Ustaz Hasan di acara peletakan batu pertama pembangunan gedung SD Islam Hidayatullah 02

Akankah saya tahan terus? Sampai kapan? Hingga rapat berakhir? Tidakkah ada kemungkinan rapatnya berakhir molor? Bukankah itu tidak baik untuk kesehatan? Bukankah sudah ada mekanisme standar untuk menyelesaikan masalah saya? Dan semua orang pasti memaklumi hal itu?

Akhirnya saya putuskan untuk matur, “Mohon maaf, saya mohon izin ke kamar mandi.” 

Alhamdulillah, Pak Eko—Direktur LPI Hidayatullah—mempersilakan saya. Sebetulnya, saya sudah menduga, pimpinan rapat akan memberi izin.  Namun, terkadang saya khawatir memotong pembicaraan. Di sisi lain, saya juga menyadari, saya memang sering ke kamar mandi. Apalagi bila minum banyak. Dan saat rapat biasanya saya butuh banyak minum. 

Saya keluar ruangan menuju kamar mandi. Baru beberapa langkah dari pintu ruangan, saya mendapat sapaan, “Asalamualaikum, Pak Kambali.” 

Saya berpapasan dengan Ustaz Hasan Toha—Ketua Dewan Pembina Yayasan Abul Yatama. Setelah bersalaman, beliau menyampaikan banyak hal kepada saya. Selain saya, ada juga Bu Nurul—staf Yayasan—yang berdiri di dekat saya. Apa yang disampaikan Ustaz Hasan, Bu Nurul ikut mendengar dan menyimaknya.

“Pak Kambali harus membiasakan tujuh amalan ibadah. Guru-guru di SD 02 juga harus Pak Kambali ajak.”

Nggih, Ustaz.”

“Salah satunya, menjaga wudu. Itu, kalau guru SD 02 saat mengajar, berwudu terlebih dahulu, maka apa yang diajarkan akan mudah diterima oleh murid-murid.”

Nggih, Ustaz.”

Saya termasuk yang meyakini apa yang disampaikan oleh Ustaz Hasan Toha. Begitu banyak keutamaan berwudu yang pernah saya baca dan pelajari. Secara teori sudah tuntas: menjaga wudu termasuk hal yang sangat baik untuk dibiasakan. Praktiknya? Itu tantangan untuk saya. 

Saya masih ingat, ketika masih usia SMP, saya disuruh oleh Mbak Maroah—kakak kandung saya—untuk berwudu dulu sebelum berangkat sekolah. Saya protes, “Wudu, kan, untuk salat. Saya, kan, mau berangkat sekolah, bukan mau salat.”

Itu sama dengan anak-anak kelas 2 SD yang bertanya ketika melihat saya sedang wudu, “Pak Kambali mau salat apa?”

Baca juga: Tes Wudu

Saya lupa penjelasan Mbak Maroah saat itu. Yang saya ingat: akhirnya saya nurut. Tapi belum bisa setiap hari. Hanya saat ingat saja. 

Alhamdulillah, Selasa (13/02/2024) itu saya mendapat ilmu, bukan hanya dari kegiatan rapat, melainkan juga saat saya izin keluar rapat. 

Terima kasih, Ustaz Hasan, atas ilmunya. Insyaallah saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membiasakan menjaga wudu. Lalu menularkannya kepada teman-teman guru SD 02. Dengan begitu, saya yakin, murid-murid lebih mudah mengikuti gurunya, membiasakan menjaga wudu. Bukankah menjaga wudu termasuk sunah Rasulullah saw.?

Bagikan:
3 thoughts on “Menjaga Wudu”
  1. Maasyaallah…
    Terima kasih, ilmunya, Pak Kambali.
    Saya jadi ingin menceritakan ini kepada anak-anak.

    1. Maasyaallah, banyak sekali hal positif yang akan kita dapatkan dengan menjaga wudu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *