Rayya berjalan menuju ke tempat sampah yang ada di pojok depan kelas. Langkahnya perlahan tapi pasti. Tangannya menggenggam sesuatu. Setelah sampai di dekat tempat sampah, ia berhenti. Dengan gerakan seperti membuang sesuatu ke tempat sampah. Tetapi siapa sangka, kalau ternyata Rayya tidak membuang apa-apa. Ia tidak memasukkan sesuatu pun ke tempat sampah. Sesuatu yang ada di genggamannya, ternyata dimasukkan ke dalam saku bajunya.

 Rayya memberikan benda yang digenggamnya kepada Iqbal. Iqbal tidak mau menerima. Benda itu dibuang. Benda itu adalah manik-manik berwarna putih.

Sederhana sih bendanya, hanya manik-manik kecil. Namun, itu merupakan awal keduanya bersitegang dan sama-sama menangis.

“Bu, Iqbal nangis, Bu,” lapor Ridho.

“Iqbal kenapa menangis?” tanya Bu Amik.

“Mainannya diambil Rayya, Bu,” jawab Ridho.

“Ridho tahu? Ridho lihat sendiri?” tanya Bu Amik.

“Iya, Bu.”

Jam pelajaran Bahasa Indonesia kali ini dipakai untuk latihan menari. Beberapa hari lagi, SD Islam Hidayatullah 02 akan menyelenggarakan Festival Ceria. Kelas 2 turut meramaikan acara tersebut dengan menampilkan tari. Anak putri akan menampilkan tari Wonderland Indonesia. Sedangkan untuk anak putra tari Jaranan. Mengingat hari Kamis dan Jumat libur dan pentas tinggal beberapa hari lagi, maka hari itu diadakan latihan di luar jam pelajaran SBdP.

Anak-anak sangat antusias untuk latihan.

“Bu, nanti latihan, kan, Bu?” tanya Langit.

“Iya,” jawab Bu Amik.

“Anak putri juga, ya, Bu?” tanya Hasna.

“Iya.”

Latihan menari telah selesai. Anak-anak persiapan wudu, yang didahului dengan tepuk wudu. Mereka duduk di karpet sesuai kelompok masing-masing. Tiba-tiba terdengar laporan Ridho kalau Iqbal menangis. Bu Amik mendekati Iqbal dan Rayya untuk merunut kejadian sebenarnya.

Ridho pun menceritakan kejadian yang dilihatnya.

“Saat itu, Iqbal sedang mainan manik-manik. Terus jatuh. Terus diambil Rayya,” cerita Ridho.

“Betul begitu, Mas Rayya?” tanya Bu Amik memastikan.

Rayya diam. Rayya hanya mengangguk. Rayya pun menangis. Rayya dan Iqbal sama-sama menangis. Itaf, yang melihat kondisi itu, melerai dan memeluk Rayya.

Bu Shoffa telah kembali dari ruang Kepala Sekolah. Dalam hati Bu Amik bersyukur, bisa berbagi tugas. Bu Shoffa langsung mengondisikan anak-anak yang telah siap di karpet.

“Yang sedang ada keperluan dengan Bu Amik, silakan diselesaikan dulu di luar karpet. Yang tidak, siap-siap untuk tepuk wudu,” kata Bu shoffa.

Kapten telah siap. Seperti biasa, kapten memberi komando kepada teman- teman untuk melakukan tepuk wudu.

Iqbal, Rayya, Itaf, Daffa, Ridho, dan Bu Amik segera ke pinggir, keluar dari karpet.

Ridho kembali menjelaskan dari awal.

“Iqbal ngambil manik-manik untuk mainan, lalu jatuh,” cerita Ridho.

“Terus Rayya langsung ngambil manik-manik itu, mau dibuang. Sebelum dibuang disimpan di kantongnya,” imbuh Daffa.

“Yang dijelaskan Mas Ridho betul begitu, Mas Rayya?” tanya Bu Amik mengonfirmasi.

“Kalau menurut Iqbal, bagaimana?” tanya Bu Amik.

“Pertama kan main, terus jatuh ke sini. Terus diambil Rayya, gitu,” kata Iqbal.

“Itu mainan apa?” tanya Bu Amik.

“Misalkan ini manik-maniknya, aku Rayya, terus ambil manik-manik yang jatuh,” sela Daffa sambil memeragakan seperti mengambil sesuatu di karpet.

“Terus mainannya dimasukkan ke kantong. Lalu Iqbal bilang, ‘itu mainanku.’ Tapi,” lanjut Daffa “Rayyanya malah jalan ke sana mau membuang, tapi nggak jadi, karena mau dikasihkan Iqbal lagi. Iqbal ambil mainannya lagi lalu dilempar, karena Iqbal sudah kesal.”

“Buang aja itu, besok beli lagi,” sela Iqbal sambil menangis.

“Kenapa mainan Iqbal kok tadi diambil, Mas Rayya?”

“Dulunya pernah diganggu sama Iqbal,” jawab Rayya.

Rupanya, di masa lalu Rayya pernah merasa tidak nyaman dengan Iqbal, dan itu Rayya masih ingat.

“Oh, begitu. Ya sudah, sekarang Mas Rayya minta maaf, ya, sama Mas Iqbal. Mas Iqbal juga minta maaf sama Mas Rayya,” pinta Bu Amik.

“Maaf, Iqbal,” kata Rayya sambil mengulurkan tangannya.

“Iya,” kata Iqbal.

“Maaf, ya, Rayya,” kata Iqbal.

Mereka pun bersalaman, dilanjutkan bersama-sama melafazkan niat wudu. Ada kekhawatiran, luka di hati Rayya di masa lalu belum sembuh. Siang ini (12/02/2024) seusai latihan tari, Bu Amik mempertemukan Rayya dan Iqbal. Bu Amik ingin memastikan, apakah Rayya betul-betul telah ikhlas memaafkan. Apakah yang dilakukan Rayya tempo hari, meminta maaf kepada Iqbal hanya karena terpaksa atau tidak. Selain itu, Bu Amik juga ingin tahu, persoalan apa yang menjadikan Rayya masih mengingatnya.

“Mas Rayya, dulu pernah kesal sama Mas Iqbal karena apa? Bu Amik boleh tahu, nggak?” tanya Bu Amik

Nggak izin,” jawab Rayya.

Nggak izin bagaimana?” tanya Bu Amik masih belum paham.

“Dia ambil tali, nggak izin,” jawab Rayya.

“Oh, yang tali kaus kaki itu?” tanya Iqbal menyela.

“Iya,” jawab Rayya sambil menunjukkan kaus kakinya.

“Kejadiannya kapan itu? Apakah saat kelas 1?” tanya Bu Amik menduga.

Nggak, Bu. Itu pas kelas 2. Kayaknya pas semester 1,” jawab Iqbal.

“Mas Rayya masih kesel?”

“Iya.”

Lha, kemarin mengambil manik-manik milik Mas Iqbal, maksudnya apa?”

“Dia ngambil nggak izin,” jawab Rayya.

“Oh, maksudnya mau balas, gitu?” tanya Bu Amik mencoba menyimpulkan.

“Iya.”

“Nah, Mas Iqbal sekarang sudah paham?”

“Iya.”

“Terus, baiknya bagaimana?”

“Minta maaf.”

Kemudian Iqbal minta maaf kepada Rayya. Rayya pun minta maaf kepada Iqbal.

“Mas Iqbal sudah ikhlas kejadian kemarin?” tanya Bu Amik memastikan.

“Sudah,” jawab Iqbal.

“Mas Rayya, apakah masih kesel sama Mas Iqbal?”

Nggak.

“Sudah Ikhlas?”

Hu-uh.”

“Mas Iqbal juga sudah ikhlas?”

“Iya.”

Lega rasanya, melihat keduanya sudah sama-sama tahu kesalahan masing-masing dan sama-sama ikhlas.

Bagikan:

By Suparmi

2 thoughts on “Manik-Manik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *