Rabu (24/1/2024), pukul 16.23 ada pesan masuk via WhatsApp dari Pak Kambali disertai gambar dua ban yang belum tertata.

“Bu Shoffa, sore ini sy temukan ini. Nyuwun tlg ditindaklanjuti, njih.. cc: Bu Wiwik.”

Menindaklanjuti pesan Pak Kambali, paginya (25/1/2024), setelah penguatan dan afirmasi jurnal PPK, Bu Shoffa menanyakan kepada murid-murid “Siapa saja yang kemarin main bola sebelum pulang?”

Beberapa anak langsung mengangkat tangannya. Nayla, Nadia, Iqbal, Qaleed, Hafidz, dan Kennard.

Masyaallah. Padahal murid-murid tahu, kalau pertanyaan gurunya mengarah pada dua hal, yaitu ban sudan ditata atau belum ditata. Jika ban sudah ditata, murid-murid mendapat apresiasi. Jika ban belum ditata, yang bermain bola pada waktu itu akan mendapat kartu merah, artinya, tidak boleh main bola selama tiga hari.

“Bu Shoffa, tapi kemarin aku lupa-lupa ingat. Kayaknya aku ikut main, Bu,” ungkap Hafidz sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. Memang, ini salah satu kebiasaan Hafidz ketika ia bingung.

“Hafidz enggak ikut main, Bu,” sahut Nadia.”

“Aku juga lupa, Bu. Kemarin aku main bola apa enggak?” jawab Kennard.

“Kennard juga enggak ikut main, Bu,” sahut Qaleed.

Oke. Teman-Teman, ada yang tahu kemarin yang ikut main bola siapa saja?”

“Aku, Iqbal, Nadia, Nayla, Bu,” jawab Qaleed.

Oke. Terima kasih, Mas Qaleed dan Teman-Teman atas kejujurannya. Terima kasih juga, Mas Hafidz dan Mas Kennard. Padahal enggak main bola, tapi ikut angkat tangan.”

“Sesuai kesepakatan, ya. Kalau habis main bola, bannya harus ditata. Kalau belum ditata ….”

Dikasih kartu merah!” jawab murid-murid serempak.

“Jadi, Qaleed, Iqbal, Nayla, Nadia, mulai hari ini belum boleh main bola dulu, ya.”

“Iya, Bu. Gak pa-pa,” jawab Nadia.

“Berarti enggak boleh main bola sampai hari apa, Bu?” tanya Qaleed.

“Sampai hari Senin, ya. Kamis, Jumat, dan Senin. Selasa boleh main lagi.”

Oke, Bu.”

Hari ini Bu Shoffa sangat senang. Karena seusia mereka, anak-anak sudah terbiasa berbicara apa adanya. Padahal, pembicaraan gurunya mengarah kepada apresiasi atau konsekuensi. Jika apresiasi, alhamdulillah. Tentunya, hal ini sudah diterapkan di rumah. Dan Bapak/Ibu Guru meneruskan dan membiasakan hal baik itu di sekolah. Semoga kami bisa membersamai murid-murid menjadi generasi Khairu Ummah.

Bagikan:
3 thoughts on “Jujur”
  1. Alhamdulillah, anak-anak memiliki sikap jujur, semoga menjadi contoh baik untuk sekitarnya.

  2. Jadi ingat akam pesan Pak Kambali kepada anak-anak. Syarat menuntut ilmu ada dua: jujur dan nurut. Semoga Allah senantiasa membimbing anak-anak selalu dalam kejujuran. Aamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *