Senin (19/06/2023), anak-anak latihan pentas untuk acara Ekshibisi Kreativitas Siswa. Bu Eva melatih anak-anak yang menari, lokasinya di ruang kelas 1. Ada Rendra, Rayya, Sabrina, Cemara, Valda, dan Lintang. Gerakan tariannya cukup membuat anak-anak cepat lelah. Satu kali putaran lagu, saya persilakan anak-anak istirahat sejenak. Ada yang minum, duduk bersantai, dan bermain.

Kebetulan pada hari itu Rendra membawa dua mainan. Ada mainan berbentuk mulut buaya, satunya mainan berbentuk ikan paus. Dua mainan tersebut menarik perhatian anak-anak. Di sela-sela waktu latihan, Bu Eva mengizinkan anak-anak bermain. Rendra pun berbaik hati meminjamkan mainannya kepada teman-temannya. Sehingga semua anak mendapat giliran.

Waktu istirahat tiba. Sultan masuk kelas. Ia mendapati teman-temannya tengah asyik memainkan mainan Rendra. Sudah pasti Sultan juga tertarik. Awalnya ia hanya melihat-lihat. Akhirnya hasrat untuk menyentuh mainan itu muncul. Segera ia menghampiri teman-temannya, dan menanyakan siapakah sang empunya mainan itu. Teman-temannya menjawab kalau itu punya Rendra.

“Rendra, … Rendra, … pinjam, ya, Ren?” Sultan menghampiri Rendra dan mengatakan dengan nada yang manis.

“Iya,” Rendra mengangguk tanpa syarat.

“Ucap terima kasih ke Rendra, ya, Sul,” pinta Bu Eva.

Sultan mengangguk sembari memegang mainan Rendra dengan ekspresi senang.

Bu Eva terkagum mendengar jawaban Rendra. Ia tidak menunjukkan rasa keberatan sedikit pun. Padahal beberapa kali ia menangis disebabkan oleh Sultan yang suka bercanda. Umumnya, anak-anak yang lain bisa saja menolak atau mengajukan syarat “tapi kamu jangan meledekku lagi” misalnya.

Berbeda dengan Rendra. Ia dengan senang hati meminjamkan mainannya kepada Sultan dan teman lainnya dalam waktu yang cukup lama. Di sisi lain, perasaan bangga kepada Sultan yang sudah berani berbicara baik-baik kepada Rendra dan mengesampingkan egonya.

Bu Wiwik yang terlewat menyaksikan kejadian itu, ketika melihat Sultan memegang mainan Rendra menanyakan hal tersebut kepada Sultan.

“Sudah minta izin belum, Sul?”

“Sudah,” jawab Sultan meyakinkan.

“Rendra baik, kan?” Bu Wiwik memberi afirmasi.

Sultan hanya tersenyum. Belum dapat dipastikan apakah afirmasi tersebut akan membuat Sultan memperlakukan Rendra lebih baik. Bukan berarti selama ini Sultan selalu berbuat tidak baik kepada Rendra. Pada dasarnya, Sultan hanya bermaksud bercanda. Tetapi bagi Rendra yang mudah berkecil hati, candaan itu membuat ia merasa tidak nyaman. Meski begitu, kelebihan Rendra adalah ia anak yang pemaaf. Ketika teman-temannya berbuat salah dan meminta maaf, Rendra akan dengan mudah memaafkan dan tidak mengungkit kesalahan temannya.

Beberapa kali Bu Eva dan Bu Wiwik mendapati Rendra menangis saat bercanda dengan Naufal. Terkadang, Naufal tidak mau meminta maaf terlebih dahulu karena menurutnya ia hanya bermaksud bercanda. Lalu, ketika Naufal sudah meminta maaf, Rendra otomatis berhenti menangis dan memaafkan. Keduanya kembali bersikap seperti biasa.

Rendra berpose dengan hasil karyanya.
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *