Hari pertama masuk sekolah setelah libur 2 pekan, penguatan budaya sekolah harus dikuatkan. Kalau-kalau ada anak-anak yang lupa tentang pembiasaan-pembiasaan yang sudah pernah diikhtiarkan. Layaknya ketika MPLS Semester satu, hanya saja saat ini hanya penguatan, tidak mengulang dari awal. Namun, tetap perlu simulasi.

“Anak-Anak, ingat, wudunya harus rata. Ketika menunggu wudu harus tenang, dan ketika masuk musala juga harus tenang. Kalau belum siap untuk salat, bisa diselesaikan dulu urusannya di luar, baru boleh masuk ke kelas,” pesan Bu Wiwik jelang wudu Duha.

Ini salah satu bentuk penguatan tentang wudu yang sudah diajarkan. Anak-anak memberi sinyal kepahaman. Satu per satu kelompok menuju tempat wudu. Alhamdulillah. Hari itu anak-anak berjalan dengan tenang. Tidak ada yang perlu diingatkan.

Kloter pertama sudah masuk. Enam anak telah berjajar di depan kran wudu masing-masing.

“1, 2, 3 … Bismillahirrahmanirrahim,” Aba-aba Bu Eva.

Anak-anak pun mulai berwudu. Selesainya tidak mesti bersamaan.

“Maaf, Mbak Salma wudunya harus mengulang karena buru-buru, tidak rata, dan urutannya keliru,” tegas Bu Eva.

Salma lantas mundur dari posisinya, dan menunggu di belakang teman-temannya.

Kloter kedua sudah masuk. Bu Eva sengaja tidak memberitahu atau mengingatkan kloter setelahnya. Harapannya, mereka wudu rata karena memang sudah tau aturannya. Bukan karena takut mengulang.

Kloter kedua aman. Mereka tampak wudu dengan hati-hati dan rata. Kemudian Salma maju hendak wudu.

“Wudu sekarang, ya, Bu,” rengeknya.

“Belum, Nak. Nanti wudunya paling akhir.”

Salma menurut.

Di kloter ketiga, Salma mendapat teman. Yaitu Rama. Rama wudunya tidak rata. Mengusap wajahnya dan tangannya tidak rata. Ia harus mundur meski awalnya ada penolakan. Keduanya mengulang wudu di sesi paling akhir.

Keesokan harinya, mereka jadi belajar. Wudunya lebih teliti lagi. Begitu pun teman-temannya ikut terpantik, wudunya jadi lebih hati-hati. Semua anak jadi belajar. Tetapi tidak menutup kemungkinan akan terulang esok atau kapan hari. Ternyata, ‘penguatan’ itu tidak hanya perlu dilakukan di awal semester. Kenyataannya, setiap hari, setiap momen, refleksi dan penguatan itu dibutuhkan. Makin kuat, makin melekat. Bisa jadi begitu.

Bagikan:
3 thoughts on “Ternyata Setiap Hari”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *