Assalamu `alaikum …. Mohon maaf, ini pagi-pagi mengganggu waktunya, Bunda.”

Saya dan Bu Wiwik tiba di kediaman Qaleed. Kami disambut dengan sangat ramah. Tak hanya Bu Citra, ibunda Qaleed, yang menyambut. Mas Keanu—kakak Qaleed, yang masih bersekolah di SD Islam Hidayatullah 01—dan Eyang Putri turut menyambut kunjungan kami.

Selepas bersalaman, Bu Wiwik menyampaikan maksud kedatangan kami. Kegiatan home visit dijalankan setiap Sabtu.

“Katanya, Bapak dan Ibu Guru suka mendoakan. Kemarin Qaleed cerita, Bu Guru,” kata Eyang.

Awalnya, saya dan Bu Wiwik belum menangkap konteks cerita tersebut. Ternyata tentang nasihat Bu Wiwik di kelas, pada Jumat (12/05/2023). Sebelum salat Duha, ada refleksi dengan anak-anak. Rupanya Qaleed menceritakannya kepada eyangnya.

“Oh, itu kemarin, Eyang. Karena ada suatu kejadian di Sekolah. Saya menjelaskan kepada anak-anak, kalau Bapak dan Ibu Guru selalu mendoakan anak-anak. Bahkan ketika khataman, Pak Kambali menyebut nama anak-anak satu per satu, supaya anak-anak menjadi anak yang baik,” jelas Bu Wiwik.

“O, begitu ceritanya, Bu? Saya juga selalu mendoakan cucu-cucu saya. Supaya patuh pada eyang dan mamanya. Patuh pada guru, ustaz dan ustazahnya.”

“Qaleed kalau di sekolah gimana, Bu Guru?” tanya Bu Citra.

“Masyaallah. Alhamdulillah, di sekolah, Mas Qaleed ini hebat, Eyang, Bunda. Dewasa kalau di sekolah, sukanya momong. Cuma terkadang kalau ada masalah, biasanya diam dan agak lama pemulihannya.”

“Memang iya, Bu. Tapi kok dewasa, ya? Beda kalau di rumah. Suka cerita juga, nggak, kalau di sekolah, Bu?” timpal Bu Citra sambil melirik anaknya yang tampak malu-malu.

“Mungkin Mas Qaleed meniru Kakak di rumah. Jadi, di sekolah diterapkan ke teman-temannya. Kalau cerita, tidak terlalu, Bunda. Tapi Mas Qaleed selalu terbuka kalau ada masalah,” terang Bu Wiwik.

“Pesan dari Ustazah Layla, mengajinya sudah bagus, tapi perlu belajar lagi di rumah, ya, Mas Qaleed,” lanjutnya.

Obrolan terus berlanjut. Sama sekali tidak ada kesan kaku. Justru terasa begitu hangat. Banyak cerita dan pengalaman yang dibagikan. Tak jarang juga di sela-sela obrolan, Eyang dan Bu Citra menawari kami untuk menyantap sajian yang disuguhkan. Namun, kami terlalu larut dalam obrolan.

Saya menemukan alasan mengapa Eyang sangat disayangi cucu-cucunya. Perhatian, yang mungkin tidak semua cucu merasakannya. Beliau selalu ingin tahu progres belajar dan mengaji cucu-cucunya di sekolah. Meski Eyang tak begitu memahami detailnya. Maklum, eyangnya seorang nonmuslim, mamanya seorang mualaf. Namun, hal itu tidak menjadi  alasan untuk tidak turut andil dalam mendidik. Baik pendidikan karakter maupun pendidikan agama. Keduanya memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan sekolah anak-anak/cucu-cucu mereka. Terutama dalam hal mengaji.

Terlihat sekali dari tatapan Eyang yang penuh kasih sayang kepada kedua cucunya. Begitu luar biasa perhatiannya. Selalu bangga dengan pencapaian-pencapaian kedua cucunya, dalam hal yang sederhana sekalipun. Sesederhana saat Qaleed mendaras dan selawatan di rumah sembari melakukan kegiatannya.

Sedikit gambaran ketika di sekolah, Qaleed memosisikan diri menjadi lebih dewasa. Ia juga termasuk anak yang percaya diri dan bisa bertanggung jawab dengan dirinya sendiri, baik ketika di rumah maupun di sekolah. Beberapa poin tersebut, tentu ada kaitannya dengan support yang diberikan oleh keluarga.

Sependek pengamatan saya, betapa pentingnya dukungan keluarga. Peran yang sangat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak. Hal yang tidak mudah untuk mengimplementasikannya.

Setiap keluarga tentu menghadapi rintangannya masing-masing yang tidak diketahui khalayak. Semoga kita, para orang tua dan pendidik, selalu mendapatkan jalan kemudahan dalam mengemban amanah yang telah Allah Swt. titipkan.

Bagikan:
One thought on “Peran Dukungan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *