Rangkaian kegiatan salat Zuhur berjemaah telah usai. Murid-murid berjalan menuju kelas.

“Mas Rafa, maaf. Silakan diulangi. Jalan saja,” pinta Bu Wiwik.

Rafa tersipu. Ia tahu kesalahannya. Rafa kembali ke depan pintu musala. Ia tak lagi berlari. Menuju ruang kelas 1. Di depan pintu kelas, terjadi antrean. Murid-murid mengantre mengambil lepak katering. Mereka lantas melepas sandal dan meletakkannya di petak rak sepatu masing-masing.

“Bu Wiwik, tadi Vano tertawa saat salat Zuhur berjemaah,” lapor Fathir sembari menunggu antrean.

“O, ya?” respons Bu Wiwik.

Beberapa murid lain turut memvalidasi pernyataan Fathir.

“Tadi Vira dan Salma juga mengajak saya ngobrol, Bu,” keluh Shaqueena. “Maaf, ya, Bu, saya sempat terbawa ikut ngobrol. Tapi cuma sebentar, kok, Bu.” lanjutnya.

“Alhamdulillah, Mbak Shaqueena sudah berhasil menahan diri. Insyaallah, nanti Bu Wiwik ingatkan Mbak Vira dan Salma, ya.”

“Dea juga, Bu. Ngobrol sama Vira,” timpal Rara.

***

Murid-murid telah selesai menyantap makan siang dan menutupnya dengan doa. Kapten dipersilakan duduk kembali. Sebelum melanjutkan pelajaran, Bu Wiwik mengajak murid-muridnya berefleksi.

“Teman-Teman, tadi Bu Wiwik mendapat cerita dari beberapa temanmu. Cerita itu tentang Mas Vano, Mbak Vira, Dea, dan Salma,” ucap Bu Wiwik mengawali refleksi.

“Iya, Bu. Mereka tadi enggak tertib waktu di musala,” jawab Rara.

Empat anak yang disebut namanya tampak merasa bersalah. Bu Wiwik menanyai keempat anak itu. Memastikan apakah cerita dari teman-teman mereka itu benar. Keempatnya mengiakan.

“Tadi Mas Naufal bertingkah lucu waktu salat, Bu. Saya tidak tahan. Akhirnya ketawa,” jelas Vano.

“Tapi tadi Vano juga bercanda saat melipat sajadah, Bu,” lapor Tristan.

“Betul begitu, Vano?” selidik Bu Wiwik.

“He-he, iya, Bu,” jawab Vano jujur.

“Alhamdulillah. Terima kasih, Mas Vano, Mbak Vira, Dea, dan Salma sudah jujur. Lain kali, sebaiknya tidak perlu melakukannya lagi, ya. Jika hendak berbicara di musala, gunakan level suara satu atau setengah. Bicaranya juga untuk yang …?”

“Penting-penting saja!” jawab murid-murid serempak.

“Khusus Mas Vano, setelah ini silakan menemui Mas Naufal bersama Bu Eva,” perintah Bu Wiwik.

“Terima kasih juga untuk Mbak Shaqueena karena sudah hebat. Sudah bisa menahan diri. Walaupun awalnya Mbak Shaqueena sempat terbawa, tetapi kemudian Mbak Shaqueena ingat dan tidak melanjutkan kesalahannya. Mbak Shaqueena termasuk anak yang beruntung dan cerdas.”

“Besok, bapak/ibu guru ingin menyaksikan pembuktian empat teman kita tadi. Bu Wiwik yakin, kalian bisa menahan diri dan menjadi anak yang beruntung seperti Mbak Shaqueena. Besok harus lebih baik dari hari ini. Kita doakan, ya, Teman-Teman,” tutup Bu Wiwik.

***

Keesokan harinya, Vano, Vira, Dea, dan Salma dapat membuktikan diri. Keempat anak itu berhasil bersabar hingga saat rangkaian salat Zuhur berjemaah usai.

“Terima kasih, anak-anak beruntung!”

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *