Daffa dan Hafidz saat tampil menebak tanggal lahir Bapak/Ibu wali murid

Ini pelajaran Matematika. Di hari Senin. Dua hari setelah itu, dilaksanakan penilaian akhir tahun. Saya masih punya tanggungan. Memang ada kesengajaan untuk saya akhirkan. 

“Anak-Anak, hari ini Pak Kambali akan memenuhi janji. Ya, siang ini kita akan main tebak tanggal lahir. Anak-Anak, hafal tanggal lahirnya?”

“Hafaaal!” jawab anak-anak. 

“Saya gak hafal, Pak,” celetuk salah seorang anak.

“Saya juga gak hafal, Pak,” celetuk yang lain.

“Baik, gak pa-pa. Lain waktu bisa dicek kembali. Yang belum hafal bisa tetap memperhatikan cara Pak Kambali.”

Saya sudah berhasil memastikan lebih banyak anak yang hafal dibanding yang belum hapal. Berarti permainan bisa dijalankan.

Saya tuliskan di papan tulis: 18 Desember 1981. 

“Anak-anak, ini ada 1981, ada Desember, dan ada 18. Yang 1981, namanya apa?”

“Tahuuun!”  

“Yang Desember, namanya?”

“Bulaaan!”

“Nah, kita hanya akan fokus pada tanggal, yaitu yang 18 ini. Sekarang saya mohon bantuan Bu Wiwik untuk menayangkan kartunya.”

Tidak berselang lama, di layar proyektor telah terpampang lima kartu. Masing-masing kartu berbeda warna. Secara urut, yaitu merah, kuning, hijau, biru, dan ungu. Tiap kartu memuat sejumlah bilangan. Paling besar, 31.

“Siapa dulu yang hendak Pak Kambali tebak?”

“Sayaaa…,” sejumlah anak mengangkat tangannya. Saya pilih salah seorang di antara yang mengangkat tangannya.

“Sekarang Pak Kambali tanya, kamu cukup menjawab ada atau tidak ada. Kita mulai, ya. Di kartu warna merah ini, adakah tanggal lahirmu termuat di sini?”

“Ada.”

“Di kartu kuning?”

“Ada.”

“Di kartu hijau?”

“Tidak ada.”

“Di kartu biru?”

“Ada.”

“Di kartu ungu?”

“Tidak ada.”

“Baik, berarti tanggal lahirmu adalah 11, betul?”

“Betul,” jawab anak tersebut sembari menampakkan wajahnya yang bingung. Anak-anak yang lain mulai menerka cara saya menebak.

Saya melanjutkan memilih anak ke-2 yang hendak saya tebak tanggal lahirnya. Cara yang saya lakukan sama. Hanya, kali ini sebelum saya menebak, anak-anak saya beri kesempatan terlebih dahulu untuk mencoba menebak. Tiap kali ada anak yang telah menyampaikan hasil tebakannya, saya langsung konfirmasi kepada empunya tanggal lahir. Dan semua tebakan temannya ternyata salah. Setelah semua mendapatkan kesempatan menebak dan hasilnya salah, baru saya memberitahukan tebakan saya. Dan benar. Anak-anak semakin tampak penasaran.

Saya pilih anak ke-3. Masih dengan prosedur yang sama. Dan anak-anak lain tetap saya beri kesempatan menebak terlebih dahulu. Semuanya salah. Lalu saya beritahukan tebakan saya. Si empunya tanggal membenarkannya. Anak-anak semakin ingin tahu cara yang saya pakai. 

Tiba-tiba Daffa menyeletuk, “Oh, saya sudah tahu caranya.”

“Daffa sudah tahu beneran, caranya? Baik, sekarang kita coba, ya.” 

Saya deg-degan. Apakah anak ini sekadar asal bicara atau betul-betul sudah memahaminya. Ini saatnya untuk memastikan.

Saya pilih anak ke-4. Saya lakukan prosedur sebagaimana sebelumnya. Lalu Daffa saya suruh menebak. Hasilnya sama dengan tebakan saya. Anak ke-4 pun membenarkan tebakan Daffa. Daffa tampak begitu gembira. Tetapi saya belum yakin sepenuhnya. Masih ada kekhawatiran, hanya sekadar asal jawab yang kebetulan benar. 

Saya pilih anak ke-5. Daffa saya minta menebaknya. Tebakannya benar lagi. Saya pilih anak ke-6. Tebakan Daffa pun benar. Saya lanjutkan anak ke-7. Lagi-lagi Daffa menebak dengan tepat.

Daffa dan Hafidz saat tampil menebak tanggal lahir Bapak/Ibu wali murid

Saya sempatkan menanyai Daffa, bagaimana ia menemukan hasil tebakan. Ia menjelaskan singkat. Cukup gamblang. Masyaallah, ternyata Daffa berhasil menemukan rumus yang saya pakai. Tepat persis. 

Alhamdulillah. Saya sangat senang dan sempat terkesima. Bagaimana ia dengan begitu mudahnya menemukan rumus yang saya gunakan. Padahal saya belum memberi penjelasan. Saya hanya berusaha melakukan prosedur yang konsisten. Itu saya lakukan semata-mata agar struktur berpikirnya anak-anak terbentuk dengan baik. Bahkan saya sempat menduga bahwa tidak mungkin mampu menemukan rumusnya kalau tidak saya beri tahu. Jangankan anak-anak, sejumlah teman guru pun gagal menerka rumusnya. Padahal kepada teman-teman guru, saya berikan umpan yang lebih jelas. Itu pun tidak berhasil. 

Kali ini Daffa membuktikan bahwa ia mampu. Dugaan saya terbantahkan. Daffa berhasil adalah fakta di depan mata yang tak terbantahkan. Memang sulit untuk bisa memahami, mengapa ia dengan mudah menemukannya. Untung saya teringat dengan pernyataan Ustaz Haris, Direktur LPI Hidayatullah. Fitrah setiap anak adalah pembelajar tangguh. (A1)

Bagikan:
One thought on “Tanpa Penjelasan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *