Tujuh tahun lalu Pak Kambali mengajar di kelas 4 SD Islam Hidayatullah. Sebagaimana kelas lainnya, kelas beliau juga berisi siswa dengan latar belakang dan karakter yang beragam. Kali ini beliau bercerita tentang salah seorang siswanya yang bernama Nisa. Sebenarnya Nisa anak yang pandai. Kala itu ia dan keluarganya memiliki visi yang sama, yakni menjadikannya atlet. Ya, Nisa hobi dan jago bermain bulu tangkis. Beragam kejuaraan ia ikuti dan juara pun diraihnya.

Suatu ketika, Pak Kambali berkesempatan bertemu dengan ibunda Nisa. Pertemuan itu berlangsung saat pengambilan laporan tengah semester. Seperti biasa, setiap wali kelas akan menyampaikan hasil belajar siswanya kepada orang tuanya masing-masing. Tibalah giliran Nisa dan bundanya.

Dibukalah rapor Nisa oleh sang Bunda. Belum sempat sang Bunda berbicara, Pak Kambali segera memberitahukan sembari menunjukkan nilai KPdL Nisa, “Ibu, nilai KPdL Nisa mungkin membuat kecewa.” Sang Bunda penasaran lalu segera mengalihkan pandangan pada nilai yang dimaksud. Betapa terkejutnya sang Bunda melihat nilai putrinya nol.

Menanggapi reaksi bunda Nisa, dengan tenang Pak Kambali menyampaikan, “Ibu, setiap anak itu memiliki kelebihan masing-masing. Nilai Nisa mungkin kurang pada mapel ini, namun ia memiliki kelebihan di bidang lain, badminton, misalnya.”

Tujuh tahun berlalu, kisah ini kembali terkuak siang tadi. Tanpa sengaja Pak Kambali bertemu Nisa di lobi Sekolah. Awalnya Pak Kambali mengira bahwa Nisa adalah orang tua murid yang hendak mengambil modul PJJ. Namun, setelah Nisa membuka masker dan menyapa beliau, barulah Pak Kambali sadar bahwa orang tersebut adalah Nisa, mantan muridnya.

Pada pertemuan singkat itu, Nisa menyampaikan bahwa ia sangat terkesan akan peristiwa saat pengambilan rapor tengah semester tujuh tahun yang lalu.

“Pak Kambali masih ingat ketika saya mendapatkan nilai nol pada mapel KPdL dulu?” tanya Nisa.

“Ya, kenapa, Nisa?” tanya Pak Kambali penasaran.

“Pak Kambali adalah satu-satunya guru yang tidak marah saat muridnya mendapatkan nilai nol,” jawab Nisa.

“Memangnya ada guru yang marah kalau muridnya mendapat nilai nol?” tanya Pak Kambali.

“Ya, tidak, sih, Pak, tapi biasanya kan ditanya ‘kenapa kamu nilainya jelek? Lain kali belajar lebih giat, ya’, begitu, Pak,” jelas Nisa.

“Ya, setiap guru kan berbeda-beda dalam menyikapi situasi tertentu,” timpal Pak Kambali.

“Iya sih, Pak. Apa yang dilakukan Pak Kambali waktu itu ternyata berpengaruh sangat positif kepada saya, Pak. Saya jadi lebih semangat lagi belajarnya. Dan yang penting Bunda juga tidak marah ke saya, Pak. Hehe,” seloroh Nisa.

Obrolan itu pun berlanjut semakin seru. Nisa menceritakan bahwa saat ini ia sudah diterima di IPB jurusan manajemen. Ia juga lolos tahapan seleksi di Universitas Indonesia, tinggal menunggu pengumuman. Di akhir percakapan, Nisa kembali menguatkan bahwa sikap Pak Kambali sangat membuatnya terkesan. Lebih dari itu, ia pun menjadi lebih termotivasi mengasah kemampuan diri. Meskipun impiannya menjadi atlet tak terwujud akibat cedera, ia mampu menggali kelebihan lain dalam dirinya untuk dikembangkan.

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *