Saya bimbang: hadir atau tidak?

Kalau saya hadir, apa manfaatnya? Apa pula mudaratnya? Bila saya tidak hadir, apa mudaratnya? Apa pula manfaatnya?

Saya sering berpikir tentang manfaat dan mudarat sebelum memutuskan sesuatu. Memang tidak (tepatnya: belum) selalu. Apalagi jika secara waktu sudah sangat mendesak, saya belum bisa melakukannya dengan baik. Kini, saya dihadapkan pada pertanyaan itu. Sulit juga memperoleh jawabannya. Akhirnya, saya pilih cara lain.

Kebetulan saya masih ingat hadis ini. Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam: apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam; apabila engkau diundang, penuhilah; apabila engkau dimintai, berilah nasihat; apabila ia bersin lalu memuji Allah, doakanlah; apabila ia sakit, jenguklah; apabila ia meninggal dunia, iringlah jenazahnya.

Menggunakan dasar hadis ini, saya memandang sudah cukup untuk memutuskan. Ups, masih ada satu lagi. Adakah saya punya acara lain di waktu yang sama? Jika ada, manakah yang lebih urgen? Saya cek agenda kegiatan. Aman. Bismillah, saya putuskan: hadir. Semata mengikuti hadis itu. Memenuhi undangan Bu Ines. Di acara halalbihalal QLC Hidayatullah.

Bu Ines dan ibu-ibu lainnya aktif mengaji. Di QLC (Quran Learning Center) Hidayatullah. Secara rutin. Dua hari dalam satu pekan. Ada yang Senin Kamis. Ada pula yang Selasa Jumat. Selain gedung LPI Hidayatullah, QLC juga menggunakan sejumlah ruangan di SD Islam Hidayatullah 02.

Acara pada Selasa (16/05/2023) itu bertempat di Keboen Ndalem Homestay & Waroeng. Di Kelurahan Pongangan, Gunungpati, Semarang.

Saya duduk di baris kedua. Di belakang Ustaz Umar (Ketua Yayasan Abul Yatama Semarang). Sudah bisa diduga: bapak-bapak lebih sedikit daripada ibu-ibu. Saya sempat tidak nyaman dengan situasi tersebut. Namun, begitu melihat background acara, ketidaknyamanan itu terkalahkan oleh harapan. Acara itu menghadirkan Ustaz Baedhowi sebagai penceramah. Di background tertulis sangat jelas. Sebelumnya, saya sering mendapat pencerahan saat mendengarkan ceramah Ustaz Baedhowi.

Dengan suka cita saya menanti acara ceramah beliau. Inilah harapan yang mengalahkan ketidaknyaman saya dalam suasana minoritas.

Saat beliau berceramah, saya sempatkan mencatat. Di HP. Di aplikasi yang memungkinkan untuk menyimpan catatan. Hal-hal yang berkesan, saya ketik. Salah satunya, beliau menyampaikan bahwa taḥsīn (membaca Al-Qur’an tanpa memahami isi bacaan) itu tahap pertama, setelah itu ada tahapan berikutnya, yakni memahami isi Al-Qur’an.

Logika saya sangat menerima pernyataan itu. Bukankah Al-Qur’an itu petunjuk hidup? Bukankah petunjuk itu sudah sewajarnya dipahami? Namun, saya juga mengakui: saya baru menerima di tataran logika. Praktiknya? Saya masih perlu belajar lebih giat lagi. Tidak boleh berhenti hanya di tahapan taḥsīn.

Alhamdulillah, dengan memenuhi undangan Bu Ines, saya merasa mendapat tambahan semangat. Memperoleh motivasi. Untuk terus belajar Al-Qur’an. Semoga Allah melimpahkan ilmu yang bermanfaat untuk saya dan kita semua. (A1)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *