Kamis (01/02/2024) siang yang sejuk. Tak panas, tidak pula hujan. Sepuluh menit lagi, bel penanda persiapan Zuhur berbunyi. Bu Wiwik menyilakan murid-muridnya mempersiapkan diri untuk wudu. Mereka semua telah paham apa yang mesti dilakukan. Lepas kaus kaki, lipat lengan baju dan celana, lalu duduk di karpet.

“Teman-Teman, karena hari ini Bu Eva izin, maka wudunya dengan Bu Wiwik, dulu, ya. Ingat, di antara kalian sudah ada yang ‘nyawa’ wudunya hilang satu, bahkan dua. Mas Rama, wudunya yang rata, ya. jangan sampai nanti mengulang bimbingan lagi dengan Ustaz Adhit,” jelas Bu Wiwik.

Ya, beberapa pekan lalu telah ada kesepakatan baru. Jika ada murid yang sudah lulus tes wudu, tetapi ia ketahuan wudunya tidak sesuai rukun, yang bersangkutan hilang satu “nyawa” wudunya. Jika berulang sebanyak tiga kali, murid tersebut harus mengulang kembali pembimbingan individual dengan Ustaz Adhit.

Beberapa anak merasa. Ada yang sudah kehilangan satu, bahkan dua “nyawa” wudu mereka.

“Niat wudu!” aba-aba kapten.

Murid-murid melantunkan niat wudu sembari mengangkat telapak tangan dan menunduk.

“Terima kasih, Kapten Alisha, sudah memimpin doa pagi ini!”

“Sama-sama, Teman-Teman,” jawab kapten kelas.

“Satu lagi, Teman-Teman. Hari ini, Bu Wiwik akan menunjuk satu murid kepercayaan. Murid tersebut adalah yang sudah bersikap tertib saat di musala,” sela Bu Wiwik.

Suasana semakin hening. Sebagian besar murid tampak memperbaiki posisi duduk mereka. Mematung.

“Tertib itu bukan menjadi patung kayak gini,” goda Bu Wiwik sambil menggilik-gilik Fathir.

Kedua bibir Fathir yang semula terkatup, tetiba terbuka dan tertawa.

“Jadi, murid kepercayaan itu akan mendapatkan tugas istimewa. Alatnya ini,” lanjut Bu Wiwik sembari mengambil sticky note berukuran 7,5 cm × 7,7 cm dan sebatang pensil.

Murid-murid semakin antusias. Mereka berlomba-lomba menunjukkan sikap terbaiknya.

“Tugas istimewanya adalah mencatat nama teman yang belum bisa menjaga diri saat di musala. Tugas tersebut dilaksanakan sampai Bu Wiwik datang ke musala. Ada yang ingin bertanya?”

Gibran mengangkat tangan.

“Ya, Mas Gibran?”

“Yang dicatat hanya namanya atau sama (tindakan) tidak tertibnya, Bu?”

“Hanya nama saja, Nak.”

Gibran mengangguk, lalu kembali mematung.

Bu Wiwik menahan tawa melihat tingkah polos murid-muridnya.

“Ada lagi?”

Senyap.

“Oke, murid kepercayaan yang Bu Wiwik tunjuk kali ini adalah … Mbak Azza!”

Azza tersenyum. Bu Wiwik menyerahkan peranti yang akan digunakan. Azza menyimpannya di saku kemejanya.

Kapten dipersilakan mengawali barisan. Kelompok yang ditunjuk mengekor. Rafa berada di barisan paling akhir. Ia bertugas menutup pintu kelas.

Tujuh anak masuk ke area wudu. Bu Wiwik mengawasi dengan saksama. Salma dan Inara “terciduk” tidak rata membasuh lengan. Keduanya kehilangan satu “nyawa” wudunya. Mereka mengulang wudunya bersama dengan kloter wudu terakhir.

Semua murid telah selesai berwudu. Sungguh membanggakan. Meski tanpa pengawasan, anak-anak kecil itu bertanggung jawab menyelesaikan doa sesudah wudu secara mandiri. Biasanya, Bu Wiwik yang mendampingi. Kali ini, Bu Wiwik lebih memprioritaskan pendampingan wudu menggantikan posisi Bu Eva.

Bu Wiwik segera berwudu. Ia lantas menuju musala. Pak Kambali sudah berada di karpet imam.

Pemandangan menyejukkan kembali terlihat jelas. Bahkan terasa menyentuh hati. Lantunan asmaulhusna terdengar sangat nyaman di telinga. Nama-nama Allah nan indah itu terlantun sungguh merdu. Anak-anak duduk dengan tenang. Bertafakur. Tidak ada yang mengobrol. Tidak pula ada yang bersikap berlebihan. Murid-murid bersikap wajar, layaknya orang dewasa yang bertafakur.

Azza menyerahkan pensil dan sticky note yang ia bawa. Tidak ada satu nama pun tertulis di lembar kertas itu.

Ada dua hal yang menjadi tanda tanya di benak Bu Wiwik. Apakah ini karena ada Pak Kambali? Ataukah karena tugas istimewa yang diamanahkan kepada Azza?

Bu Wiwik lebih meyakini kemungkinan kedua. Dugaan ini didukung oleh fakta-fakta yang sering terjadi setiap hari. Hari-hari sebelumnya, dengan atau tidak adanya Pak Kambali, sikap anak-anak tidak setenang ini. Namun, Bu Wiwik tidak boleh buru-buru menyimpulkan.

Tiba saatnya refleksi. Bu Wiwik punya misi tersembunyi.

“Teman-Teman, terima kasih, ya. Tadi saat Zuhur di musala, kalian hebat! Mbak Azza bisa dipercaya. Teman-Teman semua juga bisa dipercaya. Itulah sikap yang harus diutamakan saat di musala atau masjid. Menahan diri. Memanfaatkan waktu untuk beribadah.”

“Besok Senin, ada anak kepercayaan lagi, enggak, Bu?” sergap Rara.

“Aha!” gumam Bu Wiwik dalam hati. Ia makin yakin dengan dugaannya.

“Terima kasih, Rara. Pertanyaanmu menyingkap tabir yang bergelayut dalam benak gurumu ini,” batin Bu Wiwik.

“Ada, dong! Anak-Anak sudah tahu syaratnya, kan?” seloroh Bu Wiwik lega.

***

Bersyukur. Bu Wiwik kembali belajar. Absennya Bu Eva memantik hasrat belajar Bu Wiwik. Belajar mencari celah di balik ketidaksempurnaan. Satu amunisi tercipta. Sukses di percobaan pertama. Namun, Bu Wiwik tak boleh lengah. Bu Wiwik harus punya amunisi alternatif. Tidak cukup satu. Tak terhingga. (A2)

Bagikan:
2 thoughts on “Tugas Istimewa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *