“Selanjutnya, pengharaan dengan kategori siswa paling rajin mencuci tempat bekal diberikan kepada …,” Ustazah Layla sengaja menjeda kalimatnya.

“Cemara!”

“Sultan!”

Beberapa nama disebut oleh para murid.

“Ananda Abraham Rayyanza Yusuf Hendrawan. Putra Bapak Agus Hendrawan dan Ibu Yuli Kurniati,” lanjut Ustazah Layla.

Rayya kaget mendengar namanya disebut. Kedua sudut bibirnya tersungging. Para hadirin menyambut dengan bertepuk tangan. Teman-teman Rayya bersorak. Senyum Rayya kian mengembang. Baju koko biru muda yang dikenakannya, membuat Rayya semakin manis. Semanis senyumnya. Rayya lantas beranjak maju menuju panggung.

Sebetulnya apa yang diterka teman-teman Rayya tidak salah. Cemara dan Sultan pun rajin mencuci tempat bekal. Namun, hingga hari terakhir masuk sekolah, Rayya-lah yang tetap istikamah.

Selain Rayya, empat orang temannya juga dipanggil untuk maju. Masing-masing menerima penghargaan yang berbeda. Sabrina dinyatakan sebagai murid paling ringan tangan. Nadia meraih capaian tertinggi dalam mengaji. Valda paling signifikan progress kemampuan membacanya. Cemara, peraih bintang terbanyak.

Kategori murid paling ringan tangan diraih oleh dua anak, yakni Naufal dan Sabrina. Sayang, hari itu Sabrina uzur hadir karena sedang sakit. Bersyukur, bunda Sabrina dapat menyaksikannya via siaran langsung Instagram sekolah.

Sebagaimana Naufal, Sabrina mendapat julukan sebagai siswa yang paling ringan tangan. Setiap hari Sabrina selalu membersihkan karpet kelas tanpa disuruh gurunya. Sebelum salat Duha, setelah makan siang, dan di banyak kesempatan ketika karpet kotor. Ia juga selalu membantu temannya saat mereka butuh bantuan.

Dari kiri: Bu Wiwik, Nadia, Valda, Bu Eva, Rayya, Cemara, dan Pak Kambali berpose setelah serah terima penghargaan

Bagi sebagian orang, kebiasaan yang dilakukan Rayya dan Sabrina bukanlah hal besar. Bahkan mungkin dianggap remeh. Mencuci tempat bekal dan membersihkan karpet memang mudah. Namun, bagi anak-anak, tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang harus mereka korbankan. Sabrina dan Rayya merelakan waktu dan tenaga mereka untuk melakukan perbuatan baik itu. Tak jarang, mereka juga harus berjibaku dengan tantangan-tantangan lain. Dan yang paling membanggakan adalah konsistensi mereka! Kedua murid ini berhasil membuktikan satu hal yang bagi gurunya saja masih sulit dilakukan.

“Piagam dan hadiah yang kalian terima tidaklah sebanding dengan perjuangan yang telah kalian lakukan dalam meraihnya. Dapat ditarik benang merah, bahwa apa yang kalian raih merupakan buah konsistensi dan ketekunan kalian. Sungguh gurumu ini patut belajar dari kalian, anak-anak juara!” (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *