Pak Suparno berpidato sesaat sebelum dimulai penilaian

“Tempatnya di SD Srondol Wetan 04, Pak Aruf. Tapi kita mampir dulu di SD 01.”

Saya membonceng Pak Aruf. Kami menuju SD 01—SD Islam Hidayatullah. Begitu tiba, saya segera turun dari kendaraan.

“Pak Aruf di sini saja. Saya cuma sebentar, Pak.”

Melalui pintu utara, saya masuk ke gedung SD 01. Setelah keperluan usai, saya kembali ke tempat Pak Aruf menunggu. Tidak butuh waktu lama. Kurang dari 3 menit. 

“Pak Aruf sudah pernah tahu SD Srondol Wetan 04 atau belum?”

“Belum.”

“Ya, sudah, nanti saya arahkan.” 

Sebetulnya saya terpikir: ganti posisi. Saya di depan, Pak Aruf yang memboceng. Namun, saya sudah cukup paham karakter Pak Aruf. Bila itu saya tawarkan, yang muncul justru saling berebut di depan. Saya pilih menghargai Pak Aruf. Biarlah saya tetap mengambil posisi membonceng.

Kami meninggalkan SD 01. Menuju SD Srondol Wetan 04. Saya mengarahkan Pak Aruf hingga tiba di tujuan. Saya turun dari kendaraan. Menuju ke ruang kepala sekolah. 

Ups, sepi. Saya lihat ruang lainnya. Tidak tampak tanda-tanda apa pun. Saya seperti orang bingung. Saya lihat jam. Sudah hampir pukul 08.00. Ternyata ada yang memahami keadaan saya. Seorang ibu guru menghampiri saya. Sebenarnya beliau sedang mengajar murid-muridnya di lapangan. Namun, melihat kebingungan saya, beliau mendekati saya.

“Pak Kambali hendak ketemu siapa?”

“O, itu lho, Bu. Acara PKKS.”

“PKKS di kelas 3A, Pak. Sebelah sana.”

Nggih, Bu. Matur nuwun.

 Sebetulnya saya sudah cukup mengenali wajah ibu guru tersebut. Tapi saya lupa namanya. Malah beliau yang masih ingat nama saya. Malu juga rasanya. Saya mau bertanya nama beliau, tapi saya tidak nyaman dengan situasinya: beliau sedang mengajar murid-muridnya. Saya sengaja memilih berjalan cepat menuju kelas 3A.

Saya dan Pak Aruf masuk ke ruang kelas 3A. Ternyata bukan hanya menggunakan satu ruang kelas, melainkan dua ruang kelas: 3A dan 3B. Rupanya dua ruang kelas tersebut dipisah dengan sekat yang fleksibel. Sewaktu-sewaktu sekat bisa diposisikan sedemikian rupa, sehingga 3A dan 3B menjadi satu ruangan besar. 

Lima belas meja ditata membentuk leter O. Di sisi timur, tertulis “Tim Penilai”. Di sisi utara tertulis “SDN Srondol Wetan 04”. Di sisi selatan tertulis tiga nama sekolah: SDN Pedalangan 03, SDN Srondol Wetan 01, dan SD IT Bina Insani. Di sisi barat tertulis dua nama: SDI Hidayatullah dan SDI Hidayatullah 02.

Di atas meja-meja itu, saya melihat dengan sangat jelas tumpukan berkas yang sangat banyak dan tebal-tebal. 

Deg. Saya jadi minder. Haruskah sebanyak itu berkas yang dipersiapkan? Salahkah saya memahami panduan yang dikirimkan? Atau memang saya yang belum menjalankan tugas dengan maksimal?

Saat kami masuk, di dalam sudah hadir satu orang laki-laki: Kepala SDN Pedalangan 03. Kami bersalaman dengan beliau. Setelah itu, saya duduk di tempat yang disediakan untuk SDI Hidayatullah 02. Pak Aruf duduk di sebelah saya. 

Pak Aruf mengeluarkan berkas PKKS. Hanya empat map. Empat-empatnya tipis. Ditumpuk menjadi satu pun, keempatnya masih tampak tipis. Ini jauh berbeda dari PKKS tahun lalu (2022). Ada lebih dari 100 map yang saya siapkan. 

Untuk memastikan, saya mengecek ulang. Saya keluarkan laptop. Saya hidupkan. Saya buka fail PKKS 2023. Saya baca ulang. Hingga dua kali. Sudah benar. Sudah sesuai. Saya sudah yakin: benar. Bismillah, apa pun yang terjadi nanti akan saya hadapi.

Memang PKKS 2023 ini berbeda dari PKKS 2022. Instrumennya berbeda. Instrumen PKKS 2023 ini terasa lebih simpel dan sederhana. 

Pukul 09.09 tim penilai hadir. Dua orang: Pak Suparno dan Pak Guripno. Beliau berdua menyalami satu per satu peserta PKKS. Setelah itu keduanya duduk di sebelah timur. Lalu acara dimulai oleh Bu Ida—Kepala SDN Srondol Wetan 04. Pak Parno disilakan Bu Ida untuk menyampaikan pengantar. 

Saya menyimak dan mencermati pidato Pak Parno. Saya tambah yakin dengan pemahaman saya akan instrumen baru PKKS 2023. Dan yang paling mengesankan adalah pesan Pak Parno yang ini.

“Kegiatan ini jangan dipandang hanya sebatas penilaian yang berujung nilai angka, tetapi lihatlah sebagai tupoksi kepala sekolah. Bila sudah tinggi nilainya maka pertahankan pelaksanaan tupoksi! Jika masih rendah maka tingkatkan dalam pelaksanaan tupoksi KS!”

Pesan beliau tersebut membuat saya ayem. Beliau tidak menuntut nilai tinggi. Yang beliau tuntut justru peningkatan pelaksanaan tupoksi. Saya merasa, itu jauh lebih bermakna dibanding hanya menuntut capaian nilai angka yang tinggi.

Alhamdulillah, mendengar pidato Pak Parno, rasa minder saya berangsur-angsur hilang. Saya makin yakin dengan pemahaman saya: bukan orientasi adminstratif, melainkan untuk pembelajaran bermakna bagi anak. (A1)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *