Jumat, 22 Maret 2024. Penerimaan rapor tengah semester. Waktunya pukul 08.00—11.00. Sebelum pukul 08.00, Bapak/Ibu Guru kelas 1 dan 2 mempersiapkannya. Ustaz Aruf bertugas di bagian presensi kelas 2, sedangkan Ustaz Adhit di kelas 1, bertempat di dekat pintu kelas. Wali kelas 1 dan 2 bertugas untuk melayani konsultasi jika diperlukan.

Pukul 08.00 lebih beberapa menit, orang tua/wali murid mulai berdatangan. Sebagian mengajak anaknya, sebagiannya lagi tidak. Saat Ustaz Aruf sedang berjaga di meja presensi, tiba-tiba Qaleed dan Iqbal mengintip di depan pintu.

“Qaleed dan Iqbal, mengapa wajah dan rambut kalian basah?” tanya Ustaz Aruf.

“Habis wudu, Ustaz. Tadi juga dilanjut salat Duha, Ustaz,” jawab Qaleed, yang mewakili jawaban Iqbal juga.

Loh, salat Duha di mana?”

“Di ruang BAQ (laboratorium komputer), Ustaz.”

“Wah, hebat! Sip,” puji Ustaz Aruf sambil mengacungkan jempol kepada keduanya.

Potrait Qaleed saat mengikuti City Tour ke Kampoeng Kopi Banaran.
Potrait Iqbal saat menikmati pembelajaran di kelas.

Masyaallah. Kebiasaan melaksanakan salat Duha di sekolah, sudah mulai melekat dalam diri beberapa anak. Qaleed dan Iqbal melaksanakan salat Duha secara mandiri di sekolah waktu penerimaan rapor tengah semester. Qaleed dan Iqbal melaksanakannya tanpa diminta, tanpa  disuruh, dan tanpa pendampingan dari Bapak/Ibu Guru. Kebiasaan dan kesadaran yang mendorong mereka untuk melaksanakannya. Dan alangkah lebih hebat lagi jika mereka lakukan tidak hanya di sekolah saja, tetapi juga di rumah ataupun di tempat lainnya. Alhamdulillah, Bapak/Ibu Guru merasa senang.

Bagikan:
One thought on “Terbiasa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *