akhirnya semua celengan berhasil dibuka. Anak-anak yang celengannya telah dibuka, disilakan menghitung hasil tabungannya di tempat duduk masing-masing. Anak-anak sibuk menghitung uang dari celengannya.

“Bu, aku tidak bisa ngitung,” kata Rayya.

“Nadia, minta tolong, Rayya dibantu menghitung, ya,” kata Bu Shoffa.

“Ya, Bu.”

Melihat Nadia membantu Rayya menghitung uang celengannya, Kalynn mendekat. Tanpa banyak kata, ia langsung membantu menghitung. Mereka bertiga—Rayya, Nadia, dan Kalynn—terlihat melaksanakan tugas, yang tanpa sengaja telah terbagi. Rayya mengeluarkan uang dari celengan, Nadia merapikan uang, dan Kalynn menata uang yang sudah dirapikan serta menghitungnya.

“128, 129, 130, 131, … ,” ucap Kalynn saat menghitung sambil sesekali dibarengi Nadia.

“Seratus enam puluh tiga ribu.” Bilangan terakhir yang terucap dari mulut Kalynn setelah uang di atas meja telah habis.

“Bu Shoffa, sedekah subuhnya Rayya ada seratus enam puluh tiga ribu,” lapor Kalynn dan Nadia.

“Terima kasih, Nadia; terima kasih, Kalynn; sudah membantu Rayya menghitung uang sedekahnya.”

Membantu menghitung uang sedekah yang terkumpul, termasuk sedekah juga meski tak disadarinya.

Bagikan:

By Suparmi

One thought on “Bantu Menghitung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *