Rabu (24/1/2024), usai jemaah salat Zuhur, para murid dipanggil satu per satu kembali ke kelas. Mereka dipanggil dari yang paling tertib. Seketika, mereka langsung memosisikan diri.

Para murid kelas 2 yang sudah dipanggil bersegera saling membantu mengambilkan lepak makan siang milik teman-temannya untuk dibawa ke kelas. Sebelumnya, para murid terpantik dari kebiasaan baik Ridho, yaitu suka membantu.

“Bu Shoffa, Bu Shoffa, Itaf jatuhin lepak ….” lapor beberapa siswa saat Bu Guru keluar dari musala.

“Iya,” jawab Bu Shoffa sembari menganggukkan kepalanya.

Kala itu, Bu Shoffa menuju kantor TU untuk mengambil makan siang. Untuk menuju kantor TU harus melewati ruangan kelas 2 dan 1, karena kantor TU terletak di sebelah utara kelas 1. Bu Shoffa melewati Itaf yang masih membereskan makanan yang terjatuh dari lepak.

“Itaf tadi bawa berapa lepak?” selidik Bu Shoffa.

Segini,” jawab Itaf sembari memeragakan tumpukan lebih dari empat lepak.

Dari raut wajahnya, Itaf tampak sedih.

Sebelumnya, Bapak/Ibu Guru berpesan maksimal membawa empat lepak. Namun, kali ini Itaf tidak mengindahkan nasihat Bapak/Ibu Guru.

O, ya udah gak pa-pa, yang penting Itaf tanggung jawab, ya,” jelas Bu Shoffa.

Bu Shoffa meninggalkan Itaf menuju ruang TU.

Bu Shoffa sudah mengambil makan siang dan menuju ke kelas. Bu Shoffa melihat Itaf memberikan lepaknya kepada Rendra.

Rendra pun bingung. Lepak itu bukan milknya. Tertulis nama Itaf di lepak. Kebetulan Rendra baru keluar dari musala. Sehingga ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Ridho membantu menjelaskan kepada Rendra. Rendra pun menerimanya dan duduk di kursi.

Para murid sudah duduk di kursi masing-masing. Tiba waktunya kapten memimpin doa sebelum makan. Kemudian, para murid menyantap makanannya dengan lahap.

Bu Shoffa menghampiri Itaf, yang duduk di atas karpet. Pertama, Bu Guru mengapresiasi atas inisiatifnya yang sudah mengambilkan lepak milik teman-teman. Tak lupa, Bu Guru juga menguatkan tentang pembatasan membawa lepak.

Itaf mengangguk. Ia paham. Ia juga berjanji akan mengindahkan pesan Bapak/Ibu Guru.

Bu Guru pun menawari Itaf untuk makan. Tapi, ia menolak. Tak hanya itu, Bu Guru juga menawari Itaf untuk diteleponkan mamanya. Itaf juga menolak. Ia memilih membaca buku di atas karpet.

 Tanpa diketahui Itaf, Bu Guru menelepon mamanya. Bu Guru menyampaikan kejadian siang ini dan berpesan agar Itaf dijemput tepat waktu. Karena siang ini Itaf belum makan. Bersyukur, lepak yang jatuh hanya satu. Terima kasih, Itaf.

Bagikan:
3 thoughts on “Tanggung Jawab”
  1. Semoga Itaf bisa menjadi contoh baik untuk lingkungan sekitar dan teman-temannya.

  2. Alhamdulillah, semoga sikap baik ini terinternalisasi pada diri Itaf. Lalu menular kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *