Srondol Wetan, 17 Februari 2024

Sembilan belas anak duduk bersila di atas panggung. Mereka terbagi menjadi dua baris. Sepuluh anak perempuan di barisan depan, sembilan anak laki-laki di barisan belakang. Karpet biru terhampar sebagai alasnya. Ups, seorang anak datang menyusul ketika aksi teman-temannya tengah berlangsung. Tanpa canggung dia segera bergabung di dalam barisan.

Murid-murid kelas 1 SD Islam Hidayatullah 02 (SDIH 02) mengawali gelaran Festival Ceria di sekolah mereka. Tujuh ayat surah Al-Fātiḥah mengalun rampak. Nada, irama, dan temponya kompak. Menyambung berikutnya, lantunan nazam asmaulhusna. Untaian zikir berisi 99 nama Allah gubahan K.H Amdjad, ulama yang berdomisili di Semarang, itu dipungkasi dengan doa.

Festival Ceria resmi dibuka. Bu Umi dan Bu Rizqa, dua guru SD Islam Hidayatullah (SDIH 01) memandu acara. Nadia, murid kelas 2 SDIH 02, dipanggil ke panggung. Dengan busana serba putih, Nadia naik ke panggung dengan mendekap mushaf Al-Qur’an di dadanya. Setelah duduk bersila, gadis belia itu meletakkan mushaf dan membukanya di meja lipat kecil di depannya. Dua ayat Al-Qur’an mengalun syahdu dari lisannya. Dengan khidmat, Nadia membaca surah An-Nisā’ ayat 135 dan 136 secara fasih dan tartil.

Nadia (kelas 2) menyuguhkan tilawah Al-Qur’an

“Festival ini selain menjadi ajang lomba, juga sebagai ajang silaturahmi,” ujar Pak Kambali, Kepala SDIH 02, dalam pidato sambutannya.

Kepala Sekolah juga mengapresiasi guru-guru TK atas dedikasi tulus mereka dalam pendidikan akhlak anak-anak. Pak Kambali menyatakan, SDIH 02 berkomitmen untuk melanjutkan ikhtiar membangun akhlak anak-anak agar kelak tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang berakhlak karimah.

Kepada segenap peserta dan pengunjung festival, Pak Kambali tidak lupa mengenalkan sekolahnya, yang baru memasuki tahun ketiga masa operasionalnya. Selain calon gedung yang masih dalam proses pembangunan, beliau juga mempromosikan salah satu program yang digarap secara serius di SDIH 02.

“Kami berupaya mengawal kecakapan literasi dan numerasi anak-anak. Salah satu wujudnya, menggiatkan budaya menulis. Guru-guru kami rutin menulis, yang sebagian sudah dibukukan,” paparnya.

Selaras dengan keratabasa bahwa guru itu digugu dan ditiru, kebiasaan guru-guru menulis pun menular kepada anak-anak.

“Alhamdulillah, anak-anak SD Islam Hidayatullah 02 juga sudah punya karya (tulisan—red.) yang dibukukan,” imbuh Pak Kambali.

Progres pembangunan gedung empat lantai untuk SD Islam Hidayatullah 02

Senada dengan Pak Kambali, Ketua IGTKI Kecamatan Banyumanik berharap, festival yang terselenggara atas kerja sama antara SDIH 02 dan IGTKI-PGRI Kecamatan Banyumanik ini bukan semata-mata ajang perlombaan.

“Harapan kami, kegiatan ini bukan sekadar ajang untuk berkompetisi, melainkan juga menjadi ajang untuk mengembangkan potensi, pembentukan karakter sesuai profil pelajar Pancasila, dan peningkatan sinergi dalam rangka menciptakan generasi yang lebih baik,” ungkap Bu Sari, Ketua IGTKI Kecamatan Banyumanik.

Pada kesempatan yang sama, Bu Suci, mewakili Direktur LPI Hidayatullah, mengabarkan bahwa pihaknya masih membuka kesempatan kepada masyarakat yang hendak menyekolahkan putra-putrinya di SDIH 02.

“Di sana ada stan PPDB jika ingin bertanya tentang bagaimana SD Islam Hidayatullah 02,” ucapnya, sambil menunjuk stan bazar di sebelah kiri panggung.

Ustaz Edrus, mewakili Yayasan Abul Yatama, turut memberikan pidato sambutan sebelum membuka secara resmi Festival Ceria.

“Yayasan akan melengkapi SD Islam Hidayatullah 02 dengan sarana dan prasarana terbaik. Kami juga akan menyediakan guru-guru terbaik,” kata Ustaz Edrus dalam sambutannya.

Sementara itu, Koordinator Satuan Pendidikan (Korsatpen) Kecamatan Banyumanik kembali menekankan pentingnya pendidikan karakter.

“Beberapa tampilan yang kita saksikan hari ini merupakan ajang kreativitas anak-anak kita, yang tentunya akan menjadi modal dasar dalam pembentukan karakter anak-anak bangsa kita,” ungkap Korsatpen, Bapak Suparno.

Di atas panggung Festival Ceria ini, gaung pendidikan karakter terdengar sedemikian lantang. Lalu, bagaimana pengejawantahannya dalam aksi nyata? Setidaknya, dua aksi spontan yang sempat terekam kamera ini bisa menjadi penyejuk pandangan mata.

Pertama, dua bocah mendadak jongkok ketika hendak minum. Di sela-sela kegiatan festival, seorang bapak datang menghampiri dua bocah yang tengah berbaur dengan para pengunjung di lapangan. Rupanya si bapak mengantar dua botol minum, satu untuk anaknya dan satunya lagi untuk teman anaknya. Belakangan diketahui, dua bocah itu bernama Gibran dan Rafa. Keduanya murid kelas 1 SDIH 02.

Gibran (foto kiri) dan Rafa (foto kanan) mendadak jongkok demi menetapi adab minum.

Spontan Gibran berjongkok sebelum menenggak air dari botol pemberian ayahnya. Rafa pun melakukan aksi serupa. Usut punya usut, dalam keseharian di Sekolah mereka dibiasakan minum sambil duduk. Jika ada anak yang lupa, teman atau gurunya yang melihat tidak sungkan mengingatkan.

Pemandangan kedua, sandal-sandal berbaris di samping panggung. Pemandu acara memanggil anak-anak kelas 1 SDIH 02 ke pentas. Mereka didaulat menampilkan tari “Kembali ke Sekolah”. Dua puluh anak, satu per satu menaiki tangga panggung. Sebelum menapaki tangga, anak-anak itu melepas dan memarkir sandal-sandal mereka di samping panggung. Sembilan belas pasang sandal berjajar dalam lima baris.

Barisan sandal yang ditinggal pemakainya ke panggung

Entah sebab apa, sepasang sandal menghadap ke arah berbeda. Barangkali si empunya sandal tergesa-gesa hingga lupa untuk menata sandalnya. Lalu, teman-temannya tidak melihat atau tidak sempat merapikannya. Menurut penuturan para guru, biasanya ada anak yang secara sukarela mengambil tanggung jawab ketika temannya lalai.

Hanya urusan minum dan sandal, memang. Dua hal yang bisa dibilang remeh-temeh. Namun, begitulah modus pendidikan karakter: pantang mengecilkan hal-hal kecil.

Kendati baru dalam urusan-urusan kecil, anak-anak sudah menampilkan benih-benih karakter mulia. Idenya bergaung di atas panggung, aksi nyatanya tergelar di luar.

Bagikan:

By Teguh Gw

Pekerja serabutan yang ingin bisa terus belajar dan belajar terus bisa

2 thoughts on “Bergaung di Panggung, Tergelar di Luar”
  1. Alhamdulillah, anak-anak terus berusaha menjaga praktik baik yang dibiasakan oleh guru-gurunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *