Materi menari yang diajarkan kepada anak-anak semula untuk kepentingan pelajaran SBdP. Namun, ternyata SD Islam Hidayatullah 02 akan mengadakan open house. Tajuknya Festival Ceria. Latihan menari kemudian sekalian dipersiapkan untuk pentas Festival Ceria.

Tari yang dipilih adalah tari Jaranan. Tarian ini cocok untuk anak-anak kelas 2, yang sebagian besar aktif. Selain itu, agar anak-anak mengenal lagu Jawa. Kostumnya pun sederhana.

Selama hampir 3 pekan, setiap jam pelajaran SBdP digunakan untuk latihan menari. Bahkan sepekan sebelum pentas, jam pelajaran lain sering digunakan untuk latihan. Sebagai pengganti kuda kepang yang merupakan propertinya, anak-anak menggunakan kardus. Gerakan tariannya meniru dari YouTube.

Sepuluh hari menjelang pentas, ada hal yang harus dikerjakan yaitu mencari info tentang penyewaan properti tari berupa kuda kepang. Bu Amik belum tahu tempat menyewa kostum dan properti tari di wilayah Banyumanik atau Semarang. Sempat ada ide untuk membeli jaran kepang, dan Pak Kambali selaku Kepala Sekolah juga sudah memberi izin. Di grup percakapan WhatsApp sudah mulai ramai didiskusikan kostum dan properti kuda  kepang, termasuk kostum untuk anak putri.

Sabtu menjelang isya, ada telepon masuk. Ternyata mama Langit. Mama Langit menyampaikan kalau mama Haqqi sudah mendapat tempat penyewaan kostum sekaligus kuda kepang. Alhamdulillah, Bu Amik sangat bersyukur. Info selanjutnya, masih dari mama Langit, bahwa kostum dan kuda kepang akan dikirim Jumat. Tak disangka, Kamis, sebuah mobil parkir tepat di depan pintu masuk selasar kelas 2. Mobil itu membawa kostum dan kuda kepang.

Mama Haqqi turun bersama seorang ibu. Mereka membawa dua tas besar berisi kostum pentas. Tidak berselang lama, kuda kepang pun diturunkan dari mobil. Begitu melihat kuda kepang dibawa masuk ke kelas, anak-anak bersorak girang.

“Yeee … kudanya sudah datang!”

Satu kemudahan yang Allah berikan.

Setelah semua kostum dibawa masuk ke dalam kelas, ibu tersebut menjelaskan bagian-bagian kostum dan cara memakainya. Baik kostum untuk anak laki-laki maupun perempuan.

Ia juga berpesan, “Jika ada yang kurang, tolong kami dikabari, nggih, Bu.”

Inggih, Bunda,” jawab Bu Amik.

Kostum yang dibawa sudah dipilah-pilah untuk tiap anak. Jadi, Bu Shoffa dan Bu Amik tinggal membagikan.

Mereka langsung memegang, meminjam dan menunggangi seolah seperti kuda sungguhan.

“Bu, nanti latihannya pakai kuda ini, ya?” tanya Kennard.

“Iya,” jawab Bu Amik.

“Anak-Anak, kardus ini sudah tidak kita gunakan lagi. Siapa yang mau membantu membawakan kardus ini ke gudang?” lanjut Bu Amik.

Tanpa menunggu lama, beberapa anak bergegas mengambil kardus yang sebelumnya digunakan sebagai properti tari jaranan. Mereka adalah Adit, Ridho, Fillio, Haqqi, dan Qaleed.

“Sudah semua?” tanya Bu Amik sekembalinya mereka ke kelas.

“Sudah, Bu,” Jawab mereka hampir serempak.

“Disimpan di mana tadi?” tanya Bu Amik memastikan.

“Di ruang UKS putra, Bu,” jawab Qaleed.

Oke. Sip. Makasih, ya, Anak-Anak hebat.”

Ruang UKS putra sebenarnya ruang kosong yang menurut rencana akan dijadikan ruang UKS putra. Namun, karena belum difungsikan, sementara dimanfaatkan untuk gudang.

Hari kamis itu, kuda kepang langsung digunakan untuk latihan. Mereka bersemangat sekali dalam latihan.

“Anak-Anak, besok sudah gladi bersih, jadi latihannya tinggal hari ini. Tolong latihannya yang serius, ya,” pesan Bu Amik.

“Iya, Bu,” jawab anak-anak.

“Besok saat pentas, jika ada yang lupa gerakannya, ikuti Qaleed saja,” tambah Bu Amik. Menurut Bu Amik, Qaleed, yang berada di barisan paling depan dalam tarian itu, sudah sangat hafal gerakannya.

Hari Jumat terjadwal gladi bersih. Pukul 07.25 anak-anak sudah berbaris rapi menuju lapangan futsal, tempat pentas. Mereka berjalan berurutan satu-satu sambil membawa kuda mereka.

Saat gladi bersih, mereka menunjukkan latihan yang sungguh-sungguh. Sebagian guru yang menyaksikan gladi bersih tari Jaranan, memuji.

“Wah, pas dengan kelas 2 yang aktif, yang energinya berlebih. Jadi bisa tersalurkan,” komentar Bu Wiwik.

“Yang depan, menarinya sangat serius, kayak ada nyawanya,” kata  guru yang lain.

Tetapi siapa menduga, saat pentas ternyata ada insiden kecil yang mewarnai pentas tari Jaranan.  Salah satu peserta tari ada yang terperosok di belakang panggung.  Herannya, hampir tidak ada yang mengetahui insiden itu. Hanya Bu Rizqa sebagai pemandu acara Festival Ceria yang sempat melihat.

Bu Rizqa menceritakan insiden tersebut, 4 hari kemudian. Bu Amik kaget juga mendengar cerita Bu Rizqa dan hampir tidak percaya.

Esok harinya Bu Amik mengonfirmasi kepada anak-anak.

“Anak-Anak, saat pentas Sabtu kemarin katanya ada yang jatuh. Benarkah?” tanya Bu Amik.

“Iya, Bu,” jawab beberapa anak laki-laki.

“Siapa yang jatuh?”

“Hafidz, Bu.”

“Iya, Mas Hafidz? Sakit, nggak?”

Nggak, Bu,” jawab Hafidz sambil tersenyum.

“Terus naiknya ke panggung bagaimana? Ada yang menolong, nggak?”

“Ya, naik aja. Nggak ada yang menolong. Kan panggungnya pendek, Bu. Gampang, kok.”

“Alhamdulillah.”

“Terima kasih, ya, Anak-Anak hebat. Kalian sudah tampil sangat bagus.”

Bagikan:

By Suparmi

3 thoughts on “Kuda Kepang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *