Pak Kambali mengamati seluruh ruangan. Seluruh jemaah telah selesai menunaikan salat sunah kabliah Zuhur.

“Anak kelas 1 putra, siapa yang sudah bisa ikamah?” tanya Pak Kambali.

Beberapa anak putra kelas 1 mengangkat tangan. Ada Gibran, Mika, dan beberapa anak lainnya.

“Mas Gibran kemarin sudah,” respons Pak Kambali terhadap Gibran.

Gibran tersipu.

Beberapa waktu lalu, Gibran dengan percaya diri mengumandangkan azan dan ikamah. Ia melakukannya dengan sangat baik. Gibran telah hafal lafaz azan. Sebelumnya, murid-murid putra kelas 2 yang bertugas menjadi muazin. Semua murid putra kelas 2 telah mendapat giliran.

Gibran (berdiri) sedang mengumandangkan azan

Pak Kambali melempar umpan. Barangkali ada murid kelas 1 (selain Gibran) yang sudah bisa azan. Rupanya anak-anak lainnya belum yakin. Maka, disepakati mulai pekan ini, murid-murid kelas 2-lah yang mengumandangkan azan. Sementara murid kelas 1 yang mengumandangkan ikamah.

Mika mengangkat tangannya. Dari raut wajah dan gesturnya, ia sangat berharap bisa terpilih. Bu Wiwik duduk di belakang Mika. Bu Wiwik ragu. Apakah Mika bisa? Ketika di kelas, Mika sering mengangkat tangan saat guru melempar pertanyaan. Saat ditunjuk untuk menjawab, Mika hanya tersenyum.

Keraguan Bu Wiwik makin membuncah. Di ruangan itu, berkumpul seluruh warga Sekolah. Tidak hanya teman satu kelas Mika. Ada murid kelas 2, semua guru, satpam, dan pegawai kebersihan. Kenyataan itu akan menjadi tantangan berat bagi Mika. Mika bukan tipe anak yang cuek. Ia mudah berkecil hati. Beberapa kali Mika menangis di kelas karena ia kurang puas dengan hasil karyanya.

Pak Kambali menunjuk Mika. Mika beranjak dari tempat duduknya. Berdiri, lalu berjalan maju ke dekat Pak Kambali. Mika mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya di telinga kanan.

Lafaz ikamah dikumandangkan. Bu Wiwik takjub. Sungguh di luar dugaan. Mika mengumandangkan kalimat demi kalimat dengan sangat percaya diri. Meski ada beberapa kata yang kurang jelas terdengar, untuk percobaan pertama, ini sangat membanggakan.

Mika kembali ke safnya. Senyumnya semringah. Puas, lega, dan bangga. Barangkali tiga kata itu menggambarkan perasaan Mika. Ups, tidak hanya bagi Mika. Pun bagi Bu Wiwik.

“Mika, maafkan gurumu ini. Belum juga kamu mencoba, gurumu sudah tidak memercayaimu. Maafkan gurumu yang sudah meremehkanmu. Sekarang, gurumu ini sadar, Mika adalah anak yang patut diperhitungkan.”

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *